Ruang sidang itu dingin.
Bukan dingin yang tidak nyaman — AC-nya diatur pada suhu yang seharusnya netral, suhu yang sudah diperhitungkan agar semua orang di dalamnya merasa cukup waspada tanpa cukup nyaman untuk lengah. Anne duduk di barisan ketiga dari depan, di sisi yang diperuntukkan bagi keluarga terdakwa, dan sejak ia masuk dua puluh menit sebelum sidang dimulai, ia sudah memperhatikan bahwa dingin itu tidak datang hanya dari mesin pendingin udara.
Ada dingin jenis lain di ruangan ini. Dingin yang berasal dari cara orang-orang bergerak di dalamnya — efisien, tujuan, tidak ada gerakan yang tidak perlu. Panitera yang menata dokumen di mejanya dengan cara yang sudah ia lakukan ribuan kali sehingga tangannya bergerak tanpa menunggu instruksi dari kepalanya. Jaksa yang membuka map-nya di meja sebelah kiri tanpa sekali pun melihat ke arah kursi terdakwa. Hakim yang belum masuk tapi yang kehadirannya sudah terasa dari cara semua orang di ruangan menyesuaikan postur mereka ketika jam menunjukkan sepuluh menit lagi.
Sistem yang berjalan. Bukan untuk menemukan kebenaran, Anne sudah tahu itu sekarang — sistem yang berjalan untuk menyelesaikan sesuatu yang sudah dimulai.
---
Jailani masuk dari pintu samping, diapit dua petugas, dengan Wirawan berjalan satu langkah di belakangnya.
Anne mengamatinya dari jarak tiga baris. Caranya berjalan belum berubah — punggung lurus, langkah yang terukur, tidak terburu dan tidak memperlambat diri. Ia tidak mencari mata Anne ketika pertama masuk, tapi ketika duduk dan mulai merapikan kertas-kertas di depannya bersama Wirawan, pada satu titik matanya bergerak ke arah Anne, dan satu detik berlalu di antara mereka — bukan senyum, bukan anggukan, hanya kontak yang berarti lebih dari yang bisa diterjemahkan ke dalam gerakan apa pun.
Anne tidak menggerakkan wajahnya.
Di dalam dadanya sesuatu sedang bergerak, tapi itu miliknya sendiri dan tidak perlu dilihat siapa pun.
---
Persidangan itu sudah berlangsung tiga bulan — tiga bulan yang Anne ikuti dari setiap sudut yang bisa ia masuki, baik yang terbuka untuk umum maupun yang harus ia tembus dengan cara lain. Ia sudah hadir di sebelas sidang sebelumnya, sudah membaca setiap berkas yang bisa ia akses, sudah mengisi empat jurnal tulis tangan dengan catatan, pertanyaan, dan garis-garis yang menghubungkan satu titik ke titik lain dalam pola yang semakin hari semakin tidak bisa ia sebut kebetulan.
Yang ia temukan dalam tiga bulan itu bukan hanya kontradiksi tanggal yang sudah ia ketahui sebelumnya. Ada lebih dari itu — layer demi layer yang semakin ia kupas semakin menunjukkan bahwa ini bukan pekerjaan yang dilakukan tergesa-gesa atau oleh orang yang tidak mengerti cara kerja sistem.
Ini pekerjaan orang dalam.
Buktinya bukan satu hal besar yang dramatis — tidak ada momen tunggal di mana semuanya tiba-tiba terlihat jelas. Buktinya adalah akumulasi dari hal-hal kecil yang masing-masing bisa dijelaskan secara individual tapi yang bersama-sama membentuk gambar yang terlalu rapi untuk tidak disengaja: dokumen yang sampai ke tangan auditor sebelum ada permintaan resmi, saksi yang pernyataannya berubah antara wawancara pertama dan kedua dengan cara yang terlalu konsisten untuk disebut lupa, celah prosedural yang dieksploitasi dengan presisi yang butuh pengetahuan mendalam tentang prosedur itu sendiri.
Anne mengetahui semua ini. Wirawan mengetahui sebagian. Jailani mengetahui kerangka besarnya.
Yang tidak ada di tangan mereka adalah nama. Bukti yang menghubungkan pola itu ke seseorang yang spesifik, seseorang yang nyata, seseorang yang bisa dihadapkan ke meja yang sama dengan Jailani dan diminta mempertanggungjawabkan apa yang telah ia atur.
Tiga bulan, dan nama itu masih bersembunyi di balik lapisan-lapisan yang dirancang dengan sangat baik untuk menyembunyikannya.
---
Ketua majelis hakim masuk. Semua orang berdiri. Anne berdiri.
Prosesi itu berlangsung seperti prosesi — terurut, terpola, setiap bagiannya sudah ada di tempat yang sudah ditentukan dan bergerak pada waktu yang sudah ditentukan. Anne mengamatinya dengan bagian dari dirinya yang selalu mengamati, bahkan ketika bagian lainnya sedang melakukan hal lain.
Jaksa membacakan tuntutan. Delapan tahun. Denda yang jumlahnya tertulis dalam angka panjang yang Anne dengar tapi tidak benar-benar masuk karena ada suara lain di kepalanya yang lebih keras — suara yang sedang menghitung kemungkinan, menimbang variabel, mencari celah.
Wirawan menyampaikan pleidooi — pembelaan akhir yang ia dan Jailani susun bersama selama berminggu-minggu. Anne hafal isinya karena ia yang membantu menyusun sebagian argumennya, terutama bagian yang menyangkut kontradiksi prosedural dan ketidakkonsistenan dokumen. Wirawan menyampaikannya dengan tenang dan sistematis — itulah kelebihannya, ketenangan yang tidak bisa digoyahkan bahkan di ruangan yang sedang menentukan nasib kliennya.
Lalu giliran Jailani bicara.
---
Ia berdiri dengan punggung yang lurus.
Anne menahan napas tanpa sadar.
"Yang Mulia." Suara Jailani terdengar sama seperti suaranya di rapat-rapat kabinet yang dulu Anne kadang saksikan dari rekaman — tenang, jelas, tidak membuang kata. "Saya berdiri di sini bukan untuk memohon keringanan. Saya berdiri di sini untuk menyatakan, dengan segala pertanggungjawaban yang bisa saya berikan, bahwa saya tidak melakukan apa yang saya dituduhkan."
Ruangan itu sunyi. Sunyi yang berbeda dari sunyi prosedural sebelumnya — sunyi yang berisi sesuatu.
"Program E adalah program yang saya rancang, saya pertanggungjawabkan, dan saya jalankan dengan standar yang bisa diverifikasi di setiap tahapnya. Setiap keputusan punya catatannya. Setiap pemilihan punya pertimbangannya. Setiap rupiah yang dikelola punya jejaknya." Ia berhenti sebentar. "Surat keputusan yang menjadi dasar dakwaan ini bukan produk dari proses yang saya ikuti, karena saya tidak pernah menandatanganinya. Saya tidak bisa mengaku bersalah atas sesuatu yang tidak saya lakukan, meski tekanan untuk melakukannya sudah sangat besar."
Kalimat terakhir itu — *meski tekanan untuk melakukannya sudah sangat besar* — membuat sesuatu bergerak kecil di ruangan itu. Beberapa kepala yang tidak menoleh selama persidangan sedikit bergerak. Jurnalis di bagian belakang mengetik lebih cepat.
"Saya percaya pada sistem hukum ini," lanjut Jailani, dan Anne mendengar di kalimat itu sesuatu yang hanya bisa ia dengar karena ia mengenal suara ini lebih dari dua puluh tahun — sesuatu di balik kata-kata yang terpilih dengan hati-hati itu yang bukan keyakinan penuh melainkan lebih seperti seseorang yang memilih untuk berperilaku seolah-olah masih percaya karena tidak tahu apa yang akan terjadi jika ia berhenti. "Dan saya percaya bahwa sistem ini, pada akhirnya, akan menemukan jalan menuju kebenaran. Meski jalannya tidak selalu lurus."
Ia duduk kembali.