JAIL AND E

Kukuh Ageng Pribowo
Chapter #6

Dua Pintu #6

Penjara Sukamiskin berdiri di antara pohon-pohon tua yang sudah ada lebih lama dari sebagian besar orang yang pernah berjalan di bawahnya — pohon-pohon yang tidak tahu dan tidak perlu tahu bahwa di balik tembok di sebelah mereka, waktu bergerak dengan cara yang berbeda dari di luar. Lebih lambat di beberapa tempat. Lebih berat di tempat lain. Tapi selalu terasa berbeda, selalu terasa seperti sesuatu yang bukan milik orang yang sedang merasakannya.


Jailani tiba pada sore hari, dengan van yang tidak punya jendela yang cukup besar untuk melihat ke mana perginya, hanya cukup untuk membiarkan cahaya masuk dalam irisan tipis yang bergerak di lantai setiap kali van berbelok. Ia duduk dengan punggung lurus — kebiasaan yang tidak bisa dimatikan hanya karena situasinya berubah — dan menatap lantai van dengan pikiran yang bergerak terlalu cepat untuk bisa ia ikuti satu per satu.


Amarah. Itu yang paling keras. Amarah yang bersih dan tidak meminta maaf, seperti yang ia katakan kepada Anne di lorong pengadilan tadi — amarah yang muncul bukan dari kepanikan tapi dari keyakinan yang sangat jelas bahwa sesuatu yang salah telah terjadi dan sedang dibiarkan terjadi oleh orang-orang yang seharusnya tidak membiarkannya. Ia tidak bersalah. Ia tahu itu dengan cara yang tidak butuh pembuktian untuk ia percayai — bukan karena arogan, tapi karena ia ada di sana, ia yang membuat setiap keputusan itu, ia yang tahu persis bagaimana semuanya berjalan dan tidak berjalan, dan tidak ada satu pun dari memori itu yang konsisten dengan apa yang tertulis dalam vonis tadi.


Di balik amarah itu ada sesuatu lain yang tidak ia akui dengan mudah bahkan kepada dirinya sendiri: rasa tidak percaya yang dalam. Bukan tidak percaya pada sistem secara abstrak — Jailani bukan orang yang naif tentang bagaimana dunia bekerja. Tapi ada perbedaan antara tahu secara intelektual bahwa sistem bisa dimanipulasi dan merasakannya secara langsung sebagai orang yang sedang dimanipulasinya. Perbedaan itu, ia temukan malam ini, jauh lebih besar dari yang pernah ia bayangkan.


Van berhenti.


Pintu dibuka.


Udara sore masuk — lebih dingin dari yang ia duga, dengan bau tanah dan sesuatu yang lebih tua, sesuatu yang tidak bisa ia beri nama tapi yang langsung memberitahunya bahwa ia tidak lagi di tempat yang sama dengan tadi pagi.


---


Proses masuk berlangsung dengan cara yang dirancang untuk mengingatkan seseorang bahwa ia bukan lagi dirinya sendiri dalam pengertian yang selama ini ia pahami.


Pakaiannya diganti. Barang-barangnya — dompet, jam tangan yang sudah menemaninya dua puluh tahun, ponselnya — dimasukkan ke kantong plastik bening yang diberi label dan disimpan di belakang meja yang tidak menghadap ke arahnya. Ia mengisi formulir yang memintanya mendeskripsikan dirinya dalam kolom-kolom yang sudah ditetapkan sebelumnya, dan Jailani, yang selama tiga tahun mengelola kementerian dengan membangun sistem yang menghormati kompleksitas, mendapati bahwa tidak ada satu pun kolom di formulir itu yang cukup untuk mendeskripsikan siapa ia sebenarnya. Hanya nama. Umur. Nomor registrasi yang mulai sekarang akan disebut lebih sering dari namanya.


Petugas yang memrosesnya tidak ramah dan tidak tidak ramah. Ia hanya efisien — melakukan apa yang perlu dilakukan dengan cara yang sudah ia lakukan ratusan kali, mungkin ribuan, tanpa perlu tahu atau peduli bahwa orang yang berdiri di depannya hari ini berbeda dari yang kemarin atau yang besok. Di mata sistem ini, semua yang masuk dari pintu yang sama keluar menjadi hal yang sama: napi baru, nomor baru, satu lagi dalam daftar yang sudah panjang.


Jailani membiarkan semua itu berlangsung tanpa perlawanan. Bukan karena ia menyetujuinya — tapi karena ia sudah cukup berpengalaman untuk tahu kapan perlawanan berguna dan kapan ia hanya membuang energi yang akan ia butuhkan nanti. Ini bukan tempatnya untuk melawan. Ini adalah tempat untuk mengamati, memahami, dan menyimpan tenaga untuk hal-hal yang lebih penting.


Atau begitulah yang ia pikirkan.


Yang tidak ia perhitungkan adalah bahwa penjara tidak bekerja dengan logika ekonomi energi seperti itu — bahwa ada cara-cara tertentu tempat ini menguras seseorang yang tidak bisa dicegah hanya dengan keputusan untuk tidak membiarkannya.


---


Selnya berada di lantai dua, koridor barat, nomor yang tidak perlu ia hafal karena dalam beberapa hari ia akan tahu jalannya tanpa berpikir. Ukurannya tiga kali empat meter — Jailani mengukurnya dengan langkah pertama kali ia masuk, kebiasaan lama dari hari-hari ketika ia selalu perlu memahami ruang sebelum ia bisa bekerja di dalamnya.


Tiga kali empat meter. Lebih kecil dari kamar mandi di rumah dinasnya.


Ada tempat tidur — kasur tipis di atas besi, selimut yang sudah dicuci terlalu banyak kali sehingga warnanya tidak lagi bisa dipastikan aslinya apa. Ada meja kecil yang menempel di dinding, cukup untuk satu orang duduk dengan satu buku di depannya jika bukunya tidak terlalu tebal. Ada lampu di langit-langit yang tidak bisa dimatikan dari dalam. Ada jendela kecil dengan jeruji yang membiarkan udara masuk tapi tidak cukup lebar untuk memperlihatkan lebih dari sepotong langit.


Jailani berdiri di tengah sel itu dan melihat semuanya dalam satu putaran lambat.


Lalu ia duduk di tepi kasur, meletakkan kedua tangannya di pahanya, dan duduk diam.


Di luar sel, suara-suara penjara berlangsung dengan cara yang tidak peduli apakah ia sedang menyesuaikan diri atau tidak: langkah petugas di lorong, suara televisi dari arah yang tidak jelas, percakapan yang tidak bisa ia bedakan kata-katanya, pintu besi yang ditutup di suatu tempat dengan suara yang bergema lebih lama dari yang seharusnya perlu.


Jailani duduk di tengah semua suara itu dan merasakan sesuatu yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya dalam bentuk yang sepure ini: ketidakberdayaan.


Lihat selengkapnya