JAIL AND E

Kukuh Ageng Pribowo
Chapter #7

Penanya #7

Markum bukan orang yang mudah diperhatikan.


Bukan karena ada yang kurang dari penampilannya — ia berseragam seperti sipir yang lain, berjalan di lorong yang sama, membawa rantai kunci yang bunyinya sama dengan rantai kunci yang lain. Tapi ada sesuatu dalam caranya bergerak yang tidak menarik perhatian, yang tidak meminta mata orang untuk berhenti padanya — bukan karena ia sengaja menyembunyikan diri, melainkan karena ia sudah lama menemukan cara untuk ada di suatu tempat tanpa membuat tempat itu terganggu oleh kehadirannya.


Jailani memperhatikannya pertama kali bukan karena Markum melakukan sesuatu yang menarik perhatian, melainkan justru karena ia tidak melakukannya.


---


Ini minggu keempat Jailani di sini.


Minggu keempat yang berbeda dari tiga minggu sebelumnya bukan dalam hal yang besar — jadwalnya sama, tugasnya sama, wajah-wajah di sekitarnya sama. Tapi ada sesuatu yang mulai bergeser dalam cara ia mengalami semua itu, pergeseran yang tidak bisa ia tunjuk dengan tepat tapi yang ada dan yang terasa paling jelas di momen-momen paling kecil: cara ia berdiri di antrean sarapan, cara ia meletakkan nampannya, cara ia menyalin formulir di bagian administrasi tanpa bagian dari otaknya yang terus mendebat relevansi pekerjaan itu.


Ia mulai berhenti melawan hal-hal yang tidak bisa dilawannya.


Belum pasrah — bukan itu. Masih ada amarah di sana, masih ada keyakinan bahwa ini tidak seharusnya terjadi dan bahwa suatu hari harus ada yang mempertanggungjawabkannya. Tapi amarah itu mulai menemukan tempatnya yang lebih efisien, seperti api yang tidak perlu membakar semua yang ada di sekitarnya untuk tetap menyala.


---


Markum pertama kali berhenti di depan sel Jailani pada suatu sore di hari Rabu. Jailani sedang membaca tapi tidak benar-benar membaca — matanya bergerak di atas teks tapi pikirannya ada di tempat lain. Langkah yang berhenti di luar selnya berbeda dari langkah petugas yang biasanya lewat karena tujuan — langkah ini berhenti bukan karena ada yang perlu dilakukan di sini, melainkan karena memilih untuk berhenti.


Jailani mengangkat matanya dari bukunya.


Markum berdiri di luar jeruji, satu tangan memegang rantai kuncinya, satu tangan bebas. Usianya sulit ditentukan dari wajahnya yang tidak banyak berubah ekspresi — bisa lima puluh, bisa juga kurang. Matanya tenang dengan cara yang berbeda dari tenang yang dipersiapkan — bukan tenang yang dipelajari sebagai profesionalisme, tapi tenang yang terbentuk dari bertahun-tahun tidak merasa perlu terburu-buru.


"Lagi baca apa?" tanyanya.


Bukan sapaan. Langsung pertanyaan, dengan nada yang sama yang mungkin ia pakai untuk menanyakan waktu atau arah.


Jailani menunjukkan sampul bukunya — buku tentang kebijakan inovasi Asia Timur yang Wirawan bawakan.


Markum membaca judulnya dari jarak yang agak jauh, mengangguk pelan. "Bagus bukunya?"


"Cukup."


"Cukup karena bagus atau cukup karena tidak ada yang lain?"


Jailani berhenti sebentar. Pertanyaan itu lebih tajam dari tampilannya. "Sedikit keduanya."


Markum mengangguk lagi dengan cara yang sama. Lalu ia melanjutkan langkahnya, rantai kuncinya berdenting pelan di lorong, sampai suaranya menghilang di tikungan.


Jailani menatap halaman bukunya yang terbuka. Lalu menutupnya.


Lihat selengkapnya