Kabar itu datang pada hari Rabu.
Bukan melalui kunjungan — Wirawan baru datang minggu lalu dan jadwal berikutnya masih dua minggu lagi. Bukan melalui surat — surat Anne biasanya datang hari Selasa dan minggu ini sudah datang, isinya tentang tanaman yang perlu dipindah pot dan Bibi Ratna yang mampir membawa sup yang katanya kurang garam. Kabar itu datang melalui jalur yang paling tidak bisa ia persiapkan dirinya untuk menerima: dari mulut sesama napi yang punya akses ke informasi yang Jailani sendiri belum miliki.
Namanya Ferdi. Sudah tiga tahun di sini, punya cara tertentu mendapatkan informasi yang beredar di dunia luar lebih cepat dari yang seharusnya mungkin dari balik tembok ini. Ia menyampaikannya dengan cara orang menyampaikan hal yang tidak ia tahu apakah akan disambut sebagai kabar baik atau buruk: hati-hati, tapi langsung.
"Pak Jailani, saya dengar prosedur bandingnya ada masalah. Ditolak karena kelengkapan dokumen."
Jailani berdiri di antrian makan malam ketika kalimat itu masuk. Tidak langsung merespons.
"Darimana kamu dengar itu?"
"Ada yang ngobrol tadi siang. Saya tidak tahu persis sumbernya." Ferdi mengangkat bahunya. "Mungkin salah. Tapi saya pikir lebih baik Bapak tahu."
---
Malam itu Jailani tidak bisa makan.
Bukan karena makanannya — makanan di sini tidak pernah baik tapi sudah cukup ia terima sebagai kondisi bukan sebagai masalah. Ia membawa nampannya ke meja, duduk, dan melihat makanan di hadapannya tanpa bisa menemukan cara untuk memulai.
*Ditolak karena kelengkapan dokumen.*
Kalimat yang dalam pengertian hukumnya bisa berarti banyak hal. Ia tidak tahu mana yang benar karena satu-satunya informasi yang ia punya adalah informasi yang datang dari seseorang yang mendapatkannya dari percakapan yang tidak jelas asal-usulnya.
Yang membuat ia tidak bisa makan bukan ketidakpastian informasinya.
Yang membuat ia tidak bisa makan adalah apa yang dirasakan di dadanya ketika mendengar kalimat itu — sesuatu yang sudah ia kira sudah mulai menemukan tempatnya yang lebih tenang, sesuatu yang sudah beberapa minggu terakhir terasa lebih seperti tanah daripada seperti api, tiba-tiba kembali dengan cara yang tidak ia undang dan tidak ia siapkan.
Amarah.
Bukan amarah yang samar atau yang bisa diabaikan. Amarah yang konkret dan yang punya nama yang jelas: amarah orang yang sudah bersabar, yang sudah belajar cara menunggu tanpa menguras dirinya sendiri, yang sudah percaya bahwa proses yang benar akan bergerak ke arah yang benar — dan yang tiba-tiba diberitahu bahwa mungkin proses itu tidak bergerak ke mana pun karena dokumen yang tidak lengkap.
---
Ia kembali ke selnya sebelum jam makan selesai.
Di sel, ia duduk di tepi kasurnya.
Menatap langit-langit.
Retakan yang sudah ia hafal di sudut kiri. Lampu yang tidak bisa dimatikan. Semua yang sama persis seperti kemarin.
Tapi malam ini semua itu terasa seperti yang selalu terasa di minggu-minggu pertama: penjara. Tempat yang mengurungnya bukan karena ia bersalah melainkan karena ada yang merancang agar ia ada di sini, dan yang ternyata bahkan dari dalam pun masih bisa membuat proses yang seharusnya membebaskannya berjalan dengan cara yang tidak bisa ia kendalikan.
Ia mengepal tangannya di pahanya.
Membuka lagi.
Mengepal lagi.
---
Langkah Tomo terdengar di lorong.