JAIL AND E

Kukuh Ageng Pribowo
Chapter #9

Cara Membuktikan Bahwa Seseorang Tidak Mencuri #9

Wirawan datang ke rumah pada suatu Selasa pagi dengan tas kulitnya yang sudah mengkilap di sudut-sudutnya dan ekspresi yang sama seperti biasanya — tidak membawa kabar baik atau buruk, hanya membawa kenyataan yang perlu dihadapi bersama.


Anne sudah menyiapkan kopi sebelum ia tiba. Tidak karena tahu waktunya dengan tepat tapi karena sudah cukup sering bekerja bersama Wirawan untuk tahu bahwa ia selalu datang tepat waktu.


Mereka duduk di meja kerja Anne — bukan di ruang tamu, karena rapat di ruang tamu terasa seperti kunjungan sosial dan ini bukan kunjungan sosial. Di atas meja: tumpukan dokumen yang sudah Anne beri kode warna, dua laptop, dan jurnal tulis tangan keempat yang sudah terisi tiga perempat halamannya.


Wirawan meletakkan map-nya di meja, membukanya, lalu berhenti sebentar menatap peta dokumen yang Anne buat di papan di belakang mejanya — potongan-potongan kertas yang dihubungkan dengan benang merah dan biru, nama-nama dan tanggal-tanggal dan pertanyaan-pertanyaan yang ditulis dengan tulisan tangan rapat.


"Ini semua kamu yang buat?" tanyanya.


"Dua bulan terakhir," kata Anne.


Wirawan menatap papan itu sebentar lagi dengan ekspresi yang tidak mudah dibaca — tapi Anne sudah cukup mengenal wajah itu untuk tahu bahwa di baliknya ada sesuatu yang lebih dekat ke lega, seperti orang yang selama ini menanggung sesuatu sendirian dan baru saja menemukan bahwa ternyata ada yang menanggungnya bersama.


"Hari ini kita mulai dari mana?" tanyanya.


"Dari uangnya," kata Anne.


---


Ini adalah bagian yang paling membosankan dan paling penting sekaligus.


Anne tahu itu sejak awal — bahwa membongkar konspirasi politik tidak selalu dimulai dari pertemuan gelap atau dokumen rahasia yang tiba-tiba jatuh ke tangan yang tepat. Sebagian besar dimulai dari angka. Dari kolom-kolom yang panjang dan membosankan yang kebanyakan orang tidak mau membacanya karena tidak ada yang dramatis di sana, tapi yang ketika dibaca dengan cara yang benar oleh orang yang tahu cara membacanya, bercerita tentang hal-hal yang tidak bisa diungkap dengan cara lain.


Dalam dua bulan terakhir, Anne menyusuri jejak keuangan Jailani. Bukan dengan mencari kejanggalan yang mencolok, karena kejanggalan yang mencolok sudah pasti sudah ditutupi. Ia mencari ketidakkonsistenan kecil. Anomali yang terlalu kecil untuk diperhatikan secara individual tapi yang bersama-sama membentuk pola.


Yang ia temukan bukan anomali ke arah yang dituduhkan.


Yang ia temukan adalah sebaliknya.


---


Anne mulai dari yang paling jauh — rekam jejak finansial Jailani dari sebelum masuk perguruan tinggi sampai kini, sejauh yang bisa ia akses atau rekonstruksi. Jailani lulus dengan beasiswa penuh untuk program doktoralnya di luar negeri — tidak ada pengeluaran keluarga di sana. Setelah kembali, ia memulai karier di sektor konsultasi teknologi — penghasilan yang besar. Lima tahun di konsultasi, ia bergabung dengan dua startup teknologi sebagai co-founder — satu yang gagal, satu yang berhasil dan kemudian diakuisisi dengan nilai yang signifikan.


Dari akuisisi itu, Jailani mendapat porsinya sebagai co-founder.


Anne menyusun angkanya di atas kertas. Angkanya masuk akal — lebih dari masuk akal. Angkanya menjelaskan rumah yang mereka beli sebelum Jailani dilantik, investasi-investasi yang sudah ada sebelum jabatan, aset-aset yang selama ini menjadi bagian tuduhan tapi yang sebenarnya punya sumber yang bisa ditelusuri dan yang tidak ada hubungannya dengan Program E.


Ini yang kemudian Anne bandingkan dengan yang terjadi selama Jailani menjabat.


Gaji menteri adalah angka yang sudah diketahui publik. Tunjangan-tunjangannya juga. Yang lebih menarik: pengeluaran mereka selama Jailani menjabat tidak lebih besar dari pengeluaran mereka sebelumnya. Bahkan dalam beberapa kategori sedikit lebih kecil.


Lihat selengkapnya