JAIL AND E

Kukuh Ageng Pribowo
Chapter #10

Sebelum Retak, Ada Bunyi #10

Surat itu tidak datang.


Bukan surat penting — bukan dokumen hukum, bukan surat resmi dari Wirawan, bukan sesuatu yang berkaitan langsung dengan kasusnya. Hanya surat dari Anne yang sudah Jailani tunggu sejak minggu lalu, surat yang Anne bilang akan ia kirim dalam kunjungan Wirawan sebelumnya, surat yang isinya mungkin hanya hal-hal biasa — kabar tanaman di teras, hal-hal kecil dari keseharian.


Hari Selasa adalah hari distribusi surat. Jailani tahu ini sejak minggu pertama — petugas yang mendistribusikan membawa setumpuk amplop ke lorong dan menyebutkan nama satu per satu di depan masing-masing sel dengan cara yang datar dan cepat. Jailani selalu mendengarkan dari tepi kasurnya pada hari Selasa, dengan cara yang ia coba buat terlihat tidak seperti mendengarkan tapi yang pasti terlihat seperti mendengarkan.


Selasa ini namanya tidak disebut.


Ia kembali ke bukunya. Melanjutkan dari halaman yang sudah ia baca tiga kali tanpa benar-benar membacanya.


Surat itu mungkin terlambat di jalan. Mungkin ada proses pemeriksaan yang memakan waktu lebih lama dari biasanya. Ada banyak penjelasan yang masuk akal.


Ia tahu itu.


Tapi tahu sesuatu secara rasional dan merasakannya secara emosional adalah dua hal yang di dalam sini jaraknya jauh lebih besar dari yang pernah ia sadari di luar.


Di sini tidak ada langkah selanjutnya.


Hanya ruang antara tahu dan rasa, yang hari ini terasa lebih lebar dari biasanya.


---


Ia pergi ke sesi kerja siang dengan pikiran yang sudah tidak sepenuhnya di sini sejak pagi.


Pekerjaan hari itu adalah membantu memindahkan arsip lama dari rak kayu yang sudah lapuk ke rak besi yang baru dipasang — pekerjaan fisik yang tidak butuh banyak pikiran. Tapi hari ini kepala itu tidak mau diajak bekerja sendiri dengan cara yang produktif.


Surat itu tidak datang.


Hanya itu. Hanya satu hal yang tidak terjadi — tapi hari ini itu cukup untuk membuka sesuatu yang sudah menunggu di bawah permukaan.


Dua bulan. Delapan minggu. Lima puluh enam hari.


Ia menghitung tanpa sadar, sambil mengangkat dus arsip dari lantai ke rak, dan angka itu tiba-tiba terasa bukan seperti waktu yang sudah dilalui melainkan seperti beban yang baru ia sadari sudah diam-diam ditumpuk di atas punggungnya sehelai demi sehelai, tak terasa karena ringan masing-masingnya tapi yang sekarang, ketika ia berhenti dan merasakannya, ternyata sudah sangat berat.


Lima puluh enam hari tidak tidur di kasurnya sendiri.


Lima puluh enam hari tidak bisa pergi ke mana pun yang ia mau.


Lima puluh enam hari menyaksikan hidupnya berjalan dari balik kaca.


Lima puluh enam hari menahan sesuatu yang hari ini tidak mau ditahan lagi.


---


Momen itu datang bukan dengan dramatis.


Jailani sedang mengangkat dus terakhir — dus yang lebih berat dari yang lain karena berisi bundel-bundel dokumen lama — ketika satu bundel terlepas dari pengikatnya yang sudah lapuk dan jatuh ke lantai, menyebarkan dokumen-dokumen ke berbagai arah.


Ia berdiri melihat dokumen-dokumen yang berserakan itu.


Ada sesuatu dalam pemandangan itu — dokumen-dokumen yang tidak ada yang membacanya, yang tidak penting tapi yang harus tetap ada karena sistem mengatakan harus, yang berserakan di lantai ruangan yang tidak ada jendela yang cukup besar untuk memperlihatkan langit — ada sesuatu dalam pemandangan itu yang menghantam sesuatu di dalam dadanya dengan cara yang tidak proporsional dengan ukuran kejadiannya.


Ia jongkok. Mulai memunguti dokumen-dokumen itu satu per satu, menatanya kembali, tangannya bergerak otomatis sementara sesuatu di dalam dadanya bergerak ke arah yang berlawanan — bergerak ke atas, ke tempat yang tidak bisa lagi ia kendalikan dengan cara yang selama dua bulan ini berhasil ia kendalikan.


Surat itu tidak datang.


Ia tidak bersalah tapi ada di sini.


Anne ada di luar sana mengerjakan sesuatu yang tidak bisa ia bantu dari sini.


Program E — tiga tahun kerja kerasnya, bukan hanya pekerjaannya tapi keyakinannya — sekarang dipakai sebagai nama dari sesuatu yang tidak pernah ada.


Dan di suatu tempat di luar tembok ini, orang yang merancang semua itu masih berjalan di bawah langit yang sama, masih menghirup udara yang sama, masih hidup dengan cara yang tidak terganggu oleh apa yang sudah ia lakukan kepada orang lain.


Dokumen terakhir sudah di tangannya. Ia berdiri.


Dan sesuatu di dalam dadanya yang selama dua bulan ini ia jaga dengan sangat ketat agar tidak keluar di tempat yang salah dan di waktu yang salah — sesuatu yang ia namai amarah tapi yang sekarang ia sadari lebih besar dari amarah, lebih tua dari amarah, lebih berat dari amarah — sesuatu itu akhirnya bergerak ke atas dengan kecepatan yang tidak bisa ia hentikan.

Lihat selengkapnya