JAIL AND E

Kukuh Ageng Pribowo
Chapter #11

Rumah #11

Hujan turun sejak sore dan baru berhenti menjelang isya, meninggalkan udara yang lebih dingin dari biasanya dan bocoran kecil di sudut langit-langit sel yang menetes ke ember plastik dengan bunyi yang teratur — *tik, tik, tik* — seperti detak jam yang tidak terburu ke mana-mana.


Jailani berbaring menghadap bunyi itu.


Sudah tiga bulan ia mendengar bunyi itu setiap kali hujan turun — sudah hafal intervalnya, sudah bisa memperkirakan kapan bunyi berikutnya datang sebelum datang. Ada sesuatu dalam kepastian yang sangat kecil itu yang berbeda dari semua ketidakpastian yang mengelilinginya: proses banding yang tidak ada kepastian waktunya, Anne yang sedang mengerjakan sesuatu yang tidak selalu bisa ia bayangkan bentuknya dari sini, nama-nama dan dokumen-dokumen yang bergerak di luar sana tanpa ia bisa menyentuhnya.


Tapi bunyi tetesan air itu selalu datang.


*Tik.*


Selalu dengan jeda yang sama.


*Tik.*


Dan malam ini, tanpa alasan yang bisa ia tunjuk dengan jelas, bunyi itu terasa seperti satu-satunya hal di dunia yang sedang berbicara kepadanya tanpa menginginkan apa pun darinya.


---


Markum lewat pukul delapan dengan rantai kuncinya yang berdenting pelan di lorong. Langkahnya melambat di depan sel Jailani, cara yang sudah menjadi semacam kebiasaan di antara keduanya tanpa pernah disepakati secara eksplisit.


Malam ini Jailani sedang tidak tidur.


Dan ada sesuatu yang malam ini tidak ia ketahui cara menahannya sendiri.


"Pak Markum," katanya pelan.


Langkah berhenti. Lalu suara sandal Markum yang mendekati jeruji, dan kemudian wajahnya yang selalu tampak sama saja di bawah cahaya lampu lorong.


"Belum tidur?"


"Belum bisa."


Markum bersandar di jeruji dengan cara yang sudah Jailani kenal — tidak duduk, tidak berdiri sepenuhnya tegak, posisi di antara keduanya yang menunjukkan ia ada tapi tidak menuntut apa pun. Ia mengeluarkan sebungkus kacang rebus dari saku celananya dan mulai memakannya dengan cara orang yang tidak butuh alasan khusus untuk melakukan sesuatu yang sederhana.


Keheningan yang tidak canggung ada di antara mereka untuk beberapa saat.


"Bapak saya dulu juga susah tidur," kata Markum akhirnya, tidak kepada siapa-siapa khususnya. Lebih seperti mengeluarkan sesuatu yang sedang ada di kepalanya. "Katanya pikirannya terlalu ramai. Saya waktu kecil tidak ngerti maksudnya. Sekarang ngerti."


"Pikiran Pak Markum juga ramai?"


"Kadang. Tapi sudah beda jenisnya dari dulu." Ia menawarkan kacangnya ke arah jeruji. Jailani menggeleng pelan. "Pak Jailani lagi mikirin apa?"


Pertanyaan yang sudah Jailani dengar berkali-kali dari Markum, dengan cara yang selalu sama — bukan pertanyaan yang butuh jawaban tertentu, hanya pertanyaan yang membuka ruang kalau ada yang perlu dibuka.


Malam ini ruangnya perlu dibuka.


Jailani duduk dari posisi berbaring, meletakkan punggungnya ke dinding, dan menatap ember plastik di sudut yang masih menerima tetesan dari langit-langit.


"Bapak saya," katanya akhirnya.


Markum mengunyah kacangnya. Menunggu.


"Saya sudah lama tidak memikirkan beliau dengan cara yang jujur, maksud saya. Biasanya kalau saya memikirkan Bapak, saya memikirkan apa yang beliau alami — difitnah, dipecat, tidak ada yang membela. Saya memikirkan apa yang harus saya lakukan supaya tidak mengulang itu." Ia berhenti sebentar. "Tapi malam ini saya memikirkan apa yang beliau rasakan. Bukan apa yang terjadi padanya. Apa yang dirasakannya."


"Beda ya?"


"Beda." Jailani menatap ember itu. *Tik.* "Beliau tidak pernah cerita. Tidak kepada saya, tidak kepada siapa pun setahu saya. Beliau simpan semuanya sendiri sampai akhir."


"Kenapa Bapaknya tidak cerita, kira-kira?"


Pertanyaan yang tidak pernah Jailani tanyakan kepada dirinya sendiri secara langsung. Ia selalu mengasumsikan jawabannya — bahwa ayahnya tidak cerita karena tidak ada yang mau mendengarkan, atau karena malu, atau karena tidak tahu caranya. Tapi malam ini, di depan pertanyaan Markum yang polos itu, asumsi-asumsi itu terasa kurang tepat.


"Saya tidak tahu," katanya jujur.


"Mungkin Bapaknya tidak tahu caranya?" usul Markum, tanpa pretensi bahwa ini jawaban yang pasti benar. "Kadang orang tua zaman dulu begitu. Bukan tidak mau cerita. Tapi tidak diajari cara cerita."


*Tidak diajari cara cerita.*


Ia memikirkan ayahnya di dapur dengan kopi yang sudah dingin. Mengaduk terus sesuatu yang sudah tidak ada yang perlu diaduk. Bahu yang tidak pernah terlihat berguncang tapi yang Jailani, bahkan sebagai anak empat belas tahun, tahu sedang berguncang.


Ayahnya mungkin tidak tahu caranya. Dan Jailani — yang tumbuh dari ayah yang tidak tahu caranya — belajar dari teladan itu. Bukan dengan sadar, bukan dengan memilih. Hanya dengan menyerap cara seseorang menangani sesuatu yang berat: memendam, merapikan, memastikan permukaannya terlihat utuh meski yang di dalamnya sudah tidak.


Tiga puluh tahun.


Tiga puluh tahun melakukan hal yang sama, hanya dengan cara yang berbeda.


"Pak Markum," kata Jailani pelan. "Saya masuk ke sini dengan amarah yang sangat besar."


"Iya, kelihatan waktu pertama datang."


"Saya yakin saya tidak bersalah. Masih yakin sampai sekarang."


"Iya."


"Tapi amarah itu..." Jailani berhenti. Mencari kata yang tepat bukan karena tidak ada kata yang tepat tapi karena ada terlalu banyak dan ia harus memilih yang paling jujur. "Amarah itu bukan sepenuhnya tentang difitnah. Ada bagian dari amarah itu yang lebih tua dari kasus ini. Lebih tua dari jabatan menteri. Lebih tua dari Program E." Ia menatap tangannya di pangkuannya sendiri. "Saya pikir saya sudah marah sejak lama. Tapi tidak pernah kepada hal yang benar."


Markum tidak menjawab langsung. Ia makan kacangnya. Melempar cangkangnya ke tempat sampah kecil di ujung lorong dengan cara yang santai dan tidak melewatkan. Lalu menyeka tangannya di celana.


Lihat selengkapnya