Jailani bangun sebelum ketukan.
Bukan karena alarm — tidak ada alarm di sini, hanya ketukan besi di jeruji yang bergerak dari sel ke sel setiap pukul empat lima belas pagi. Tapi pagi ini, ketika ketukan itu akhirnya datang, Jailani sudah duduk di tepi kasurnya sejak beberapa menit sebelumnya, dengan kedua tangan di pahanya dan dengan pikiran yang tidak di mana-mana secara khusus tapi yang juga tidak mengambang tanpa arah.
Hanya ada.
Dengan cara yang berbeda dari cara biasanya ada di pagi hari.
---
Semalam terasa jauh dan dekat sekaligus.
Jauh karena percakapan dengan Markum — kata-kata yang keluar tentang ayahnya, tentang membuktikan sesuatu, tentang pertanyaan kepada siapa — terasa seperti sesuatu yang terjadi pada versi dirinya yang sudah sedikit berbeda dari yang sekarang duduk di tepi kasur ini. Bukan berbeda secara dramatis. Tapi berbeda dengan cara yang tidak bisa sepenuhnya ia jelaskan kecuali dengan mengatakan bahwa ada sesuatu yang sudah dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain.
Dekat karena efeknya masih ada — bukan dalam bentuk euforia atau keyakinan baru yang menyelimuti segalanya, tapi dalam bentuk yang jauh lebih sederhana dan jauh lebih tidak mencolok: ketenangan yang tidak meminta apa pun dari dirinya untuk dipertahankan.
Tapi kemudian ketukan besi itu datang dan lorong mulai bersuara dengan cara yang selalu sama setiap pagi dan Jailani berdiri untuk mengikuti ritme yang sudah menjadi ritmenya — dan di situlah ia menemukan bahwa ada jarak antara apa yang ia temukan semalam dan apa yang terjadi pagi ini.
---
Antrean sarapan.
Ia berdiri di sana dengan nampan di tangannya, menunggu giliran. Dan tiba-tiba — tanpa ada yang memicunya secara spesifik — ada sesuatu yang datang dari arah yang tidak ia antisipasi.
Keraguan.
Bukan keraguan tentang apa yang ia rasakan semalam — ia tidak meragukan itu, itu nyata dan ia tahu itu nyata. Tapi keraguan tentang sesuatu yang berbeda dan yang lebih tidak nyaman: apakah yang ia temukan semalam adalah sesuatu yang akan tetap ada, atau sesuatu yang ada hanya karena kondisi tertentu yang malam itu kebetulan terpenuhi.
Keheningan yang tepat. Percakapan dengan Markum yang tepat. Kelelahan yang tepat yang membuat pertahanan-pertahanannya turun cukup jauh untuk sesuatu yang lain bisa masuk.
Apakah itu akan ada lagi besok? Lusa? Minggu depan ketika ada kabar buruk dari luar atau ketika ada yang memancing amarah lama?
Ia membawa nampannya ke meja dan duduk dengan pertanyaan itu.
---
Ia tidak langsung menemukan jawabannya.
Yang ia temukan adalah Ferdi — sesama napi yang duduk di sebelahnya dengan cara yang tidak meminta izin tapi yang juga tidak terasa seperti pelanggaran, yang memulai makan dengan cara ekonomis dan cepat seperti biasanya, dan yang kemudian tanpa mengangkat mukanya dari nampannya berkata:
"Pak Jailani kelihatan beda pagi ini."
"Beda bagaimana?"
Ferdi berpikir sebentar. "Seperti seseorang yang baru selesai melakukan sesuatu yang susah."
Jailani menatapnya sebentar. "Bukan salah deskripsi."
"Susah yang baik atau susah yang buruk?"
Jailani memikirkan ini. "Belum tahu," katanya akhirnya. "Masih terlalu pagi untuk tahu."
Ferdi mengangguk dengan cara yang menunjukkan bahwa *belum tahu* adalah jawaban yang cukup masuk akal untuk jam sarapan, lalu kembali ke nampannya.
---
Jam kerja pagi terasa lebih lambat dari biasanya.
Jailani menyalin formulir dari satu format ke format lain, dan pikirannya tidak bisa sepenuhnya diam dari pertanyaan yang sudah datang di antrean sarapan tadi.
Dari pertanyaan itu, tanpa ia rencanakan, muncul pertanyaan yang lebih mendasar: apa artinya *tetap ada*? Apakah ia mengharapkan bahwa sesuatu yang ditemukan dalam satu malam percakapan akan menjadi sesuatu yang permanen dan tidak bisa diguncang, seperti properti yang sudah dibeli dan yang sekarang resmi menjadi miliknya?