Pesan itu masuk pada pukul sebelas malam.
Anne sedang di meja kerjanya — masih bekerja, atau mencoba bekerja, karena jam sebelas malam sudah lama berhenti menjadi jam yang berbeda dari jam-jam lain sejak ia mulai menyusuri semua ini. Lampu mejanya menyala, papan benang merah dan biru di belakangnya menyimpan semua yang sudah ia kumpulkan, dan di layar laptopnya ada dokumen yang sedang ia baca untuk kedua kalinya karena pertama kalinya pikirannya tidak sepenuhnya di sana.
Ponselnya bergetar.
Nomor tidak dikenal. Bukan nomor yang pernah meneleponnya sebelumnya — bukan nomor yang sama dengan yang sudah beberapa kali muncul di awal-awal investigasinya dulu. Nomor baru, yang berarti nomor yang dipakai sekali lalu dibuang, cara yang sudah cukup sering Anne baca dalam laporan-laporan investigasi untuk tahu bahwa orang yang menggunakannya tidak berniat meninggalkan jejak.
Pesannya singkat.
*Ibu Anne, kami menyarankan agar Ibu berhenti menggali hal-hal yang tidak perlu digali. Untuk kebaikan semua pihak, termasuk Ibu sendiri.*
Tidak ada nama. Tidak ada ancaman spesifik. Tidak ada instruksi yang bisa ditindaklanjuti.
Hanya itu. Dua kalimat yang dalam bahasa yang sangat sopan dan sangat tidak langsung menyampaikan sesuatu yang sangat tidak sopan dan sangat langsung.
Anne membacanya sekali. Lalu sekali lagi. Lalu meletakkan ponselnya menghadap ke bawah di atas meja dan duduk diam selama beberapa menit, menatap dokumen di layar laptopnya yang sudah tidak bisa ia baca lagi sekarang bukan karena konsentrasinya terganggu melainkan karena ada sesuatu yang lebih mendesak yang perlu ia duduki dulu sebelum melanjutkan apa pun.
---
Yang pertama ia rasakan bukan ketakutan.
Ini yang mengejutkannya — ia sudah mempersiapkan diri untuk ketakutan, sudah tahu dari awal bahwa momen seperti ini akan datang dan sudah mencoba mengantisipasi apa yang akan ia rasakan ketika datang. Ketakutan adalah respons yang masuk akal. Ketakutan adalah respons yang ia izinkan pada dirinya sendiri, yang tidak akan ia anggap sebagai kelemahan.
Tapi yang datang bukan ketakutan.
Yang datang adalah semacam konfirmasi — rasa yang dingin dan tenang dan tidak menyenangkan yang mengatakan bahwa ia sudah di jalur yang benar, bahwa sesuatu yang ia lakukan sudah cukup dekat dengan sesuatu yang penting sampai ada yang merasa perlu mengirim pesan seperti itu. Orang tidak repot-repot memperingatkan seseorang yang tidak ada di jalur yang benar. Orang tidak repot-repot memperingatkan seseorang yang tidak akan pernah sampai ke mana pun.
*Kami menyarankan agar Ibu berhenti menggali hal-hal yang tidak perlu digali.*
Kata *kami* itu. Bukan *saya*. Bukan orang pertama tunggal yang bisa menunjuk ke satu individu. *Kami* yang anonim, *kami* yang bisa berarti banyak atau sedikit, *kami* yang dirancang untuk terasa lebih besar dari satu orang sehingga tidak bisa dihadapi dengan satu langkah.
Anne mengambil buku catatannya — bukan untuk mencatat pesan itu, ia sudah mengambil screenshot sebelum meletakkan ponselnya — tapi karena ada sesuatu dalam gerakan itu, dalam cara memegang pulpen dan membuka halaman baru, yang menenangkannya dengan cara yang tidak bisa dijelaskan dengan logika tapi yang bekerja.
Ia menulis jam dan tanggal. Lalu deskripsi singkat tentang pesan itu — nomor, kata-kata yang dipakai, waktu datangnya, konteks apa yang sedang ia kerjakan sebelum pesan itu masuk.
Dokumentasi. Bukan karena butuh sekarang. Tapi karena orang yang sudah lama bekerja dengan data tahu bahwa hal-hal yang tidak didokumentasikan dengan benar pada waktu terjadinya akan kehilangan ketepatan detailnya, dan detail yang tepat selalu lebih berguna dari detail yang kira-kira.
---
Yang kemudian muncul, setelah konfirmasi itu mengendap, adalah sesuatu yang berbeda dari ketakutan dan berbeda dari keberanian.
Kesepian.
Bukan kesepian yang baru — kesepian sudah ada sejak lama di rumah yang terlalu besar ini, sejak Jailani dibawa pergi dan sejak satu per satu orang-orang yang biasanya ada di sekitar mereka mulai menjauh dengan cara yang tidak pernah cukup eksplisit untuk bisa dikonfrontasi langsung tapi yang pola keseluruhannya tidak bisa disalahartikan.
Tapi malam ini kesepian itu terasa berbeda dari biasanya. Lebih konkret. Lebih bisa ditunjuk.
Karena malam ini ada seseorang — atau beberapa seseorang, *kami* yang anonim itu — yang mengetahui bahwa ia sedang sendirian di rumah ini pada pukul sebelas malam, yang mengetahui nomor ponselnya, yang mengetahui cukup tentang apa yang sedang ia lakukan untuk merasa perlu mengirim pesan seperti itu.
Dan yang tidak mengirimkan pesan itu kepada siapa pun selain ia. Bukan kepada Wirawan. Bukan kepada orang lain yang terlibat dalam upaya ini.
Kepadanya seorang.
Karena mereka tahu — atau memperkirakan dengan akurasi yang tidak menyenangkan — bahwa Anne ada di sini sendirian. Bahwa tidak ada yang lain yang perlu diperingatkan karena tidak ada yang lain yang ada di sini.
---
Ia pergi ke dapur.
Bukan karena lapar atau haus — sudah terlalu malam untuk keduanya dan perutnya tidak meminta apa pun. Tapi karena berdiri dan bergerak adalah cara tubuhnya merespons sesuatu yang pikirannya belum siap untuk sepenuhnya proses secara diam.
Memanaskan air. Membuat teh yang tidak akan ia minum sampai dingin seperti biasanya.
Sambil menunggu air mendidih, ia berdiri di depan jendela dapur yang menghadap ke teras — ke tanaman-tanamannya yang dalam kegelapan hanya berbentuk bayangan, gelap di atas gelap, tapi yang keberadaannya tetap bisa ia rasakan karena sudah cukup lama merawat mereka untuk tahu posisi masing-masing tanpa harus melihat.
Ia memikirkan siapa yang tahu nomor ponselnya.
Banyak orang. Terlalu banyak untuk dipersempit dengan mudah — nomor itu ada di kartu nama yang sudah ia bagikan selama bertahun-tahun sebagai istri pejabat, ada di berbagai formulir dan daftar yang tidak semuanya ia ingat sudah ia isi, ada di tangan orang-orang yang ia hubungi dalam proses investigasinya dan orang-orang yang ia hubungi untuk keperluan yang sama sekali tidak berkaitan dengan itu.
Mempersempit dari sisi nomor tidak akan efisien.
Yang lebih berguna adalah mempertimbangkan: siapa yang tahu cukup tentang apa yang sedang ia lakukan untuk merasa perlu mengirim pesan seperti itu malam ini? Bukan kapan saja — malam ini, setelah pertemuan dengan Wirawan kemarin yang membicarakan Bambang Sutrisno.
Anne memegang cangkirnya yang baru diisi teh.
Koneksi itu bisa kebetulan. Mungkin pesan itu tidak ada hubungannya dengan Bambang Sutrisno atau dengan pertemuan kemarin. Mungkin ini hanya timing yang kebetulan bertepatan.
Tapi orang yang sudah lama bekerja dengan data tidak terlalu mempercayai kebetulan yang terlalu tepat timingnya.
---
Telepon kepada Wirawan bisa menunggu sampai pagi — tidak ada yang produktif bisa dilakukan malam ini, dan membangunkan pengacara tua yang sudah cukup lelah dengan semua ini di jam sebelas malam hanya untuk menunjukkan satu pesan dua kalimat bukan prioritas.
Anne kembali ke meja kerjanya.
Duduk. Menatap papan di baliknya. Menatap dokumen di layar laptopnya yang masih terbuka di halaman yang sama dari sebelum pesan itu masuk.
Dan membuat keputusan yang tidak butuh banyak pertimbangan karena sudah sebenarnya dibuat jauh sebelum malam ini — keputusan yang malam ini hanya perlu dikonfirmasi dengan cara yang lebih konkret dari sebelumnya.
Ia melanjutkan membaca.