Undangan itu datang pada hari Senin — atau lebih tepatnya, ketidakhadiran undangan itu yang datang pada hari Senin.
Anne menyadarinya bukan dari satu kejadian tunggal tapi dari cara kalendernya yang dulu selalu penuh pada bulan-bulan ini tiba-tiba terlihat seperti padang yang luas dan tidak berpenghuni. Bulan Maret, dalam tiga tahun terakhir, selalu berarti rangkaian acara — pertemuan-pertemuan yang sebagian ia hadiri dengan sungguh-sungguh dan sebagian ia hadiri karena tidak hadir lebih rumit dari hadir, tapi yang semuanya mengisi harinya dengan ritme yang tidak ia pilih tapi yang sudah menjadi bagian dari cara hidupnya berjalan.
Tahun ini bulan Maret terlihat seperti bulan yang berbeda.
Bukan kosong sepenuhnya — Wirawan ada, beberapa teman lama yang sudah tahu dan yang tidak pergi ada, satu atau dua pertemuan yang berkaitan langsung dengan apa yang sedang ia kerjakan ada. Tapi lapisan luar dari kalender sosial yang dulu begitu padat itu sudah menghilang dengan cara yang tidak bisa disalahkan pada satu peristiwa atau satu keputusan seseorang, hanya pada akumulasi pilihan-pilihan kecil yang masing-masingnya tidak pernah terasa seperti pengakhiran tapi yang bersama-sama sudah mengakhiri sesuatu.
Anne menatap kalendernya pada pagi hari Senin itu selama beberapa saat.
Lalu menutup aplikasinya dan kembali ke dokumen yang sedang ia baca.
---
Sumber penghasilan itu pergi dengan cara yang lebih eksplisit dari hilangnya undangan.
Ia tidak punya karier formal yang perlu dilepas — sudah melepaskannya bertahun-tahun lalu, keputusan yang pada waktu itu terasa seperti pilihan dan yang sekarang ia ketahui lebih kompleks dari itu. Tapi ada beberapa pekerjaan yang ia ambil dalam beberapa tahun terakhir sebagai cara untuk tetap ada di bidangnya tanpa terlalu jauh dari kehidupan yang sudah ia bangun — tulisan-tulisan analisis kebijakan untuk beberapa publikasi, konsultasi metodologi riset untuk lembaga-lembaga kecil yang butuh keahlian itu tapi tidak bisa mempekerjakan seseorang penuh waktu, sesekali menjadi narasumber untuk acara atau diskusi yang topiknya relevan dengan latar belakangnya.
Pekerjaan-pekerjaan yang tidak besar tapi yang ada. Yang memberikan sesuatu yang mungkin lebih penting dari penghasilannya: rasa bahwa ada bagian darinya yang masih dikenal atas namanya sendiri, bukan atas nama istri dari.
Penghentian pertama datang dari editor sebuah jurnal kebijakan yang sudah dua tahun memuat tulisannya secara reguler. Emailnya singkat, profesional, tidak meninggalkan ruang untuk pertanyaan yang tidak nyaman: *dengan situasi yang berkembang, kami memutuskan untuk sementara waktu menunda kolaborasi dengan beberapa kontributor sambil mengevaluasi arah editorial kami ke depan.* Kalimat yang bisa berarti banyak hal dan yang karena bisa berarti banyak hal tidak bisa dikonfrontasi dengan cara yang jelas.
Penghentian kedua datang seminggu kemudian dari lembaga riset kecil yang biasanya menghubunginya untuk konsultasi metodologi. Kali ini bahkan tidak ada email resmi — hanya ketidakhadiran yang sudah menjadi kebiasaan baru: tidak ada proyek yang masuk, tidak ada tawaran yang datang, tidak ada penjelasan yang menyertainya karena tidak ada yang merasa perlu menjelaskan ketika keputusannya adalah untuk tidak melakukan sesuatu.
Anne mencatat ini semua — bukan dengan kepahitan, tapi dengan cara yang sama ia mencatat hal-hal lain yang perlu dicatat: sebagai data, sebagai bagian dari gambar yang lebih besar, sebagai sesuatu yang nyata tapi yang tidak perlu dibiarkan menentukan cara ia memahami dirinya sendiri.
Tapi mencatat sesuatu secara metodis tidak berarti tidak merasakannya.
---
Ada satu momen yang berbeda dari yang lain.
Bukan yang paling dramatis secara eksternal — sebenarnya dari luar mungkin tidak terlihat seperti momen yang penting sama sekali. Tapi ada momen ketika Anne sedang merapikan lemari bajunya — sesuatu yang ia lakukan bukan karena lemarinya tidak rapi tapi karena tangannya butuh sesuatu untuk dikerjakan pada sore yang otaknya sedang terlalu penuh untuk bisa membaca dengan produktif — dan menemukan di bagian belakang lemari itu beberapa helai pakaian yang sudah lama tidak ia sentuh.
Pakaian dari sebelum ia menikah. Sebelum kehidupan sebagai istri pejabat dengan acara-acara yang menuntut pakaian tertentu. Sebelum lemarinya mulai diisi dengan hal-hal yang dipilih berdasarkan apa yang sesuai untuk konteks tertentu daripada apa yang ia suka.
Ia mengeluarkan satu — kemeja linen biru tua yang sudah sedikit pudar di beberapa bagian karena terlalu sering dicuci pada masa ketika ia masih memakai benda-benda favorit sampai benar-benar habis. Memegangnya. Melihat lubang kecil di jahitan di dekat saku kanan yang pernah ia jahit sendiri karena tidak mau membuangnya hanya karena itu.
Ia memakai kemeja itu.
Berdiri di depan cermin. Menatap dirinya sendiri selama beberapa saat dengan cara yang berbeda dari cara ia biasanya menatap cermin sebelum acara — bukan memeriksa apakah tampilannya sesuai dengan konteks, hanya melihat.
Orang yang melihat kembali padanya dari cermin adalah orang yang tidak sedang mempersiapkan diri untuk dihadiri oleh siapa pun.
Hanya seseorang yang ada. Dengan kemeja linen biru tua yang sudah pudar dan lubang kecil yang sudah dijahit sendiri.
Anne berdiri di depan cermin itu lebih lama dari yang biasanya ia butuhkan.
Dan menemukan sesuatu yang tidak ia cari — bahwa orang yang melihat kembali padanya dari cermin terasa lebih familiar dari orang yang biasanya ia lihat sebelum acara-acara itu. Lebih familiar dengan cara yang tidak bisa sepenuhnya ia artikan, hanya bisa ia rasakan sebagai sesuatu yang sudah lama tidak hadir dan yang malam ini ada lagi.
---
Telepon dari bibi Jailani datang pada hari Rabu.
Bibi Ratna — adik ayah Jailani, perempuan tujuh puluhan yang hidupnya sudah melewati cukup hal untuk tidak mudah terganggu oleh apa pun yang terjadi di permukaannya. Ia salah satu dari sedikit yang tetap menelepon, yang tidak pernah menjelaskan mengapa ia tetap menelepon karena tidak pernah merasa perlu menjelaskan hal-hal yang menurutnya sudah jelas.
"Kamu makan?" tanyanya ketika Anne mengangkat.
Pertanyaan yang menjadi semacam sapaan khas Bibi Ratna — bukan *halo* atau *apa kabar*, selalu *kamu makan*. Pertanyaan yang dalam bahasa bibi tua itu berarti banyak hal sekaligus dan tidak ada yang benar-benar tentang makan.
"Sudah, Bi."
"Makan apa?"
"Nasi sama sayur."
"Cukup?"
"Cukup."
"Bohong," kata Bibi Ratna dengan nada yang tidak menuduh tapi yang juga tidak memberi ruang untuk dibantah. "Kamu pasti lupa makan siang lagi."
Anne tidak menjawab — yang merupakan konfirmasi yang cukup.
"Besok saya ke sana. Masak."
"Bibi tidak usah repot—"
"Saya tidak repot. Saya mau ke sana. Beda." Nada yang menutup topik. "Kamu ada?"
"Ada."
"Bagus." Keheningan singkat. "Bagaimana kabarnya?"
Anne tahu pertanyaan itu bukan tentang kesehatannya. "Berjalan, Bi. Pelan tapi berjalan."
"Jailani tahu kamu sedang apa?"
"Sebagian."
Bibi Ratna menghela napas dengan cara yang mengandung banyak hal yang tidak perlu diucapkan. "Dia anak yang keras kepala. Dari kecil sudah begitu. Selalu harus buktikan sesuatu." Nada yang tidak mengkritik tapi yang sudah cukup lama mengenal orang yang dibicarakan untuk bisa berbicara tentangnya dengan jujur. "Tapi kamu tahu itu dari awal."
"Tahu, Bi."
"Dan kamu tetap pilih dia."
"Tetap."
"Berarti kamu juga keras kepala." Bibi Ratna berkata ini dengan nada yang bisa saja kritis atau bisa saja seperti sertifikat kehormatan tergantung dari mana dibacanya. "Besok saya ke sana jam sepuluh."
---
Bibi Ratna datang dengan tas besar berisi bahan-bahan yang belum dibeli dan yang entah bagaimana sudah ada di dalam tas itu, dan memasak di dapur Anne selama dua jam dengan cara orang yang tidak perlu bertanya di mana letak apa karena sudah mencarinya sendiri dan menemukan sendiri tanpa merasa perlu mengumumkannya.