Kunjungan itu dijadwalkan pada hari Rabu.
Anne tiba di Sukamiskin dua puluh menit lebih awal — kebiasaan yang selalu ada, tapi yang kali ini bukan hanya karena kebiasaan. Ada sesuatu yang ia butuhkan dari dua puluh menit itu: waktu untuk duduk di ruang tunggu yang dingin dan tidak nyaman itu, di antara keluarga-keluarga lain yang masing-masingnya membawa bebannya sendiri dengan cara yang tidak pernah benar-benar tersembunyi meski selalu dicoba disembunyikan, dan membiarkan dirinya ada di sana sepenuhnya sebelum masuk ke dalam.
Perjalanan ke Yogyakarta sudah dua minggu lalu.
Pertemuan dengan Bambang Sutrisno — mantan pejabat badan pengawas yang dua tahun memilih tidak kelihatan — sudah terjadi, sudah meninggalkan sesuatu yang Anne masih terus memprosesnya bahkan sekarang. Bukan karena traumatis. Tapi karena apa yang ia dapatkan dari pertemuan itu bukan hanya informasi — ada sesuatu dalam cara seorang pria tua yang sudah lama diam akhirnya berbicara yang mengubah cara Anne memahami skala dari apa yang sudah terjadi.
Wirawan sudah tahu garis besarnya. Beberapa langkah sudah mulai bergerak yang tidak bisa dibicarakan terlalu detail bahkan kepada Jailani melalui media kunjungan yang tidak bisa dijamin kerahasiaannya.
Tapi bukan itu yang membuat Anne duduk di ruang tunggu ini dua puluh menit lebih awal.
Yang membuat ia butuh dua puluh menit itu adalah sesuatu yang lebih sederhana dan lebih tidak bisa ia atasi dengan strategi: ia belum bertemu Jailani dalam tiga bulan terakhir.
Tiga bulan adalah waktu yang cukup panjang untuk dua orang yang sudah lebih dari dua puluh tahun terbiasa tidur di kasur yang sama.
---
Ruang kunjungan tidak besar.
Dua belas meja dengan kursi di kedua sisinya, dipisahkan oleh sekat kaca yang sebagian sudah retak di sudutnya dan yang sudah direkat dengan isolasi bening yang tidak lagi terlalu bening. Di masing-masing meja ada lubang kecil untuk menyampaikan suara — bukan mikrofon, hanya lubang di kaca, yang berarti suara yang masuk dan keluar harus cukup pelan untuk privasi tapi cukup keras untuk terdengar.
Anne mengambil tempat di meja keempat dari kiri — tempat yang biasanya mereka pakai, tanpa ada yang memutuskan itu secara formal, hanya karena sudah beberapa kali di sana dan karena kebiasaan terbentuk dari pengulangan tanpa perlu persetujuan.
Ia meletakkan tasnya di samping kursi. Merapikan kertas-kertas yang ia bawa — beberapa hal yang ingin ia sampaikan, beberapa hal yang perlu didiskusikan, hal-hal yang sudah ia susun dengan cukup hati-hati karena waktu kunjungan tidak panjang dan ia ingin memakainya sebaik mungkin.
Lalu ia meletakkan kertas-kertas itu kembali di dalam tasnya.
Karena tiba-tiba terasa bahwa menyiapkan agenda seperti itu untuk pertemuan ini adalah cara yang salah untuk memasuki sesuatu yang bukan hanya pertemuan dengan klien atau narasumber atau seseorang dengan keperluan yang bisa distrukturkan.
Ini suaminya.
Yang tidak ia lihat selama tiga bulan.
---
Jailani masuk dari pintu samping dengan cara yang sama seperti selalu — punggung lurus, langkah yang terukur, tidak terburu dan tidak memperlambat diri. Petugas berjalan dua langkah di belakangnya.
Yang berbeda adalah hal-hal yang tidak langsung terlihat tapi yang Anne, yang sudah lebih dari dua puluh tahun mengenal cara seseorang bergerak di ruangan, tidak bisa tidak perhatikan.
Caranya memasuki ruang kunjungan tidak sama dengan tiga bulan lalu.
Tiga bulan lalu — kunjungan yang datang setelah dua bulan di dalam, yang wajah Jailani masih membawa amarah yang tidak sepenuhnya ia sembunyikan meski sudah cukup berhasil menyembunyikannya dari orang-orang yang tidak mengenalnya — ada sesuatu dalam caranya memasuki ruangan itu yang mengingatkan Anne pada cara seseorang memasuki ruang sidang: dengan persiapan, dengan kewaspadaan, dengan kesadaran penuh bahwa ia sedang diamati dan bahwa cara ia terlihat memiliki konsekuensi.
Sekarang ia memasuki ruangan ini dengan cara yang berbeda. Masih sama tegaknya. Masih sama terukurnya. Tapi ada sesuatu yang tidak ada lagi di sana — sesuatu yang Anne baru bisa namai ketika sudah tidak ada: kebutuhan untuk terlihat dengan cara tertentu.
Ia hanya masuk.
Dan ketika matanya menemukan Anne di meja keempat dari kiri, ada sesuatu di wajahnya yang datang sebelum ia sempat memutuskan ekspresi apa yang akan ia tampilkan — sesuatu yang hangat dan sederhana dan tidak meminta apa pun.
---
Mereka duduk berhadapan dengan kaca di antara keduanya.
Jeda pertama — jeda singkat yang ada sebelum seseorang memulai sesuatu — terasa berbeda dari jeda-jeda serupa di kunjungan-kunjungan sebelumnya. Bukan canggung. Bukan menahan. Lebih seperti dua orang yang duduk bersama setelah lama berpisah dan yang membiarkan kebersamaan itu ada sebentar sebelum diisi dengan kata-kata, karena kebersamaan itu sendiri sudah sesuatu.
"Kamu kurus," kata Jailani akhirnya.
Anne hampir tersenyum. "Bibi Ratna bilang hal yang sama."
"Bibi Ratna ke sana?"
"Dua kali seminggu. Masak."
Jailani mengangguk dengan cara yang menunjukkan bahwa ini adalah kabar yang melegakan. "Bagaimana kabarnya?"
"Baik. Masih sama seperti biasanya. Supnya masih katanya kurang bumbu meski sudah enak."
"Standarnya memang tidak pernah bisa dicapai oleh masakannya sendiri." Ada sesuatu di sudut bibir Jailani — bukan senyum penuh, tapi sesuatu yang ada sebelum senyum, sesuatu yang familiar dengan cara yang membuat Anne merasakan tiga bulan itu sekaligus dalam satu detik.
Mereka berbicara tentang hal-hal kecil dulu — cara yang sudah menjadi semacam protokol tidak tertulis dari kunjungan-kunjungan sebelumnya, cara memanaskan mesin sebelum sampai ke hal-hal yang lebih besar. Tentang Bibi Ratna, tentang tanaman di teras yang satu di antaranya akhirnya berbunga setelah Anne hampir menyerah padanya, tentang cuaca yang katanya sudah mulai lebih panas dari biasanya beberapa hari terakhir.
Anne memperhatikan cara Jailani berbicara tentang hal-hal ini.
Ada sesuatu yang berbeda — bukan dalam topiknya, topik-topik kecil seperti ini sudah selalu ada di kunjungan-kunjungan sebelumnya. Tapi dalam cara ia bicara tentangnya. Lebih hadir. Lebih seperti seseorang yang benar-benar tertarik, bukan seseorang yang sedang menunggu sampai bisa beralih ke hal yang lebih penting.
---
"Ada perkembangan," kata Anne ketika sudah cukup jauh dari pembukaan untuk masuk ke hal yang lain.
"Cerita."
"Tidak semuanya bisa diceritakan di sini." Anne sudah mempertimbangkan ini sejak sebelum datang — apa yang bisa dan tidak bisa disampaikan dalam ruang yang tidak bisa dijamin kerahasiaannya. "Tapi secara garis besar: ada yang bergerak. Ada nama-nama baru yang sudah saya temui. Ada sesuatu yang Wirawan sedang kerjakan yang belum bisa saya sebut detailnya tapi yang jika berjalan sesuai yang kami harapkan bisa signifikan untuk proses banding."
Jailani mendengarkan.
Anne menunggu respons yang biasanya ada setelahnya — pertanyaan tentang detail, tentang strategi, tentang kemungkinan-kemungkinan yang bisa diakselerasi, tentang apa yang ia bisa lakukan dari sini untuk membantu proses yang bergerak di luar. Pertanyaan-pertanyaan yang selalu ada di kunjungan-kunjungan sebelumnya, yang mencerminkan cara Jailani merespons situasi dengan cara yang sudah selama hidupnya menjadi caranya: dengan mencari langkah selanjutnya.
Yang datang bukan itu.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Jailani.
Anne berhenti sebentar. "Baik."
"Benar-benar baik? Bukan baik yang kamu bilang supaya saya tidak khawatir?"
Anne menatapnya. Ada perbedaan dalam cara pertanyaan itu diajukan dari pertanyaan yang sama yang pernah ia tanyakan sebelumnya — cara yang menunjukkan bahwa ia benar-benar ingin tahu, bukan sebagai basa-basi sebelum topik yang dianggap lebih penting.
"Ada beberapa hal yang tidak mudah," kata Anne jujur. "Beberapa orang yang pergi. Beberapa pekerjaan yang berhenti. Ada satu malam yang cukup tidak menyenangkan." Ia tidak menyebut detail pesan ancaman itu — bukan untuk menyembunyikan, tapi karena ini bukan tempat yang tepat untuk membahasnya secara detail. "Tapi saya baik. Dalam arti yang lebih jujur dari biasanya."
Jailani menatapnya dengan cara yang tidak langsung merespons dengan kata-kata.
"Kamu berubah," katanya akhirnya.
"Kamu juga."
"Iya." Ia mengangguk pelan. "Kita bicara tentang itu dulu sebelum hal-hal yang lain?"
---
Dan di situlah — di kalimat itu, dalam prioritas yang mengejutkan dari seseorang yang dulu selalu menempatkan strategi dan langkah selanjutnya di urutan pertama — Anne merasakan sesuatu yang tidak ia antisipasi.
Kehilangan keseimbangan yang kecil.
Bukan dalam arti negatif — tapi dalam arti literal: sesuatu dalam dirinya yang sudah mengatur posisinya untuk percakapan ini bergeser sedikit, karena percakapan yang ada ternyata tidak sesuai dengan percakapan yang ia persiapkan.