JAIL AND E

Kukuh Ageng Pribowo
Chapter #17

Vonis yang Lain #17

Sidang banding itu dijadwalkan pada hari Selasa.


Anne tahu tanggalnya sejak tiga minggu sebelumnya — Wirawan menyampaikannya dengan cara yang sama seperti ia menyampaikan semua hal penting: langsung, tanpa embel-embel, dengan informasi yang diperlukan dan tidak lebih dari itu. Tapi ada sesuatu dalam cara ia mengucapkan tanggal itu yang berbeda dari cara ia menyampaikan jadwal-jadwal sebelumnya dalam perjalanan panjang ini. Sesuatu yang lebih pelan. Lebih hati-hati.


Seperti orang yang menyampaikan sesuatu yang penting sambil menjaga dirinya untuk tidak memberikan beban harapan yang tidak bisa ia jamin.


Anne mencatat tanggal itu di kalendernya — satu-satunya entri di minggu itu, di tengah kotak hari Selasa yang kosong di sekelilingnya.


Lalu menutup kalendernya dan kembali ke apa yang sedang ia kerjakan.


---


Tiga minggu itu tidak berjalan dengan cara yang berbeda secara drastis dari minggu-minggu sebelumnya.


Anne masih bangun pada jam yang sama. Masih membuat teh yang sering dingin sebelum diminum. Masih duduk di meja kerjanya dengan papan benang merah dan biru di baliknya — meskipun sekarang papan itu sudah tidak terlalu sering ia perbarui, karena apa yang perlu disusun sudah tersusun dan apa yang sedang terjadi sudah berpindah ke tangan Wirawan dan ke proses yang bergerak dengan caranya sendiri.


Yang berbeda adalah cara waktu bergerak.


Atau lebih tepatnya: cara Anne merasakannya bergerak.


Ada fase dalam menunggu sesuatu yang penting di mana waktu terasa melambat dengan cara yang tidak menyenangkan — di mana setiap hari terasa lebih panjang dari seharusnya, di mana pikiran terus kembali ke tanggal yang ditunggu bahkan ketika ada hal-hal lain yang seharusnya menarik perhatian. Anne sudah mengenal fase itu dari pengalaman-pengalaman menunggu sebelumnya dalam hidupnya.


Yang mengejutkannya adalah bahwa kali ini — dengan hal yang mungkin paling besar dalam beberapa tahun terakhir yang sedang ditunggu — fase itu tidak hadir dengan cara yang sama.


Ia menunggu. Tapi tidak dengan cara yang menguras.


Lebih seperti seseorang yang sudah berjalan sangat jauh dan yang sudah tiba di dekat tujuan, dan yang tahu bahwa beberapa langkah terakhir ini akan datang pada waktunya — tidak bisa dipercepat, tidak perlu diperlambat, hanya perlu dijalani dengan cara yang sama seperti semua langkah sebelumnya dijalani.


---


Seminggu sebelum sidang, Bibi Ratna datang.


Tidak diumumkan — Bibi Ratna tidak pernah mengumumkan kedatangannya karena menganggap mengumumkan adalah cara yang tidak efisien untuk sampai di suatu tempat. Ia datang, mengetuk pintu, dan masuk ketika Anne membukakan dengan tas yang sudah berisi bahan-bahan untuk dimasak.


"Kamu tidak kerja?" tanyanya.


"Lagi istirahat sebentar."


"Bagus." Bibi Ratna sudah berjalan ke dapur. "Saya masak dulu."


Anne mengikutinya — duduk di kursi dapur yang sudah menjadi tempatnya dalam kunjungan-kunjungan Bibi Ratna, yang berderit sedikit di satu kaki tapi yang sudah selalu ia duduki karena tidak ada yang menaruh sesuatu di atasnya dan karena kebiasaan terbentuk dari pengulangan.


"Minggu depan sidangnya," kata Anne.


"Iya." Bibi Ratna sudah mulai memotong bawang dengan cara yang efisien dan tanpa dramaturgi. "Kamu takut?"


"Tidak takut. Tapi—" Anne berhenti sebentar. "Tapi ada sesuatu yang berbeda dari biasanya. Sesuatu yang belum bisa saya namai dengan tepat."


"Tegang?"


"Bukan tegang juga. Lebih seperti..." ia mencari kata yang tepat. "Seperti sudah terlalu jauh untuk kembali tapi belum tahu persis apa yang ada di ujungnya."


Bibi Ratna terus memotong bawang tanpa menoleh. "Itu namanya hampir sampai."


"Hampir sampai."


"Iya. Beda rasanya dari masih di tengah. Di tengah kamu masih bisa pura-pura tidak tahu ke mana perginya. Hampir sampai, kamu sudah tahu ke mana tapi belum tahu bagaimana sampainya." Ia menyapukan bawang yang sudah dipotong ke wajan. "Wajar terasa aneh."


---


Senin malam sebelum sidang, Anne tidak tidur dengan baik.


Bukan karena pikiran yang berputar-putar dengan cara yang sudah pernah terjadi di malam-malam sebelumnya dalam perjalanan ini. Pikirannya relatif tenang — tenang dengan cara yang sudah menjadi caranya sekarang, yang bukan berarti kosong melainkan sudah menemukan tempatnya yang lebih teratur.


Yang membuat tidurnya tidak nyenyak adalah sesuatu yang lebih fisik dari itu — tubuhnya yang tidak mau menetap, yang berbalik dari satu sisi ke sisi lain dengan cara yang menunjukkan bahwa ia sudah cukup istirahat untuk tidak bisa tidur lebih lanjut tapi yang pikirannya belum siap untuk bangun.


Sekitar jam tiga pagi ia menyerah dan bangun.


Pergi ke dapur. Membuat susu hangat — bukan teh, bukan kopi, sesuatu yang lebih menenangkan dari keduanya, sesuatu yang pernah ibunya buatkan ketika ia kecil dan tidak bisa tidur.


Duduk di meja makan dalam kegelapan yang hanya diterangi lampu kulkas yang menyala ketika ia membuka pintunya untuk mengambil susu.


Di luar jendela dapur, jalan perumahan sunyi sepenuhnya — jam tiga pagi adalah jam ketika bahkan kota yang tidak pernah benar-benar tidur ini sudah mendekati titik paling sunyinya sebelum mulai bangun lagi menjelang subuh.


Anne memegang cangkir susunya yang hangat dan membiarkan keheningan itu ada di sekitarnya.


Tidak memikirkan sidang esok hari dengan cara yang analitis — sudah tidak ada yang perlu dianalisis, semua yang bisa dipersiapkan sudah dipersiapkan. Hanya duduk dengan keheningan itu dan dengan pengetahuan bahwa besok adalah hari yang tidak bisa dipercepat lagi.


---


Ia sampai di pengadilan pukul delapan kurang seperempat.


Wirawan sudah ada di sana — di koridor luar ruang sidang, dengan tas kulitnya dan ekspresi yang sama seperti biasanya tapi yang hari ini ada sesuatu sedikit berbeda di baliknya. Sesuatu yang lebih terkonsentrasi. Seperti seseorang yang sudah mempersiapkan sesuatu dengan sangat hati-hati dan yang kini ada di momen di mana kehati-hatian itu sudah tidak bisa lagi ditambah, hanya bisa diserahkan kepada apa yang akan terjadi.


"Kamu tidur?" tanyanya ketika melihat Anne.


"Cukup." Tidak bohong dan tidak juga sepenuhnya jujur — cara yang sudah menjadi bahasa mereka dalam beberapa bulan terakhir, di mana keduanya sudah tahu bahwa *cukup* mengandung lebih dari yang terlihat tapi yang tidak membutuhkan elaborasi.


"Prosesnya hari ini akan panjang," kata Wirawan. "Majelis akan memeriksa argumen dari kedua sisi. Ada kemungkinan keputusannya tidak keluar hari ini — bisa ditunda untuk deliberasi lebih lanjut."


"Saya mengerti."


"Tapi ada juga kemungkinan keputusannya keluar hari ini. Bergantung pada cara majelis memandang substansi yang ada." Wirawan menatapnya. "Apapun yang terjadi hari ini — kamu sudah melakukan apa yang bisa dilakukan. Apa yang ada di tangan majelis sekarang sudah bukan di tangan kita lagi."


Anne mengangguk. "Saya tahu."


---


Ruang sidang itu tidak asing — Anne sudah pernah ada di sini, di sidang pertama, di kursi yang sama di barisan ketiga dari depan di sisi keluarga. Tapi kali ini terasa berbeda dari sidang pertama dengan cara yang tidak sepenuhnya bisa ia jelaskan dengan perbedaan kondisinya saja.


Sidang pertama ia masuk sebagai seseorang yang datang untuk menyaksikan sesuatu yang sudah dimulai oleh orang lain dan yang ia tidak punya kendali atasnya. Kali ini ia masuk sebagai seseorang yang sebagian dari apa yang ada dalam ruangan ini ada di sana karena ia yang membawanya ke sana.


Perbedaan yang tidak terlihat dari luar tapi yang terasa sangat berbeda dari dalam.


Jailani masuk dari pintu samping dengan cara yang sama — punggung lurus, langkah yang terukur. Tapi ketika matanya menemukan Anne di barisan ketiga, ada sesuatu di wajahnya yang berbeda dari sidang pertama dulu.


Tidak lagi ada amarah yang menyala di sana. Tidak lagi ada kebingungan orang yang baru pertama kali berhadapan dengan ketidakadilan yang nyata. Yang ada lebih tenang dari keduanya — ketenangan yang bukan absen rasa tapi yang sudah menemukan tempatnya yang lebih dalam.


Mereka bertukar pandang sebentar.


Lihat selengkapnya