Markum yang memberitahunya.
Bukan dengan cara formal — bukan pengumuman resmi dari petugas yang berwenang, bukan panggilan ke ruang administrasi, bukan prosedur yang sudah ada bentuknya. Hanya Markum yang lewat di depan sel Jailani pada Selasa sore, melambatkan langkahnya seperti yang sudah menjadi caranya, dan berkata dengan nada yang tidak berbeda dari nada yang biasa ia pakai untuk hal-hal yang sehari-hari:
"Banding Pak Jailani dikabulkan."
Empat kata.
Diucapkan dengan cara yang sama seperti Markum mengucapkan semua hal lain — tidak lebih berat dari yang perlu, tidak lebih ringan dari yang ada.
Jailani mengangkat matanya dari buku yang sedang ia baca.
Menatap Markum.
"Tadi saya dengar dari petugas administrasi," lanjut Markum. "Belum ada pengumuman resmi ke Bapak. Tapi sudah ada di sistem. Proses administrasinya mungkin dua tiga hari lagi."
---
Jailani meletakkan bukunya.
Duduk dengan tangan di pahanya dan menatap Markum yang berdiri di luar jeruji dengan cara yang sudah ia kenali selama hampir satu tahun ini — bersandar sedikit, tidak sepenuhnya tegak, posisi di antara ada dan tidak menuntut apa pun.
Ia menunggu sesuatu untuk datang dari dalam dirinya. Sesuatu yang besar. Sesuatu yang proporsional dengan besarnya apa yang baru saja disampaikan empat kata itu.
Yang datang bukan itu.
Yang datang adalah keheningan — bukan keheningan yang kosong, bukan keheningan yang menahan sesuatu. Hanya keheningan yang ada, seperti ketika seseorang sudah sampai di suatu tempat dan tubuhnya tahu sebelum kepalanya sempat memproses bahwa perjalanan sudah selesai.
"Terima kasih sudah memberitahu," kata Jailani.
Markum mengangguk. "Selamat, Pak."
Lalu melanjutkan langkahnya ke lorong.
---
Jailani berbaring di kasurnya.
Menatap langit-langit.
Retakan di sudut kiri masih di sana. Lampu yang tidak bisa dimatikan masih menyala. Suara-suara lorong yang sudah sangat ia kenali bergerak dengan cara yang tidak peduli bahwa empat kata baru saja diucapkan di luar sel ini yang mengubah cara ia akan ada di tempat ini mulai hari ini.
Ia mencoba menemukan amarah — amarah yang selama hampir satu tahun ini menjadi salah satu hal yang paling konsisten ada, yang sudah ia pelajari cara membawanya tanpa merusaknya dari dalam, yang sudah menjadi semacam teman perjalanan yang tidak selalu menyenangkan tapi yang kehadirannya memberi tanda bahwa ia masih peduli pada keadilan.
Amarah itu ada. Tapi tidak seperti yang ia bayangkan.
Lebih tenang dari yang ia duga. Lebih dingin dari yang biasanya. Seperti api yang sudah terlalu lama menyala dan yang akhirnya menemukan bahwa bahan bakar yang selama ini membuatnya hidup sudah habis — bukan karena apinya padam, tapi karena tidak ada lagi yang perlu dibakar dengan cara yang sama.
---
Ia memikirkan Anne.
Semua yang sudah terjadi di luar sana — hal-hal yang ia ketahui melalui surat-surat dan kunjungan dan cara Wirawan berbicara yang mengandung lebih dari kata-katanya, hal-hal yang belum sepenuhnya ia ketahui tapi yang bisa ia bayangkan bentuknya dari semua yang sudah sampai kepadanya.
Anne yang pergi ke Yogyakarta. Anne yang bertemu orang-orang yang tidak mudah ditemui. Anne yang menerima sesuatu yang mahal dari seseorang yang memilih untuk memberikannya.
Anne yang melakukan semua itu di rumah yang terlalu besar untuk satu orang, di meja kerja dengan papan benang merah dan biru yang ia bayangkan sudah memenuhi dinding belakangnya, dengan teh yang dingin sebelum sempat diminum — cara yang sudah lama menjadi caranya, yang sudah lama menjadi salah satu hal yang paling Anne dari semua hal yang Anne.
Ia ingin berterima kasih.
Tapi berterima kasih kepada siapa persis, dan untuk apa persis, terasa seperti pertanyaan yang terlalu kecil untuk apa yang sedang ia rasakan. Kata terima kasih terasa seperti amplop yang terlalu kecil untuk isi yang terlalu besar, seperti sesuatu yang perlu diucapkan tapi yang pengucapannya sendiri tidak akan pernah cukup mewakili apa yang ada di baliknya.
Mungkin ada hal-hal yang tidak perlu cukup untuk tetap perlu diucapkan.
---
Malam itu ia tidak langsung tidur.
Bukan karena pikirannya tidak mau diam — sebaliknya, pikirannya malam ini jauh lebih diam dari malam-malam biasanya. Tapi ada sesuatu yang ingin ia lakukan sebelum hari ini selesai, sesuatu yang terasa perlu terjadi sebelum ia menutup mata untuk malam terakhir di mana kabar ini masih baru.
Ia duduk di mejanya yang kecil.
Mengambil kertas dan pena.
Dan mulai menulis — bukan surat kepada Anne, bukan surat kepada Wirawan, bukan apa pun yang akan dikirimkan ke mana pun. Hanya menulis untuk dirinya sendiri, dengan cara yang tidak pernah ia lakukan selama hampir satu tahun ini karena selama ini ia selalu punya seseorang untuk ditulis kepadanya.
Malam ini ia menulis kepada sel ini.
*Saya akan keluar dalam beberapa hari.*
Ia berhenti. Membaca kalimat yang baru ditulis. Lanjut.
*Saya masuk ke sini dengan amarah yang saya pikir saya tahu cara menggunakannya. Ternyata amarah hanya berguna kalau ada yang bisa dilakukan dengannya, dan di dalam sini tidak banyak yang bisa dilakukan kecuali belajar cara membawanya tanpa hancur karenanya.*
*Saya belajar itu. Lebih lama dari yang seharusnya perlu, mungkin. Tapi belajar.*
*Di sini saya menemukan sesuatu yang tidak ada dalam rencana mana pun yang pernah saya buat tentang hidup saya. Sesuatu tentang cara ada tanpa harus menjadi apa-apa. Tentang cara diam yang bukan kosong. Tentang cara kekosongan yang selama ini saya takutkan ternyata bukan kosong sama sekali.*
*Saya tidak tahu bagaimana membawa ini keluar. Tidak ada yang mengajarkan caranya. Mungkin tidak ada cara yang bisa diajarkan — hanya bisa dicoba dan dilihat apakah bertahan.*
*Yang saya tahu adalah bahwa saya akan mencoba.*