Anne tiba empat puluh menit lebih awal.
Bukan karena salah hitung jarak atau waktu — ia sudah mengemudi ke Sukamiskin cukup sering untuk tahu persis berapa lama jalannya dari rumah, dengan macet dan tanpa macet, di jam yang berbeda-beda. Empat puluh menit lebih awal adalah pilihan, meski pilihan yang tidak sepenuhnya ia sadari sebagai pilihan sampai ia sudah ada di parkiran itu dan jam di dasbor menunjukkan bahwa masih ada waktu yang panjang sebelum proses administratif selesai dan pintu itu terbuka.
Ia mematikan mesin.
Duduk dalam mobil yang tidak bergerak.
Di luar, parkiran Sukamiskin pada pagi hari seperti ini tidak ramai — beberapa kendaraan, beberapa orang yang juga menunggu dengan cara masing-masing. Ada yang duduk di dalam mobil seperti Anne. Ada yang berdiri di luar dengan rokok. Ada seorang perempuan tua yang duduk di bangku semen dengan tas plastik di pangkuannya, menatap ke depan ke arah pintu yang masih tertutup, dengan cara orang yang sudah cukup sering duduk di sana untuk tidak lagi merasa perlu melakukan sesuatu selain menunggu.
Anne menatap pintu itu.
Pintu yang sama yang sudah berkali-kali ia lewati dari sisi yang berbeda — masuk sebagai pengunjung, keluar setelah kunjungan selesai, selalu dengan kaca di antara ia dan Jailani, selalu dengan jam yang sudah ditetapkan dari luar, selalu dengan perasaan bahwa ada lebih yang ingin disampaikan dari yang sempat tersampaikan dalam waktu yang ada.
Hari ini tidak ada kaca.
Hari ini tidak ada jam yang sudah ditetapkan.
Hari ini, untuk pertama kalinya dalam hampir satu tahun, Jailani akan keluar dari sisi yang sama dengan Anne.
---
Ia menggunakan empat puluh menit itu untuk tidak melakukan apa pun secara produktif.
Tidak membuka laptopnya. Tidak memeriksa ponselnya kecuali sekali ketika ada pesan dari Wirawan yang mengkonfirmasi bahwa proses administrasi berjalan sesuai jadwal. Tidak menyiapkan kalimat-kalimat yang akan ia ucapkan atau tidak ucapkan ketika pintu itu akhirnya terbuka.
Hanya duduk.
Dengan cara yang sudah menjadi caranya dalam beberapa bulan terakhir — cara yang sudah belajar bahwa tidak semua waktu perlu diisi dengan sesuatu yang produktif, bahwa ada jenis kehadiran yang hanya bisa terjadi ketika tangan dan kepala diizinkan untuk tidak sedang mengerjakan apa pun.
Ia memikirkan hal-hal kecil.
Tentang apa yang sudah ia siapkan di rumah — bukan persiapan yang besar, bukan sesuatu yang dramatis. Hanya hal-hal yang ia ketahui dari dua puluh tahun lebih bersama seseorang: kopi yang diseduh dengan cara tertentu, selimut di kursi sofa yang sudah tidak ada di sana sejak Jailani dibawa pergi dan yang sudah ia kembalikan kemarin, jendela kamar yang ia biarkan terbuka sedikit karena Jailani selalu tidur lebih baik dengan ada sedikit udara dari luar.
Hal-hal yang tidak ada yang melihatnya sebagai persiapan tapi yang bagi Anne adalah cara paling jujur untuk menyambut seseorang pulang — bukan dengan dekorasi atau kejutan, tapi dengan cara yang menunjukkan bahwa selama hampir satu tahun pergi, ada yang sudah hafal caranya.
---
Pukul sembilan lewat dua puluh, pintu itu bergerak.
Bukan pintu utama yang besar — pintu samping yang lebih kecil, yang prosedurnya berbeda dari pintu untuk pengunjung, yang Wirawan sudah jelaskan beberapa hari lalu sebagai pintu yang akan digunakan untuk proses ini. Anne sudah ada di posisi yang bisa ia lihat pintu itu dari jarak yang tidak terlalu jauh dan tidak terlalu dekat.
Ia berdiri dari bangku yang ia temukan setelah dua puluh menit duduk di dalam mobil memutuskan bahwa menunggu lebih baik dilakukan di udara terbuka.
Pintu itu terbuka.
Jailani keluar dengan tas kecil di tangannya — tas yang sudah bersama ia sejak masuk hampir satu tahun lalu, yang ukurannya menunjukkan betapa sedikitnya yang bisa dibawa masuk ke tempat seperti itu dan betapa sedikitnya yang tersisa untuk dibawa keluar. Di belakangnya, seorang petugas yang menyelesaikan prosedur terakhir dengan cara yang efisien dan tanpa banyak kata.
Jailani berdiri di ambang pintu itu sebentar.
Satu detik. Mungkin dua.
Bukan karena ragu — lebih seperti cara seseorang yang sudah lama berada di dalam sesuatu berdiri sebentar sebelum benar-benar melangkah keluar, memberikan dirinya satu momen untuk mengakui bahwa ada transisi yang sedang terjadi.
Lalu melangkah keluar.
Matanya bergerak di area parkiran — dan menemukan Anne.
---
Ia berjalan ke arahnya.
Dengan langkah yang terukur — cara yang sudah selama dua puluh tahun lebih menjadi caranya berjalan, yang tidak berubah oleh hampir satu tahun di tempat yang mengharuskannya berjalan dengan cara yang lebih ditentukan dari luar. Tapi ada sesuatu yang berbeda dalam langkah itu dari yang Anne ingat — sesuatu yang tidak bisa ditunjuk pada satu hal spesifik, hanya ada dalam keseluruhan caranya bergerak di ruang yang terbuka.
Lebih tidak terburu.
Bukan lebih lambat — kecepatan langkahnya mungkin sama saja. Tapi ada kualitas yang berbeda di dalamnya, kualitas dari seseorang yang sudah belajar cara ada di dalam perjalanan bukan hanya di tujuan.
Anne tidak bergerak ke arahnya.
Membiarkan jarak itu menjadi milik Jailani untuk ditempuh — bukan karena tidak mau memperpendeknya, tapi karena ada sesuatu dalam cara Jailani berjalan ke arahnya yang terasa seperti sesuatu yang perlu dibiarkan selesai dengan caranya sendiri.
---
Mereka berdiri berhadapan.
Tanpa kaca.
Tanpa lubang kecil untuk menyampaikan suara.
Tanpa jam yang akan segera habis.
Hanya jarak beberapa langkah di parkiran yang tidak ramai, di bawah matahari pagi yang sudah cukup hangat untuk dirasakan di kulit, dengan suara kota yang jauh di balik tembok dan pohon-pohon tua yang tidak peduli siapa yang berdiri di bawahnya.
Anne melihat wajah suaminya dari dekat untuk pertama kalinya dalam hampir satu tahun.
Bukan wajah yang ia lihat melalui kaca yang sudah retak di sudutnya dan yang membutuhkan suara yang cukup keras untuk terdengar dari sisi yang lain. Wajah yang bisa ia sentuh jika mengulurkan tangan. Wajah yang sudah lebih tua dari yang ada di dalam ingatannya tentang wajah ini dari terakhir kali melihatnya dari jarak seperti ini — bukan tua dalam arti yang mengkhawatirkan, tapi tua dengan cara semua wajah menjadi tua ketika sudah melewati sesuatu yang berat dan yang meninggalkan bekas tidak hanya di dalam tapi juga di luar.
Lebih kurus. Rambutnya sudah ada lebih banyak abu-abu di pelipis dari yang ia ingat.
Tapi matanya.
Matanya yang membuat Anne tidak bisa langsung mengatakan apa pun — bukan karena terhalang sesuatu, tapi karena ada sesuatu di sana yang membutuhkan beberapa saat untuk dipahami. Sesuatu yang tidak ada di mata yang sama ketika terakhir kali ia melihatnya dari jarak seperti ini, ketika Jailani dibawa pergi dengan amarah yang bersih dan kebingungan orang yang baru pertama bersentuhan langsung dengan ketidakadilan yang nyata.
Yang ada sekarang bukan amarah. Bukan juga kelegaan yang meluap atau kegembiraan atau sesuatu yang mudah diberi nama.
Lebih seperti kehadiran.
Mata orang yang benar-benar ada di tempat yang sedang ia ada, yang tidak sedang ada di tempat lain secara bersamaan, yang tidak sedang memikirkan tempat berikutnya atau hal berikutnya atau langkah berikutnya.
Hanya ada. Di sini. Sekarang.
Dengan cara yang belum pernah benar-benar Anne lihat di mata yang sama dalam dua puluh tahun lebih mengenalnya.
---
Jailani yang pertama bergerak.
Mengulurkan tangannya — dengan cara yang sederhana, bukan gestur yang dramatis, hanya tangan yang diulurkan ke arah orang yang sudah hampir satu tahun tidak bisa ia sentuh tanpa kaca di antara mereka.
Anne mengambilnya.
Dan mereka berdiri di sana, di parkiran Sukamiskin pada pagi hari Kamis yang tidak berbeda dari pagi-pagi Kamis lainnya kecuali bahwa ini adalah pagi ketika dua orang yang sudah lebih dari dua puluh tahun bersama berdiri berhadapan untuk pertama kalinya setelah hampir satu tahun terpisah oleh jarak yang tidak bisa dipilih.
Tangan yang sudah sangat familiar dan yang terasa tidak familiar dengan cara yang hanya bisa terjadi setelah cukup lama tidak menyentuh sesuatu yang harusnya familiar — ada sesuatu yang harus ditemukan kembali bahkan dari genggaman tangan.
Tidak ada yang berbicara.
Karena tidak ada kata yang perlu datang sebelum ini — sebelum momen ini selesai menjadi apa yang perlu ia menjadi, sebelum keduanya siap untuk kata-kata.
---
Di dalam mobil, Jailani duduk di kursi penumpang dan meletakkan tasnya di kakinya.
Anne mengemudi keluar dari parkiran, keluar dari kawasan itu, ke jalan yang membawa mereka ke arah rumah.
Pohon-pohon tua di sisi jalan — yang sudah sering Anne perhatikan dalam perjalanan keluar dari kunjungan-kunjungan sebelumnya, yang sudah menjadi semacam tanda bahwa ia sedang bergerak menjauh dari Jailani. Hari ini ia ada di mobil yang sama, di kursi sebelahnya.
Jailani menatap pohon-pohon itu.
"Pohon-pohon ini sudah sangat lama ada," katanya.
"Iya." Anne melirik ke arahnya sebentar sebelum kembali ke jalan. "Kamu memperhatikannya?"
"Dari halaman penjara ada satu pohon yang bisa dilihat waktu jam olahraga. Sudah sangat tua — lebih tua dari gedungnya, saya yakin itu." Jailani masih menatap ke luar jendela. "Saya sering melihatnya dan memikirkan bahwa pohon itu ada sebelum semua ini ada dan akan ada setelah semua ini selesai. Entah kenapa itu terasa — bukan menenangkan, bukan itu kata yang tepat. Tapi ada sesuatu dari permanensi yang tidak perlu peduli pada kita yang terasa benar."
Anne mendengarkan.
"Permanensi yang tidak perlu peduli pada kita," ulangnya pelan.
"Iya." Jailani berbalik dari jendela, menatap Anne yang mengemudi. "Kamu baik-baik saja?"
Pertanyaan yang pertama yang ia tanyakan — bukan tentang kasus, bukan tentang apa yang terjadi, bukan tentang langkah selanjutnya. Tentang Anne.
"Belajar untuk baik-baik saja," kata Anne. "Dengan cara yang berbeda dari sebelumnya."
"Cerita."
---
Mereka berbicara sepanjang jalan.
Bukan dengan cara percakapan yang sudah terstruktur — lebih seperti dua orang yang sudah sangat lama tidak bisa berbicara dengan cara ini, tanpa kaca dan tanpa batas waktu dan tanpa suara yang perlu cukup keras untuk terdengar melalui lubang kecil. Ada banyak yang ingin disampaikan dan tidak semuanya bisa disampaikan dalam perjalanan ini tapi perjalanan ini adalah tempat yang tepat untuk mulai.
Anne bercerita tentang kemeja linen biru tua yang pudar. Tentang teras dan tanaman dalam kegelapan. Tentang Bibi Ratna yang datang dua kali seminggu dengan sup yang katanya kurang bumbu. Tentang papan benang merah dan biru yang sudah diturunkan dari dinding dan sekarang ada di sudut ruang kerja. Tentang malam-malam yang tidak selalu tidur nyenyak dan pagi-pagi yang pelan-pelan menemukan ritmenya sendiri.
Jailani mendengarkan dengan cara yang sudah menjadi caranya sekarang.
Dan bercerita tentang Markum — tentang pertanyaan-pertanyaan polos yang lebih sulit dijawab dari pertanyaan pengacara mana pun. Tentang surat-surat yang ia bantu tulis dan baca. Tentang malam ketika kata *lelah* keluar bukan sebagai keputusan untuk berbicara. Tentang pagi setelah Bab 19, ketika ia menemukan bahwa menemukan sesuatu tidak berarti selesai menjaganya. Tentang pohon di halaman yang sudah lebih tua dari gedungnya.
Anne mendengarkan dengan cara yang sama.
Di antara cerita-cerita itu ada keheningan-keheningan yang tidak perlu diisi — jenis keheningan yang hanya bisa ada antara dua orang yang sudah cukup lama bersama untuk tahu bahwa tidak semua jarak antara kata-kata perlu ditutup dengan kata-kata lain.
---
Ketika Anne memarkir mobil di depan rumah, Jailani tidak langsung keluar.
Ia duduk sebentar, menatap ke depan ke arah pintu rumah yang dari sini terlihat sama persis seperti yang ia ingat — warna cat yang sama, anak tangga yang sama, pot tanaman di sebelah kiri pintu yang sudah lebih besar dari yang ia ingat.
"Terasa asing?" tanya Anne.
"Sedikit." Ia masih menatap pintu itu. "Tapi bukan asing yang buruk."
"Siap?"
Jailani memikirkan pertanyaan itu dengan serius. "Tidak tahu apakah siap adalah kata yang tepat." Ada sesuatu di sudut bibirnya. "Tapi mau."