JAIL AND E

Kukuh Ageng Pribowo
Chapter #20

Epilog: Hal-Hal yang Tetap Ada #20

Enam bulan setelah Jailani kembali, Bibi Ratna menikahkan anak bungsunya.


Bukan pernikahan besar — keluarga tidak besar, venue yang dipilih adalah rumah keluarga sendiri yang sudah terlalu lama tidak dipakai untuk hal yang menyenangkan, dengan tamu yang jumlahnya lebih dekat ke empat puluh dari empat ratus. Tapi ada makanan yang terlalu banyak karena Bibi Ratna menganggap kekurangan makanan di pesta adalah kesalahan yang tidak bisa dimaafkan, ada musik live dari satu grup kecil yang salah satu anggotanya adalah keponakan jauh yang baru belajar gitar listrik dan yang kualitasnya tidak selalu stabil tapi yang semangatnya tidak bisa dipertanyakan.


Jailani dan Anne duduk di meja yang sama dengan beberapa anggota keluarga lain — keluarga yang sebagian sudah sangat lama tidak mereka lihat karena jadwal dan jarak dan semua hal yang membuat orang dewasa yang sibuk tidak selalu menemukan cara untuk menjaga semua hubungan yang seharusnya dijaga.


Di tengah pesta yang berlangsung dengan cara pesta yang berlangsung — gaduh tapi hangat, tidak teratur tapi ada sesuatu yang mengalir di dalamnya yang tidak butuh teratur untuk nyata — Jailani dan Anne duduk berdampingan dengan piring di hadapan mereka yang sudah setengah kosong dan dengan percakapan yang ada di sekitar mereka yang mereka ikuti atau tidak ikuti tergantung pada apa yang sedang berlangsung.


Sesekali bertukar pandang.


Dengan cara yang tidak butuh kata-kata.


---


Ada seorang keponakan yang mendekati mereka di sela-sela makan — anak dari sepupu Anne yang jauh, perempuan muda sekitar dua puluh tiga atau dua puluh empat tahun, yang datang dengan cara yang menunjukkan ia sudah mempersiapkan keberanian untuk beberapa saat sebelum akhirnya benar-benar datang.


"Om Jailani," katanya. Menyebut gelar yang sudah tidak ada relevansinya secara formal tapi yang tetap ada karena begitulah cara keluarga menyebut seseorang yang sudah lama ada sebelum gelar itu ada dan yang akan tetap ada setelah gelar itu sudah lama hilang.


"Ya?" Jailani menatapnya.


"Saya..." ia berhenti sebentar. "Saya sedang mempertimbangkan untuk kerja di pemerintahan. Tapi orang-orang di sekitar saya bilang tidak ada gunanya, bahwa sistemnya tidak bisa diubah, bahwa orang-orang yang masuk dengan niat baik akhirnya hanya ikut-ikutan atau hancur." Matanya ada keraguan yang jujur di dalamnya — bukan keraguan yang dibuat-buat untuk terkesan atau untuk mendapat jawaban tertentu, tapi yang nyata. "Saya ingin tanya pendapat Om."


Jailani menatapnya.


Tidak langsung menjawab.


Bukan karena tidak punya jawaban — tapi karena ada pertanyaan seperti ini yang butuh beberapa saat sebelum dijawab bukan karena jawabannya tidak ada melainkan karena jawabannya perlu keluar dari tempat yang tepat, bukan dari tempat yang sudah siap dengan jawaban.


"Sistem memang tidak mudah," katanya akhirnya. "Dan orang-orang yang bilang itu ada benarnya." Ia berhenti sebentar. "Tapi saya bukan orang yang paling tepat untuk menjawab pertanyaan itu dengan cara yang kamu mungkin harapkan. Saya masuk dengan niat baik. Sesuatu yang tidak baik terjadi. Dan dari sesuatu yang tidak baik itu saya menemukan sesuatu yang tidak pernah saya temukan selama bertahun-tahun sebelumnya."


"Apa itu?"


Jailani tersenyum kecil — senyum yang bukan untuk meyakinkan orang lain, hanya sesuatu yang ada. "Bahwa saya tidak tahu. Dan bahwa tidak tahu itu tidak selalu harus diselesaikan sebelum kamu melangkah."


Perempuan muda itu menatapnya sebentar. Mungkin bukan jawaban yang ia cari. Tapi sesuatu di wajahnya menunjukkan bahwa ada yang ia bawa dari kalimat itu meski tidak sepenuhnya mengerti apa.


"Terima kasih, Om."


"Terima kasih untuk pertanyaannya," kata Jailani.


---


Di perjalanan pulang dari pesta, mereka memilih jalan yang lebih panjang.


Bukan karena ada alasan praktis — jalan yang lebih pendek lebih efisien dan keduanya sudah cukup lelah dari malam yang panjang. Tapi ada malam-malam tertentu yang lebih baik diperpanjang daripada dipercepat, dan ini adalah salah satunya.


Lampu-lampu kota dari dalam mobil terlihat seperti sesuatu yang berbeda dari yang terlihat di siang hari — lebih samar, lebih bisa diabaikan detailnya sehingga hanya ada cahaya dan gerakannya, tanpa semua konteks yang biasanya datang bersama dalam siang hari yang terang.


"Kamu memikirkan apa?" tanya Anne.


"Perempuan muda tadi." Jailani menatap ke luar jendela. "Pertanyaannya."


"Jawabanmu bagus."


"Bukan jawaban yang ia cari, mungkin."


"Mungkin bukan yang ia cari. Tapi mungkin yang ia butuh." Anne mengemudi sebentar dalam keheningan. "Kamu menyesal masuk pemerintahan?"


"Tidak." Tanpa ragu. "Saya menyesal beberapa cara saya ada di dalamnya. Cara saya terlalu banyak menjadi identitas jabatan itu dan terlalu sedikit menjadi diri saya sendiri. Tapi pekerjaan yang dilakukan — Program E, hal-hal yang sudah mulai bergerak sebelum dihentikan — itu tidak ada yang perlu disesali."


"Program itu masih ada," kata Anne. "Dalam bentuk yang berbeda. Saya baca beberapa waktu lalu — ada yang melanjutkan, meski dengan nama yang berbeda dan klaim yang berbeda tentang siapa yang memulainya."


Jailani mengangguk pelan. "Saya tahu."


"Tidak menganggu?"


Ia berpikir sebentar. "Dulu pasti menganggu. Sekarang..." ia berhenti mencari kata yang tepat. "Sekarang lebih terasa seperti: pekerjaan itu tetap ada bahkan ketika orang yang melakukannya tidak lagi ada di sana untuk mengklaimnya. Mungkin begitulah seharusnya pekerjaan yang baik — tetap ada bahkan tanpa namamu di atasnya."


Anne mendengarkan kalimat itu.


"Kamu sudah sangat berubah," katanya akhirnya.


"Iya." Tidak menolak. Tidak juga merendahkan diri. "Kamu juga."


"Iya."


Mereka mengemudi dalam keheningan beberapa saat — keheningan yang sudah menjadi salah satu bahasa mereka, cara berkomunikasi yang tidak selalu butuh kata-kata tapi yang tetap mengandung sesuatu.


"Wisnu?" tanya Jailani.


Anne melirik ke arahnya. Pertama kalinya nama itu disebut secara langsung di antara mereka.


"Saya cerita sekarang?"


"Kalau kamu sudah siap."


Anne berpikir sebentar. "Sudah."


Dan ia bercerita — tidak semua, tidak dengan detail yang tidak perlu, tapi dengan kejujuran yang sudah menjadi cara hidupnya sekarang. Tentang siapa Wisnu dan bagaimana ia ada dalam hidupnya sebelum Jailani dan bagaimana ia ada dalam kasus ini. Tentang pertemuan-pertemuan di kafe dan taman kecil. Tentang amplop yang diserahkan di bangku taman. Tentang piano yang dimainkan kembali.


Jailani mendengarkan tanpa menyela.


Ketika Anne selesai, ada keheningan yang sedikit berbeda dari sebelumnya.


"Kamu tidak harus menceritakan itu," kata Jailani akhirnya.


"Saya tahu." Anne menatap jalan di depan. "Tapi saya ingin. Karena ada bagian dari semua ini yang merupakan milik kita bersama untuk diketahui, bukan hanya milik saya sendiri untuk disimpan."


Jailani tidak langsung menjawab.


"Terima kasih," katanya akhirnya. Bukan hanya untuk cerita itu. Untuk semua yang ada di balik keputusan untuk menceritakannya.


"Kamu tidak ingin bertanya tentang Wisnu dan saya? Tentang sebelumnya?"


"Tidak sekarang." Suaranya bukan menghindari — lebih seperti seseorang yang sudah tahu bahwa ada hal-hal yang punya waktunya sendiri untuk dibicarakan dan yang malam ini bukan waktunya. "Mungkin suatu hari. Kalau terasa perlu."

Lihat selengkapnya