Tiga hari.
Abrar lenyap seperti kabut dijalan jakarta pagi-pagi ,Tanpa pesan.tanpa petunjuk. Bahkan jejak digitalnya ikut mati; WA centang satu, IG terakhir aktif entah kapan. seolah dia memang ingin dunia lupa kalu dia pernah ada.
Tado mencari ke mana-mana.ketempat kerja lama abrar.ke warkop langganan.ke halte tempat mereka mereka pernah berdam diam-diam. Bahkan ke rooftop gedung tua yang dulu jadi tempat abrar menghabiskan malam sendirian.semua nihl.
Langkah tado mangkin berat.seolah beban dipundak nya bukan cuma rasa khawatir, tapi juga penyesalan mungkin,selama ini dia terlalu sibuk dengan urusan sendiri, dan gagal menyadari sesuatu dalam diri abrar sedang retak.
hujan turun tipis malam itu.seolah Jakarta pun sedang berduka dalam diam. Tado berhenti di pinggir jalan, helm masih terpasang, jaket basah, dan tangannya gemetar. Bukan karna dingin.tapi karena takut.
Takut kehilangan satu-satunya orang yang mengerti dia tanpa harus banyak bicara.