Jakarta enggak Ramah, Tapi Aku Nekat Datang

muhammad rio al fauzan
Chapter #7

Tawaran yang datang dari Bayangan

Dua hari berlalu sejak Tado menemukan Abar di balkon kos lama sendirian, basah kuyup, dengan hoodie lusuh dan korek api yang menyala tak henti. Sejal itu mereka kembali tinggal sekamar. Tapi ada yang berbeda. Abrar lebih banyak diam, pandangan nya kosong, pikiran nya seolah berada di tempat lain yang tidak bisa di jangkau siapapun.

Dan Tado... ia masih memoli diam juga. Bukan karna tak peduli, tapi karna ia tahu: beberapa luka tidak bisa sembuh hanya dengan kata-kata. Ada luka yang butuh ruang. Dan waktu.

Namun pagi itu, ruang itu di dobrak waktu.

Abrar sedang mencuci muka di wastafel luar ketika suara langkah sepatu kulit terdengar mendekat. Bukan sandal jepit anak kos, bukan sepatu kets. Tapiu sepatu mahal yang langkahnya saja terdengar sombong.

"Lama juga kau di temukan," Suara itu tenang, tapi tajam. Abrar menengadah, air masi menetes di dagu nya. Di depan nya berdiri seorang pria dengan kemeja putih rapi, rambut licin, dan senyum sinis: Azka.

"siapa kau?" tanya Abrar, pura-pura tak kenal. Tapi jantung nya tahu Matanya tahu. Masa lalunya tahu.

"kau tahu siapa aku," jawab Azka, menyelipkan lengan ke saku. "SMD mengirim salam."

Abrar menegang. Nama itu seperti kutukan. sinar Mandiri Digital platfrom gelap berkedok startup keren. Dulu, tempat itu adalah jalan pintas menuju uang,pesta, dan pengakuan. Tapi setiap jalan pintas selalu punya lubang jebakan.

Lihat selengkapnya