Jakarta enggak Ramah, Tapi Aku Nekat Datang

muhammad rio al fauzan
Chapter #8

Isi yang Tak pernah Netral

Malam datang cepat di kosan itu. udara lembab jakarta menyusup lewat jendela kamar yang tak pernah benar-benar bisa ditutup rapat. Di atas meja kecil di pojok ruangan, flashdisk hitam itu tergeletak tenang diam, tapi terasa seperti menatap.


Tado menatap nya juga. Sudah hampir dua jam sejak Azka pergi. tapi benda itu belum juga disentuh. "Aku gangerti kenapa kau nggak langsung buang aja, Bar,"gumam nya pelan, bersandar di dinding.


Abrar duduk di lantai, punggung menempel ke lemari. Wajah nya tenggelam di antara bayangan dan cahaya dari lampu 10 watt di langit-langit. "Karena aku penasaran," jawab nya. "Karna bagian dari aku belum selesai."


Tado menelan ludah. 'Kalau isi flashdisk itu bisa narik kau kelubang yang sama, kenapa masih kau simpan?"

Abrar tidak menjawab. tapi matanya... ada perang di sana. Antara dendam dan harapan. Antara ketakutan dan rasa bersalah.


Flashback kilat menabrak benak nya: malam-malam di kantor SMD, monitor-monitor berkedip, suara notifikasi jackpot berdentang seperti musik setan, dan senyum orang-orang yang merayakan penderitaan pemain termasuk diri nya dulu. ia bukan hanya penonton. ia bagian dari mesin itu. penggeraknya.


"Kau tahu," suara Abrar patah. "Dulu aku nggak peduli siapa yang kalah. gaji gede, pesta tiap malam. sampai aku sadar... uang itu tumbuh dari bangkai."

Tado diam. Hanya mendengarkan. kadang itu yang paling dibutuhkan.


Lihat selengkapnya