"Tapi satu hal pasti... mereka pikir aku masih bisa di beli."
Kalimat itu mengantung di udara seperti abu rokok yang tak mau jatuh. Di antara dua manusia yang diam, hanya suara kipas angin tua yang memotong kesunyian dengan dengung pelan, seperti nafas panjang dari sebuah rahasia yang belum selesai.
Tado tak menjawab. ia hanya menatap Abrar seperti menatap reruntuhan. Bukan karna Abrar lemah, tapi karna ia tahu, bangunan kuat itu sedang retak pelan-pelan dari dalam. Dan tak ada seorang pun bisa menahan nya jika ia akhirnya runtuh.
Abrar berdiri di depan jendela. Lampu kota jakarta di ke jahuan seperti cahaya-cahaya kecil yang pura-pura ramah. Tapi dia tahu: kota ini tak pernah benar-benar ramah. seperti dunia yang dulu yang membesarkan nya, memberi rasa bangga, lalu mencampakkannya seperti baju kotor yang tak lagi muat.
"Menurutmu," suara Abrar pelan, "berapa harga rasa bersalah itu?"
Tado mengerutkan dahi.
"Aku lihat lagi tawaran itu... Gaji 120 juta. Apartemen. posisi manager. Semua mengkilap. Tapi di dalamnya ada wajah-wajah yang pernah kulihat menangis di depan mesin slot. yang kehilangan rumah. Anak. Diri mereka sendiri. Dan aku bagian dari itu, Do... Aku ikut menekan tombol yang bikin mereka kalah."
Ia tertawa pendek, getir. "Kau tahu kenapa aku enggak langsung tolak? karna ada sisi jahat dalam diriku yang belum mati."
Tado bangkit perlahan dari duduknya. Tak ingin membuat suara, tapi tahun ini bukan momen yang bisa ia lewatkan. ia dekati Abrar, berdiri di sampingnnya.
"Kau bukan orang jahat, Bar," katanya pelan. "Tapi sistem itu... mereka selalu tahu celah orang-orang baik. Mereka enggak butuh penjahat. Mereka butuh orang seperti kau yang dulu percaya bisa bantu orang dari dalam sistem, tapi akhir nya malah jadi bagian dari mesin."
Abrar tersenyum kecil. Tapi matanya tetap kalem. seperti daun yang tampak tenang, padahal ada pusaran tak terlihat di dasarnya.
Ia buka HP. Ada pesan masuk dari nomor asing.
Kesempatan ini tak datang dua kali. Besok pukul 10 pagi, kami tunggu di Menara setya lantai 22. Jangan terlambat. -A"
Abrar memandangi layar itu lama. seaksan huruf-huruf dalam pesan itu bisa berubah bentuk jadi wajah orang-orang yang pernah ia sakiti.
"Mereka tahu aku bakal mikir dua kali," katanya pelan.
"Dan mereka tahu, rasa penasaran lebih kuat dari rasa takut."