Aku duduk di kursi rotan yan menghadap jendela apartemen. Jakarta masih sama: bising, serakah, tak pernah benar-benat tidur. Tapi malam ini terasa lebih senyap. bukan karna kota berubah aku yang berubah.
Dadaku sesak. Diatas meja, ada map biru tebal dangan tulisan: kontrak kerjasama SMD Entertainment. Di dakamnya, masa depan, atau kehancuran.
Azaka duduk di seberangku. Tatapannya tenang, tapi matanya seperti pisau yang mengintai mangsa. Ia buakan lagi sekedar eksekutif muda. Ia adalah utusan iblis yang datang dengan senyuman manis dan janji 120 juta rupiah serta satu unit apartemen menghadap senayan City.
"Ini cuaman tanda tangan, Abrar. Nggak lebih susah dari bikin lopi, kan?" katanya sambil menyodorkan pulpen.
Kupandangi benda kecil itu. pulpen metalik hitam dengan logo perusahan yang terlalu mengilap, terlalu licik. Aku tau sekali setelahku tandatangani kontrak ini, aku bukan lagi sekedar Abrar. Aku jadi boneka. Boneka yang dilepas, dijual, dan dimanfaatkan.
Aku menarik nafas panjang. Ingatanku melayang ke medan. Kewarung kopi kecil tempat aku biasa ngopi dengan ayahku. Sederhana Tapi semua terasa nyata. Tidak seperti sekarang hidupku tersisa seperti set panggung sinetron murahan, lengkap dengan lightthing palsu dan naska yang sudah di tulis untukku.
"Aku butuh waktu," kataku pelan. Iya lagi-lagi aku butuh waktu.
Azka tersenyum tipis. "Waktu? masih kurang ? kau pikir SMD akan nunggu kau sembuh dari idealisme, Bar?"
Aku tahu maksudnya. Di dunia ini, idealisme adalah penyakit. Dan uang adalah obatnya. Tapi aku belum yakin mau sembuh.
Tado masuk membawa dua gelas teh hangat. Wajahnya lelah. Dia lebih banyak diam sejak kemarin. seolah tak ingin ikut campur, tapi aku juga tahu, dia juga bertarung dalam dirinya sendiri.
"Kau yakin, Bar?" tanyanya lirih, setelah Azka keluar ruangan.
"Entah. kau gimana?"
Dia duduk di sebelahku. Mengusap wajah. "Gue gak punya anyak pilihan. ibu gue di kampung lagi sakit. Gue butuh duit. Tapi gue takut kalau kita mulai jalan bareng Azka, kita nggak akan bisa berhenti.
Aku diam.
Kita sudah terlalu dekat ke pusat pusaran ini. uang nya sudah di depan mata. tapi juga jurang ada di bawahnya.
"Bar, kadang bukan soal baik atau buruk, tapi soal sapa yang lebih cepat ambil keputusan," lanjut Tado. "Azka mungkin berengsek tapi dia tahu caranya main di area ini."
Aku tahu. Dan itulah yang membuat nya berbahaya.