Pagi itu, matahari Jakarta menyala seperti spotlight yang terlalu terang, Cahaya memantul di kaca jendela kosan, manusuk mata seolah ikut mengingatkanku bahwa aku sudah resmi jadi milik SMD. Map biru kontrak itu sudah tidak di meja lagi; sekarang ada di laci kantor mereka, bersama entah berapa puluh jiwa lain yang juga pernah mendatangi kesepakatan serupa.
Di meja, Ponselku bergetar. Nama Azka muncul di layar.
"Azka: " Pagi ini, Bar. Hari ini mulai jam sembilan. Pakai kemeja putih. Jangan telat. Jangan tanya kenapa."
Tidak ada salam, tidak ada basa-basi. Aku tidak membalas. Tapi di kepalaku, aku sudah tahu: permainan sudah di mulai.
Di lobi gedung SMD, aroma parfum mahal bercampur dengan kopi yang terlalu pahit. Karyawan lalu-lalang dengan eskspresi sibuk yang entah beneran sibuk atau hanya pura-pura penting.
Azka menungguku di dekat lift.Rapi seperti biasa, jas hitam, rambut licin.
"Kau telat tiga menit," katanya sambil melirik jam tangan.
"Masih pagi," jawabku.
"Di dnia ini, tigamenit bsa bikin kontrak 30 miliar pindah tangan. Ingat itu."
Lift bergerak naik. Lantai 27. Ruangan meeting terbuka dengan pemandangan kota yang seolah bisa dibeli kalau punya cukup uang.
Haris duduk di ujung meja. Tangannya menepuk map hitam. "Abrar, ini jadwal tiga bulan pertama. Kau akan ikut beberapa acara, pertemuan investor, dan "ia berhenti sejenak," pesta."