Jakarta enggak Ramah, Tapi Aku Nekat Datang

muhammad rio al fauzan
Chapter #12

Manis Yang Menjerat

Angin malam masih membawa bau lembab Jakarta ketika aku berdiri di balkon kosan itu. Di bawah, lautan lampu-lampu kendaraan membentuk garis-garis cahaya yang bergerak lambat. Tapi yang lebih menusuk bukan pemandangan, melainkan perasaan aneh di tengkukku.


Tiga hari sejak pesta itu, hidiupku berputar lebih cepat dari jarum jam di pergelangn tangan. Azka bilang, " Bersiaplah, fase manisnya dimulai." Dan benar saja pagi ini, pintu kosanku di ketuk keras-keras.


Tado membukanya. Diluar, dua pria berjas hitam berdiri, diapit sebuah koper besar dan amplop tebal. salah satu dari mereka mengangguk singkat.

"Abrar maju. "Ya, saya."

"Surat resmi dari SMD. Ini kunci apartemen, ini jadwal pindahan. Dan ini " menyerahkan map hitam, " izin penggunaan kendaraan pribadi dari Kantor. Mobilnya sudah di basement."


Aku menatap benda-benda itu lama. Apartemen. Mobil . semua seperti gula yang dilemparkan ke semut.


Apartemen itu terletak di lantai 35 sebuah gedung yang bahkan nama nya saja terdengar mahal. saat pintu lift di buka, aku di sambut lorong berkarpet tebal, aroma bunga segar, dan keheningan yang membuat langkahku terdengar terlalu keras.


Begitu pintu unit di buka, mataku langsung diserbu cahaya dari jendela setinggi langit-langit. pemandangan kota membentang luas Jakarta terlihat seperti papan catur raksasa, dengan gedung-gedung sebagai bidaknya.


Di tengah ruang tamu, sofa kulit abu-abu menghadap televisi 80 inci. Dapur berkilau seperti baru di poles. Balkon pribadi menghadap ke bundaran HI. Rasanya ini cuma kulihat dari instagram orang-orang kaya.


Lihat selengkapnya