Jakarta enggak Ramah, Tapi Aku Nekat Datang

muhammad rio al fauzan
Chapter #13

Harga Yang Belum Terbayar

Foto itu masih di tanganku. Sudutnya sedikit tertekuk saatkubalik berkali -kali, seolah ada jawaban yang bisa mucul dari serat kertasnya. Di belakangnya, tulisan merah itu terasa seperti darah yang baru mengering: " Semua ini ada harganya. Dan kau belum tahu berapa."


Kupandangi jendela apartemen yang terbuka setengah. Dari ketinggian ini, mustahil ada orang yang memotret tanpa aku sadar , kecuali mereka sudah ada di dalam gedung.


Tado keuar dari kamar tamu, masih mengenakan kaos lusuh nya."Siapa ngirim itu, Bar?" Aku menggaleng. "Entah. Tapi yang jelas... orang ini tahu terlalu banyak."


Pagi berikut nya, aku memutuskan untuk tidak langsung ke kantor SMD. Mobil mewah itu kusetir sendiri keliling Jakarta, mencoba mencari banyangan motor hitam yang dua kali akulihat sebelumnya. Jalan macat pola dan benar saja, di kaca spion, motor itu ada. jaraknya konstan, helem full face nya tak pernah menoleh.


Kupacu mobil ke arah yang bukan jalur biasa, memotong ke gang daerah menteng. Saat kulihat lagi... motor itu sudah hilang.


Siang harinya, Azka menelpon. " Bar, kenapa enggak langsung ke kantor? Ada rapat."

"Ada urusan pribadi," jawabku singkat. Diam sebentar di ujung sana lalu suara Azka terdengar lebih rendah. " Kau tahu, di dunia ini... urusan pribadi sering kali cuma masalah waktu sebelum jadi urusan semua orang."


Aku menahan nafas. Kata-katanya seperti peringatan, atau ancaman, atau mungkin keduanya.

Lihat selengkapnya