"Apa maksudmu, Naufal?" suaraku terdengar serak. Dia melangkah masuk, menutup pintu apartemen dengan gerakan pelan terlalu pelam untuk orang yang cuma mau ngobol santai. Bau asap rokok dari jaketnya bercampur dengan hawa dingin AC, nenciptakan rasa taknyaman di tenggorokan.
"Kau pikir 'harga' yang mereka maksud cuma soal uang?" dia menatapku tajam. " Bar... yang mereka incar itu kau. Dan koper di mobilmu adlah pintu masuknya."
Aku berdiri, nyaris membanting kursi."Aku bahkan enggak tahu koper itu dari mana!" Naufal mendekat, jarak kami tinggal satu langkah. "Makanya aku di sini. karena kalu kau buka buka koper itu tanpa tahu isinya... kau enggak akan punya waktu untuk menyesal."
Ketukan di pintu memotong pembicaraan kami.
Tado. Aku tahu langkahnya. Tapi saat pintu kubuka, wajahnya pucat. " Bar... ada dua orang di lobby. Nanya kau katanya cuma mau ngobrol."