Jakarta malam itu seperti panggung raksasa lampu-lampunya berkedip, tapi setiap cahaya punya bayanganya sendiri. Mobil hitam yang kami tumpangi melaju tanpa suara berlabihan, mesinnya terdengar halus seperti menyimpan napas.
Aku duduk di kursi belakang, diapit ketegangan antara Tado yang gelisah dan Naufal yang tenang tapi waspada. Di depan, perempuan itu mengemudi tanpa menoleh, hanya sesekali melihat ke kaca spion seolah memastikan aku masih ada di kursi ini.
"Sapa dia? " bisikku pada Naufal.
"Orang yang lebih tau tentang koperitu di banding aku," jawabnya pelan, tanpa memalngkan wajah dari jalan. Tado mencondongkan tubuh, "Kalau begitu, kenapa enggak dari tadi kita ketemu dia? Kenapa harus tunggu sampai dua orang berkemeja itu nongol di depan pintu?"
Naufal menghela nafas. "Karena ada hal-hal yang cuma bisa kau mengerti... ketika kau sudah jadi target."
Kami melewati bundaran HI. air mancur di tengah nya memantulkan warna lampu neon dari billboard raksasa. Bagi orang lain, pemandangan ini romantis. Tapi di kepalaku, itu seperti lukisan indah yang menyembunyikan pisau di balik bangkainya.
Perempuan itu akhirnya bicara. suaranya tenang, tapi punya nanda yangbiasa memotong logam. "Koper itu... bukan kiriman acak. itu titipan. Dan kau, Abrar, bukan penerima pertama yang mereka rencanakan."
Aku menatapnya lewat pantulan kaca. "Siapa penerima pertama?" Dia tersenyum tipis, senyum yang lebih mirip peringatan. "Seorang yang sekarang sudah nggak bisa kau temui... kecuali di batu nisan."
Nafasku tercekat. Aku ingin bertanya lebih jauh, tapi Naufal menyela, "Kau mau cerita dari awal, atau kau mau dia menebak-nebak sampai mereka menamukan kita?' Peremouan itu menginjak pedal sedikit lebih dalam." Kita belum di tampat aman. kalau aku buka semua nya di jalan, kita bisa dapat pendengar yang engak di undang."
Tado berbisik di telingaku, "Aku enggak suka cara dia bicara." Aku mengangguk pelan. "Aku jugak enggak suka fakta bahwa dia tau namaku... bahkan sebelum aku tahu namanya."