Tiga ketukan keras itu menggema di dalam ruangan baja seperti palu hakim yang memutuskan nasib. Lampu neon sudah mati, menyisakan hanya suara napas kami yang berat. Bau besi dan debu bercampur jadi satu, menusuk hidung seperti peringatan yang tidak diundang.
perampuan itu bergerak duluan. Dalam kegelapan, geraknya hampir tak terdengar, seperti ia sudah hafal setiap sudut tempat ini. Aku mendengar bunyi gesekan logam dia sedang mengeluarkan sesuatu dari bawawah meja.
"Kalau mereka masuk, jangan tunggu aba-aba. Lari." Suaranya pelan tapi tegas, seperti guru yang mengajarkan cara berenang sambil mendorong muridnya ke laut.
Naufal berdiri di dekatku, tubuhnya tegang. "Mereka bukan sekedar penjaga. ini... eksekutor." Tado menelan ludah, aku bisa mendengarnya meski jaraknya setengah meter.
Ketukan ketiga barubah menjadi hantaman. pintu baja bergetar, bautnya manjerit. Dari luar, terdengar suara laki-laki, dalam dan berat, "Buka. atau kami ledakkan."
Perempuan itu menghampiri dinding samping, meraba sebuah panel tersembunyi. Bunyi klik terdengar, lalu sebuah pintu kecil terbuka pinti darurat, cukup untuk satu orang lewat.
"Kau dulu,"dia menatapku.
"Kenapa aku dulu?"
"Karena kalau kau mati di sini, semua yang kami lakukan sia-sia."
Aku merangkak masuk ke lorong sempit itu. Bau lembab lengsung menyerang, seperti napas ruangan yang sudah lama tidak disentuh manusua. Dindingnya terbuat dari plat baja, dingin menyerang sampai ke tulang.