Jakarta enggak Ramah, Tapi Aku Nekat Datang

muhammad rio al fauzan
Chapter #17

"Perahu Menuju Rahasia Terlarang"

Gelombang malam seperti dada orang yang baru saja berlari: naik-turun, penuh nafas terngah. Perahu karet yang kamj tumpangi memantul di atasnya, membuat setiap tulang di tubuhku beradu satu sama lain. Angin laut memukul wajah, asin bercampur dingin, tapi rasa di tenggorokanku lebih pahit daripada air garam.


Di belakang dermaga sudah jadi siluet samar. Lampu-lampu yang tadi terasa terlalu dekat kini hanya titik-titik kecil, seperti binatang yang malas bersinar. Aku masih menatapnya, mencari tanda-tanda Tado dan naufal. Tidak ada.


Perempuan itu memegang kendali mesin tempel, seperti orang memegang rahasia erat, tapi dengan santai yang mencurigakan. Wajahnya hanya setengah terlihat dari cahaya lampu kecil di panel perahu. rambutnya tertutup angin, tapi matanya tetap menatap ke depan, tidak pernah melirik ke arahku.


"Aku butuh tahu siapa kau," kataku akhirnya, suaraku kalah oleh suara mesin.


Dia tidak menjawab langsung. Perahu ini terus melaju, melewati kapal nelayan yang terikat longgar. sejenak, hanya ada bunyi air yang oecah di bawah kami.


"Aku orang yang pernah punya kesempatan untuk menghilangkan namamu dari daftar hitam itu," ujarnya akhir nya."Tapi aku tidak melakukannya."


"Kepalaku berputar." Kenapa? kalau aku beban, kenapa kau tidak singkirkan saja?" Dia tersenyum miring. "Karena beban yang tepat bisa jadi kunci yang membuka pintu yang tidak bisa kebuka sendirian."


Gelombang lebih tinggi mulai menghantam perahu. Air asin menciprat ke wajahku, dinginya seperti tamparan." Kitau kemana?" tanyaku sambil menahan pegangan kursi.


"Pulau kosong, tigabelas mil dari sini," jawabnya singkat. "Tiga belas mil? kita bahkan enggak bawa bahan bakar cadangan." Dia melirik ke tangki di bawah kusi. "Kita punya cukup. Kalau mesin tidak mogok...dan kalau mereka tidak mengejar."

Kata "mereka" itu menempel di kepalaku seperti bayangan.


Aku mencoba mencari posisi duduk yang lebih stabil, tapi lantai perahu licin. Mataku menatap ke air, berharap tidak melihat apa-apa, tapi masalah melihat sesuatu pantulan cahaya,

"Ada yang ikut," kataku cepat.


Lihat selengkapnya