Hujan turun seperti jarum-jarum tipis yang menembus celah baju, merayap dingin sampai tulang. Langkah kami tenggelam di tanah basah, setiap injakan mengeluarkan bunyi kecipak yang terdengar terlalu keras di tengah kesunyian.
Pohon-pohon dihutan ini berdiri seperti penonton bisu yang menunggu adegan berikutnya dari sebuah derama yang tidak pernah merekabayar untuk kesaksian.
Perempuan itu berjalan di depan, tubuhnya ramping tapi langkahnya pasti, seperti sudah mengenal tiap akar yang mengintai di bawah lumpur. Aku mengikuti, menjaga jarak setengh meter cukup dekat untuk menghindari tersesat, tapi cukup jauh untuk tetap waspada kalau-kalau ini jebakan.
Petir menyambar lagi, kilatnya memotret wajah dalam cahaya singkat: rahang tegas, mata yang tidak pernah mau kalah, san bibir yang mengunci kata-kata seperti brangkas menyimpan dokumen negara. Aku mulai merasa bahwa rahasia yang dia simpan bukan hanya tentang Tado, tapi juga tentangku.
"Berapa lama lagi?" tanyaku, suara nyaris tenggelam oleh deru hujan. "Lima belas menit... kalau kita tidak tersesat," jawabnya tanpa menoleh. Kalimat itu terasa seperti peringatan bukan kepastian.
Di tengah jalan, aku mulai mendengar suara lain selain hujan: detak pelan tapi konsisten, seperti logam di pukul lembut. Semangkin kami melangkah, semangkin jelas suara itu, seolah datang dari bawah tanah.
"Apa itu?
Dia tidak menjawab. Hanya mempercepat langkah.
Aku ingin terus bertanya, tapi tiba-tiba dia mengangkat tangan, memberi isyarat untuk berhenti. jantungku ikut berhenti sepersekian detik. Dari balik kabut hujan, samar-samar terlihat siluet bangunan tua sebuah ruma kayu besar yang seperti dilahap waktu. Catnya mengelupas, atapnya dipenuhi lumut, tapi jendelanya... jendelanya terang.