Hujan kembali turun, kali ini deras, seperti langit memutuskan untuk menenggelamkan pulau ini sebelum rahasianya terbongkar. Di luar rumah kayu itu, suara langkah berlari di pasir bercampur teriakan samar bahasa yang tidak kukenal, tapi nadanya jelas: mereka sedang berburu.
Pria itu memadamkan semua lampu, hanya meninggalkan cahaya redup dari lilin di sudut ruangan. Wajahnya tenggelam dalam bayangan, tapi matanya masih menatapku tajam, menghitung.
"Aku butuh jawaban sekarang," kataku setengah berbisik, senapan tua masih kugenggam. Dia menunduk sebentar, lalu berkata, "Tado pernah jadi bagian dari mereka. Dan aku... adalah alasanya dia keluar."
Kata-kata itu membuat darahku dingin. "Bagian dari siapa?" Pria itu tidak menjawab. Sebaliknya dia berjalan cepat kearah lamari, menarik keluar peti kecil dari bawah tumpukan kain tua. Dari dalamnya, dia mengeluarkan sebuah buku catatan lusuh, kulitnya retak-retak seperti kulit ular yang sudah mati.
"Ini semua jawabannya," Katanya melempar buku itu padaku. "Tapi kalau kau buka sekarang, kau mungkin tidak akan sempat membacanya."
Perempuan itu melirik keluar jendela, lalu berbalik denga wajah tegang. "Mereka masuk hutan. kita cuman punya satu jalan keluar." Kita kemana? tanyaku cepat. "Ke tebing belakang rumah. Ada jalur batu yang cuma bisa dilewati saat air surut."
Pria itu menoleh, rautnya tidak setuju. "Kalau kalian lewat situ, mereka akan tahu kalian menuju tempat itu." "Apa pilihan lain? Diam di sini sampai mereka bakar rumah ini?" jawab perempuan itu ketus.
Aku tidak tahu apa yang di maksud dengan tempat itu, Tapi intuisiku bilang jawabannya ada di sana dan mungkin juga jawaban yang akan memutuskan apakah aku bisa percaya Tado lagi atau tidak.
Kami bergerak cepat. Hujan membuat tanah jadi licin, udara basah menemprl di kulit seperti lem dingin. setiap langkah menimbulkan bunyi kecipak yang membuatku paranoid. Perempuan itu memimpin, menghilang entah ke mana.