Dentuman terakhir memantul di dinding gua, lalu sunyi menggantung. Air dari celah batu menetes perlahan, bercampur darah yang mengalir ke arah kaki. Tubuh dua dari tiga pengejar tergeletak tak bergerak, sementara yang ketiga sudah kabur ke arah jalur tebing.
Aku masih memandangi kartu identitas itu di tanganku. Nama Tado di atas foto buram membuat kepalaku berdenyut. Rasanya seperti sedang menelan batu.
Perempuan itu menatapku. "Apa itu? Aku menyembunyikan di saku. "Bukan apa-apa." Dia tidak bertanya lagi, tapi tetapnya bilang dia tahu aku berbohong.
Kami keluar dari gua lewat celah sempit yang mengarah ke sisi lain pulau. Hujan sudah mereda, tapi kabut tebal membuat segalanya terasa seperti mimpi buruk yang belum selesai.