Langkah kami menapaki dermaga tua , Kayunya berdecit seperti mengeluh karena menanggung rahasia terlalu lama. Kabut yang barusaja terbelah oleh matahari pagi kembali menutup, seperti memberi tahu bahwa pertemuan ini bukan untuk semua mata.
Di ujung dermaga, Tado berdiri. Ia tak banyak berubah tapi ada sesuatu di sorot matanya yang asing. senyum tipis nya terbit, namun rasanya seperti wajah yang dipasang topeng.
"Kau datang juga,"Katanya pelan, nadanya seperti orang yang sudah menunggu terlalu lama.
Aku mendekat, mencoba membaca gerak bibirnya, nafasnya bahkan jeda di antara kata-katanya. Tapi tak ada jawaban yang kutemukan di sana. "Ada banyak yang harus kujelaskan," Kataku.
Tado mengangguk ringan, lalu matanya beralih pada perempuan di sampingku. "Kau bawa dia?" Perempuan itu menatap balik, dingin. "Kau pikir aku akan gagal?" Aku memutar badan, mencari jawaban. "Siapa dia?" Tanyaku, nada suaraku meninggi. Tado tidak menjawab, hanya memberi isyarat pada perempuan itu untuk bicara.
Dia menghela napas, lalu berjalan melewatiku, "Namaku saka," ujarnya, suaranya tenang tapi berlapis sesuatu yang sulit kuterjemahkan." Aku bukan siapa-siapa di awal cerita ini. Tapi di akhir... aku adalah alasan kenapa kalian berdua masih hidup."
Aku terdiam. Nama itu tidak pernah terdengar di kepalaku. "Aku yang memotong jejakmu di Jakarta, Abrar. aku yang menghapus beberapa orang dari daftar mereka, menghapusmu. Dan tado..." Ia menoleh, memandang Tado dengan tatapan yang sulit di tebak. "Dia... yang membayarku."
Kepalaku seperti diisi bunyi logam beradu. "Jadi, kau dibayar Tado untuk membawaku?" Saka tersenyum tipis. " Bukan cuma membawamu. Menyelamatkanmu... sampai hari ini."