Perjalanan Aksara dan timnya—kini ditambah Lara—semakin mendekati perairan Ambon. Mereka bergerak perlahan di antara badai es kecil, menjaga agar perahu kecil mereka tetap tersembunyi dari Patung Sentinel RIZ.
Aksara merasa beban Lara membebani perahu mereka, bukan secara fisik, tetapi secara logistik. Mereka membutuhkan bahan bakar dan makanan lebih banyak.
"Komandan, kita butuh perbekalan yang cukup untuk menyeberang ke Maluku Utara," bisik Gema. "Rute terdekat melewati wilayah 'Gerombolan Laut Timur'."
Gerombolan Laut Timur adalah kelompok bandit teroris yang terkenal karena kekejaman dan keahlian mereka dalam pertempuran laut. Mereka bukan bagian dari Tangan Hitam.
Aksara menggeleng. "Kita tidak akan berkelahi dengan mereka. Kita akan bersekutu."
"Bersekutu? Mereka mencuri, menjual, dan membunuh tanpa tujuan!" bantah Sakti, ahli navigasi.
"Mereka butuh perlindungan dari RIZ, dan kita butuh sumber daya mereka. Itu namanya 'Logika Pragmatis'," jawab Aksara dingin, mengutip filosofi Kirana yang kini ia gunakan untuk tujuannya sendiri.
Aksara menggunakan 'jammer' sinyalnya untuk mengirimkan pesan terenkripsi ke frekuensi Gerombolan Laut Timur: "Bertemu di Pulau Saparua. Bahas persekutuan melawan RIZ. Kirana Zero telah melihat kita."
Panggilan Aksara berhasil. Dua hari kemudian, mereka berlabuh di pantai Pulau Saparua yang diselimuti salju tipis.
Mereka disambut oleh sekelompok bandit yang jauh lebih besar dari kelompok Tangan Hitam Aksara. Mereka berpakaian seragam kulit dan besi.
Pemimpin Gerombolan itu adalah seorang pria yang sangat tampan, dengan rambut panjang pirang tergerai yang kontras dengan seragam tempurnya yang kotor.
Pria itu melangkah maju. Matanya berwarna kuning dan ekspresinya terlihat santai, nyaris ceria.
"Kau Komandan Aksara. Aku 'Khaizan'," katanya, suaranya halus dan penuh percaya diri.
Khaizan adalah seorang yang memiliki pesona berbahaya. Dia memancarkan aura agak 'panseksual' yang terbuka, menyukai keindahan tanpa memandang jenis kelamin.
Namun, saat matanya bertemu dengan Aksara, matanya yang kuning bersinar dengan minat yang lebih dalam.
Aksara berdiri tegak, penutup matanya yang gelap dan wajahnya yang dingin membuat Khaizan terkesan.
"Imut, tapi mematikan. Sempurna," pikir Khaizan dalam hati.
Khaizan mengulurkan tangan. Aksara menjabatnya dengan dingin.
"Kami dengar kau menyerang kapal pasokan RIZ. Itu sangat berani. Tapi sendirian?" Khaizan menyeringai.
"Aku butuh bahan bakar dan amunisi untuk perjalanan panjang ke timur," kata Aksara. "Kau butuh jalur laut yang aman. RIZ mulai meningkatkan patroli Sentinel Laut mereka."