Jalan di Kepalaku

Rahmi Djafar
Chapter #1

Negosiasi Nyawa

Prolog

Setelah kelahiran anakku, Lumio, aku paling suka duduk di sebuah kursi di samping lemari kamar. Selalu ada rasa yang sulit kujelaskan, hingga kutemukan sebuah jalan dalam diriku. 

Aku sadar, di dunia ini memang tidak ada jalan untuk kembali ke masa lalu. Namun, di samping lemari itu, ketidakmungkinan selalu ada dan aku menikmati semua itu. Setidaknya, aku bisa menyelami diriku lebih dalam. Menyelami kesunyian yang terendap tanpa bisa kucegah. 

Udara sore itu tidak membuatku bergegas bangkit dari samping lemari buatan Irman. Tempat yang tidak berarti apa-apa bagi orang lain, justru sangat berarti dan menyelamatkanku. Aku menelusuri jalanku sendiri.

***

Seumur hidupku, tak pernah kubayangkan akan berada di titik ini. Namun, kehidupan punya kuasa membawa kita sesukanya.

Saat sebagian besar orang mulai pulas, aku dan Irman memesan kendaraan daring ke rumah sakit. Bangunan yang selalu menjadi tempat menakutkan bagiku. Meski begitu, kali ini aku harus berkompromi. 

Sepanjang perjalanan yang hanya berkisar lima belas menit dari rumahku, ternyata terasa begitu jauh, melelahkan, dan mendebarkan. Debaran yang tidak tertebak. Antara hidup atau mati. Antara bahagia atau sedih. Juga rasa takut dan was-was. Mampukah melewati dan kelak menjalani sesuatu yang baru dalam hidupku?

Tepat pukul satu dini hari kami tiba. Pendar lampu yang kepayahan macam memperjelas kemuraman dan menebar ketakutan menyambut kami. Ada rasa gigil yang mendobrak tubuh. Entah gigil oleh udara malam selepas hujan atau perasaan cemasku.

Aku turun dari mobil dengan perut yang terasa berat. Kulangkahkan kaki begitu pelan di samping Irman, sambil menengok ke kiri dan kanan, seolah ada sorot mata yang mengamati dalam keheningan. Kugenggam tangan Irman lebih erat. Kurapatkan tubuhku padanya, seolah jika terlalu berjarak aku bisa hilang arah. 

Irman seperti menyadari perasaanku. Sesekali dia mengelus pundak atau tanganku. Kadang dia mengajakku bicara sambil mengulas senyum, tapi semua itu tidak berhasil mengusir rasa khawatir. 

Beberapa kali kucoba mengalihkan pikiran. Namun, yang ada justru semakin membuatku tidak nyaman. Bau obat yang menusuk hidung dan bangunan berwarna putih itu bersetia mengantar langkah kami.

“Atur napas dan pikiran. Semua akan baik-baik saja. Ada saya di sini.” Irman mengayunkan genggaman tangan kami.

Aku hanya tersenyum tipis dan pikiran yang entah kemana arahnya.

Saat tiba di depan petugas pendaftaran, aku langsung diberi kursi roda. Irman diminta membawaku lebih dulu ke UGD. 

“Nanti setelah ibu dapat tempat, baru urus administrasinya ya, pak?” Ucap salah seorang perawat sambil tersenyum. Lagi-lagi, semua itu tidak mampu mengusir kecemasanku.

Irman mendorong kursi roda yang terasa ngilu di pendengaranku. Sepanjang perjalan aku seperti berada dalam lorong yang tak berujung. Baru ketika disambut petugas UGD aku agak lega.

Aku lalu dibaringkan di tempat tidur yang disampingnya dikelilingi tirai berwarna hijau sage. Di depan, sebuah jam dinding dan AC yang menyala. Tubuh dan jantungku menyambut suhu itu. Beberapa kali aku berusaha mengatur napas, sambil mendengar jarum jam berpindah. 

“Ayo semangat, calon ibu.” Irman lagi-lagi berkata dengan suara yang terdengar bersemangat.

Kurapalkan doa dan juga harapan. Kusuhakan untuk menguatkan diri seperti kata Irman.

Perut yang makin berat dan kaki membengkak, membuatku agak sulit bergerak. Meski begitu, aku juga ingin Irman tenang. Aku tahu, dia juga sebenarnya khawatir, tapi tidak ingin membebaniku. 

Tidak lama, kurasakan ada tendangan dari dalam perutku. Tendangan yang seolah sedang bersiap-siap akan menemuiku dan Irman. Seketika, aku merasakan bahagia.

Segera kuelus perut sambil merapalkan harapan-harapan baik. 

Dokter Nurmaya yang menanganiku selama awal kehamilan, datang beberapa saat kemudian. 

“Bagaimana kondisi saya, dok?” Aku langsung bertanya, begitu dokter Nurmaya yang selama ini menangani kehamilanku merampungkan pengecekannya.

“Kondisi ibu hingga saat ini baik-baik saja . Janinnya juga sehat dan aktif.” Dokter Nurmaya tersenyum sambil membetulkan gagang kacamatanya.

Aku merasa dadaku agak longgar begitu mendengar kalimat itu. Sayangnya tidak berlangsung lama. Rasa cemas kembali mengambil alih ruang pikiranku.

“Tapi kata orang-orang kalau kaki terlalu bengkak itu bahaya. Terus kalau telat masuk rumah sakit takutnya bayi keracunan ketuban, dok?”

Dokter Nurmaya tersenyum tipis. “Anggap semua itu peringatan untuk rajin mengecek saja. Sekarang, tenangkan dulu pikiran ibu. Biar persalinannya nanti semakin lancar.” dokter Nurmaya berkata dengan ketenangan penuh.

Kalimat itu menenangkanku. Senyum yang sering terpulas seperti merambat padaku. Irman masih mengurus administrasi. 

Ketika langkah dokter Nurmaya semakin menjauh, aku kembali was-was.

Kulayangkan tatapan ke sekeliling, seperti hendak memindai sesuatu. Perasaan dan situasi baru seperti ini, membuatku tidak tahu harus bagaimana. Kepergian Irman juga terasa begitu lama padahal hanya mengurus administrasi. Batinku. Aku terus-terusan melihat ke arah pintu masuk, berharap Irman segera muncul.

Seorang perawat datang mengecek tensi dan perutku. Aku dinyatakan masuk dengan kondisi pembukaan dua. Irman datang dan aku dipindahkan ke kamar yang diberi nama ruang nifas. 

Ada dua ranjang dalam satu ruangan. Satunya sudah terisi seorang ibu yang tampaknya sudah berpengalaman dalam hal melahirkan. Setidaknya itu tebakanku, sebab ada dua anak dan seorang lelaki yang barangkali suaminya, sedang menemaninya. Kedua anak yang usianya sekitar tujuh dan tiga tahun itu sudah pulas di tikar yang digelar di lantai samping ranjang, sementara suaminya duduk di sebuah kursi dan tidur sambil bersandar kepalanya. Dia sempat terbangun ketika kami masuk.

Setelah semua beres, aku berbaring. Kulirik lagi ibu tetangga ranjangku. Ternyata, dia belum tidur atau barangkali juga terbangun. Saat mata kami berpapasan, aku berusaha senyum dan dia pun membalas.

“Ibu mau lahiran normal?” aku coba membuka percakapan basa-basi.

“Ndak. Saya harus operasi. Bayi saya 4 kilo.” 

“Tidak takut?” aku bertanya hati-hati, meski akhirnya kusadari itu adalah pertanyaan konyol.

“Yang namanya melahirkan meski sudah berpengalaman, tetap saja takut. Ya, seperti akan menghadapi hidup dan mati.” Dia kembali tersenyum, meski tampak bicara dengan sisa-sisa tenaga.

Aku terdiam dan menatap langit-langit ruangan. Aku kembali tersadar oleh waktu dan memilih tidak melanjutkan percakapan. 

“Jangan takut, bu. Hidup dan mati itu kan sudah ada yang atur. Kita tinggal berdoa dan usaha yang terbaik saja.” perempuan itu tersenyum, seolah dapat membaca pikiranku dan berusaha menenangkan.

Aku tersenyum dan mengangguk. Dia memperkenalkan namanya Arlita.

“Yang perlu dilakukan saat ini, tenangkan pikiran dan berdoa saja.” 

Tampaknya, tetangga ranjangku itu suka bercerita atau barangkali itu juga sebuah upaya menghadapi persalinan.

Arlita terdiam beberapa saat. 

Irman memperbaiki bantal di kepalaku dan beberapa kali kutatap wajahnya berusaha menebak apa yang ada dalam pikirannya. Wajah itu teduh meski tidak ada senyum terpulas. Apakah dia sama khawatirnya denganku atau memang dia yang justru lebih siap menghadapi semuanya dibanding aku? 

Arlita terbatuk beberapa. Suaminya bergegas memberinya air minum. Lelaki itu baru memperkenalkan dirinya sebagai suami Arlita bernama Wahab. Sejenak mereka berkenalan basa-basi.

“Tapi sebenarnya…” suara Arlita tertahan beberapa saat. Aku menunggu tanpa suara. Arlita menatapku. Barangkali dia sedang memastikan aku masih berminta mendengar kata-katanya atau tidak.

“Saya memikirkan anak-anak saya. Bagaimana jika ini adalah kesempatan terakhir saya bersama mereka?” Wajah Arlita tampak murung.

“Tidak apa-apa, bu. Semua akan baik-baik saja.” Wahab berusaha menguatkan.

“Saya juga masih ragu-ragu. Apakah saya sanggup atau tidak? Saya takut mati.” Aku berkata pelan seolah hanya ditujukan untuk diri sendiri.

“Jika melahirkan itu selalu mematikan, tentu tidak ada ibu di dunia ini. Jadi kita berusaha dan berdoa saja.” Wahab menasehati lagi.

Arlita bercerita, mereka merantau untuk bisa menyambung hidup dengan berjualan di pulau terpencil. Akses untuk ke rumah sakit ini pun harus memakan waktu tiga hari.

Lihat selengkapnya