Jalan di Kepalaku

Rahmi Djafar
Chapter #2

Kita dan Waktu yang Melambat

Ketika terbangun, mataku langsung terarah pada jam dinding. Pukul dua lewat lima menit. Kurasakan tubuhku dingin. Di luar sinar lampu sedang berjuang menghadapi gelap malam dan gerimis yang malu-malu.

Aku baru sadar, Lumio tidak ada di sampingku. Padahal, tadi dia tidur di sampingku. 

Dengan rambut masai, aku bergegas mencari Irman. Pandanganku masih agak buram, tapi langkahku tergesa-gesa. Baru ketika melihat Irman di ruang tamu sedang menggendong Lumio, aku bernapas lega. 

Aku mendekat. Irman memberi isyarat padaku untuk lanjut tidur.

“Nanti kalau dicari Lumio, baru kubangunkan.” Irman berkata setengah berbisik.

Meski begitu, aku menolak. Beberapa saat kami seperti sedang berebutan menggendong Lumio. Akhirnya Irman mengalah dan memberikan Lumio padaku untuk disusui. Namun, Irman tidak tidur. Dia menunggu hingga aku selesai menyusui Lumio.

“Tenagamu banyak terkuras saat menyusui, jadi istirahat saja dulu biar saya yang jaga Lumio.” Irman membujukku.

Aku memang merasa masih lemas dan segera makan dan minum cepat-cepat lalu kembali ke kamar. Alih-alih tidur, aku justru membayangkan wajah Irman sambil tersenyum. 

Awal pertemuan kami dulu tidak begitu dramatis. Facebooklah yang mempertemukan kami. Padahal aku jarang menerima permintaan perteman, kecuali jika banyak teman bersama.

Perkenalan basa-basi di messenger menyingkap sesuatu yang tidak begitu kami perhatikan sebelumnya. 

Dia bilang pertama kali melihatku saat di Desa Belu. Seingatku, saat pulang kampung, aku jarang ke luar rumah. Kecuali ke warung atau ke rumah keluarga lainnya. 

Aku juga tidak pernah duduk-duduk atau berkumpul dengan teman-teman di sekitar rumah. Sejak dulu, jika ada acara keluarga yang dianggap ajang berkumpul dan ke luar rumah, aku jarang ikut. Aku tidak suka bercerita panjang lebar, apalagi dengan banyak orang dan suasana ramai.

Kata-kata Irman memaksaku mengingat-ingat dan menerka-nerka wajahnya. Sayangnya, semua itu tidak berhasil.

“Sebelumnya saya memang tinggal di kampung sebelah. Kampung mama saya.”

“Oh, pantas. Saya tidak kenal.” Aku berkata diikuti emotikon tertawa. “Jadi sekarang, tinggal di mana?”

“Di kampung papa saya. Desa Belu.” Irman menjelaskan dengan sabar.

Irman lalu meminta nomor whatappku. Aku memberikan tanpa mengulur waktu. Meski sebenarnya aku masih menerka-nerka wajahnya.

Dan malam itu, ketika baru selesai makan, aku masuk kamar. Irman seperti dapat memperkirakan hal itu dan langsung menelepon.

Kami berbasa-basi tentang kabar masing-masing. Lalu bercerita perihal kegemaranku mengurung diri di rumah. Aku lebih suka membaca komik atau novel. 

Meski Irman terdengar menyanjung, aku justru merasa berlebihan dan terkesan dibuat-buat. Kulanjut kata-kataku tanpa memedulikan pujiannya.

“Mungkin karena sejak kecil kami suka dengar cerita-cerita dari mamaku. Biasanya jelang tidur.”

Ibu lebih suka bercerita tentang hutan-hutan, laut, dan tumbuh-tumbuhan. Kata ibu, hutan dan laut itu adalah rumah dan juga orang tua.

Aku mengulang kata-kata ibu.  

Suara Irman terdengar antusias. “Pantas saja, mamamu memang cocok jadi guru.”

“Memangnya kenapa dengan guru?”

“Cerita-cerita mamamu tampaknya bagian dari sebuah didikan.” Irman menjelaskan.

Aku hanya merespons dengan kata oh. 

Irman lalu menebak bahwa ibuku suka menanam. Tebakan yang membuatku terasadar, aku sebenarnya tidak tahu kegemaran ibu selain mencari uang. Ah tapi itu bukan kegemaran, melainkan keterpaksaan. Sebenarnya, aku tidak begitu dekat dengan ibuku, tapi kusimpan semua itu dari orang yang baru kukenal.

Setelah pertemua itu, kadang Irman menelepon hanya sekadar bertanya kabar lalu bercerita tentang hal-hal lucu. 

Ternyata, tanpa sepengetahuanku, Irman yang kenal dengan beberapa keluargaku, sudah lebih dulu menceritakan tentang kedekatan kami pada ibu. 

Sore itu, ketika sedang duduk di teras rumah, ibu membuka percakapan. Ibu memang sudah pensiun dan sesekali datang ke rumahku di Kota M.

“Kemarin mama ketemu Irman di jalan. Sepertiya dia punya kegiatan di kota”

Aku kaget. Entah Irman siapa yang dimaksud ibu.

“Dia kirim salam.”

“Irman yang mana, ma?”

“Ada berapa Irman yang kau kenal di Belu?”

“Satu.” 

Ibu tersenyum entah apa maksudnya. 

Aku terdiam dan salah tingkah. Kuperbaiki duduk dan berusaha mengalihkan pembicaraan. Sepertinya ibu menyadari hal itu.

“Mama tidak paksa kau harus menikah sekarang, tapi kalau ada yang sudah cocok, menikah saja.”

Arah pembicaan ibu semakin diperjelas. Mau menikah dengan siapa? Orangnya saja belum ada. Aku membatin.

Ibu kembali melanjutkan kalimatnya. “Irman itu laki-laki baik. Kau tahu, kan? Firasat mama jarang meleset?”

Aku tidak bisa menjawab. Bagimana mungkin ibu menanyakan sesuatu yang aku pun belum pernah menjalaninya. Meski begitu, aku mengiyakan saja, agar percakapan tidak terhenti di situ agar ibu merasa senang.

Sebenarnya, aku masih penasaran dengan sosok Irman. Foto-fotonya di facebook juga hanya ada satu. Itu pun membelakangi kamera. Aku hanya melihat sosok yang tinggi, tegap, dengan rambut cepak.

Malam itu juga, kuputuskan untuk menghubungi Irman lebih dulu. Hanya sekali nada sambung, langsung terdengar suara bariton mengucap salam dari sana. Hatiku terasa senang ketika mendengar suara itu, tapi aku juga tidak tahu alasannya.

“Tumben. Telepon duluan.” Irman menyapa dengan nada ringan.

Kata-kata itu sejenak membuatku rikuh. Beruntung aku segera menemukan pegangan dan menanyakan perihal pertemuannya dengan ibu tadi. Irman mengiyakan. 

“Tapi kau tidak pernah kulihat sebelumnya.”

“Kalau begitu, ayo ketemu.”

Aku langsung menyetujui. Rasa penasaran yang tinggi membuatku mempercepat pertemuan itu.

“Di Taman Kota saja.” aku langsung mengusulkan lokasi itu.

Sebelum hari pertemuan tiba, aku yang bekerja sebagai wartawan mulai mengatur waktu liputan, agar tidak mengganggu saat hari itu tiba. Aku meminta izin untuk satu hari itu dengan alasan acara penting keluarga.

Hari pertemuan tiba dan aku yang lebih dulu berada di Taman Kota. Irman harus menempuh jarak sekitar lima jam dari Desa Belu untuk tiba di Kota M. 

Pepohonan berdaun lebat yang memayungi tepi pantai reklamasi itu, mengantar aroma asin laut. Lalu-lalang kendaraan dan penjual penganan yang berjejer mengalihkan pandanganku. Hingga kulihat seorang berambut cepak, mengenakan kaus hitam dengan celana jins, memarkir motornya lalu turun. 

Aku menerka-nerka, itukah Irman? Segera kutelepon dan ternyata benar. Kulitnya legam dan mengilap diterpa matahari pukul tiga. Tatapannya tajam ketika kami sudah berhadapan, alisnya agak tebal dan hidungnya agak mancul. Sementara tulang pipinya tampak sedikit menonjol dengan wajah berbentuk oval. Aku menatap sambil memindai wajahnya. Memang aku tidak kenal dan baru pertama bertemu dengannya.

Percakapan yang terasa rikuh dan silir yang seolah membekukan percakapan kami. Ternyata berbicara di telepon dan bertemu langsung itu, sangat jauh berbeda situasinya.

Lihat selengkapnya