Malam ketika orang-orang pulas, Lumio justru menolak tidur. Kadang dia menangis atau sekadar menggerak-gerakkan badan. Meski kantuk dan lelah menggamit, aku harus tetap menjaga dan memastikan dia baik-baik saja.
Lumio baru tidur pukul enam pagi dan bangun tengah hari. Jadwal mandi paginya terpaksa bergeser. Kadang ibu atau Irman yang memandikan. Aku masih belum berani memegang bayi yang tulang lehernya pun belum kuat.
“Belajar di mana cara mandikan bayi?” aku bertanya iseng pada Irman.
“Ponakan-ponakanku.” Irman terkekeh.
Aku hanya tersenyum dan kepalaku sudah terasa berat ingin segera tidur. Sayangnya, ketika itu terjadi, tidurku tidak bisa terlalu lama. Sementara Lumio masih pulas di sampingku, aku bergegas bangun untuk mencuci pakaiannya. Meski sebenarnya ibu dan Irman membantu, tapi aku usahakan agar bisa menangani banyak hal yang berhubungan dengan kebutuhan Lumio.
Semua itu tidak berlangsung lama. Irman harus bekerja. Dia mengambil pekerjaan yang upahnya agak banyak dari biasanya. Waktunya juga berbulan-bulan. Tempatnya di dekat Desa Belu. Jauh dari Kota M.
“Kita akan bisa video call dan bisa cuti juga.” Irman berjanji.
Aku merasa agak tenang, sebab selama ini keberadaan Irman sangat berarti bagi ketahanan fisikku.
Awalnya, aku merasa semua baik-baik saja. Tidak akan ada kendala. Adikku Sumi yang sudah menikah lebih dulu dan baru pindah ke Kota M, mulai rajin datang ke rumah. Ia membawa serta anaknya, Iwas, agar bisa berada di rumahku lebih lama.
Hari itu, jadwal tidur Lumio kembali berubah. Dia tidur saat pukul dua dan bangun saat subuh.
Kurasakan tubuhku gemetar dan lemas, ketika Lumio berhasil tidur. Segera kubuka kulkas dan mencari makanan apa saja yang bisa kumakan.
Ternyata, ibu menyodori sepiring bubur dan telur rebus. Sambil makan, mataku beberapa kali nyaris tertutup dan sering menguap.
Baru beberapa suap, tangisan Lumio terdengar. Buru-buru, aku mendatanginya dan kembali menyusuinya. Tidak lama, aku merasa hendak buang air kecil. Namun, tak bisa begitu saja ke kamar kecil. Sekuat tenaga, aku menahan rasa kencing, hingga Lumio benar-benar pulas kembali.
Beberapa kali aku menarik napas, berusaha menangkan diri sendiri. Bagaimanapun, aku tidak pernah seperti ini sebelumnya. Sumilah yang menjadi satu-satunya tempatku bertanya.
“Jadi, kakak harus bisa memanfaatkan waktu.” Sumi berkata, ketika aku menceritakan semua itu.
“Ternyata seberat ini.” aku berkata pada diri sendiri, tapi Sumi mendengar.
“Semua akan berlalu. Saat kakak merasa berat, ingatlah suatu saat Lumio beranjak dewasa dan akan punya kehidupan sendiri. Masa-masa ini akan menjadi kenangan yang dirindukan.” Sumi menasehati.
Aku mengangguk. Ada benarnya juga kata-kata Sumi. Namun, rasanya semua ini terlalu tiba-tiba dan aku tidak punya kesempatan untuk menyiapkan diri atau setidaknya belajar lebih dulu.
Suatu hari, ketika Lumio sudah pulas, kurasakan tulang-tulangku seperti meluruh. Aku menatap wajahnya yang teduh lalu mencium dengan hati-hati. Aroma sabun bayi, minyak telon dan hand body lotionnya masuk ke dalam indra penciumanku. Tetiba, air mataku jatuh. Aku menangis, bukan oleh rasa lapar dan menahan kencing yang berulang terjadi. Aku menangis oleh sesuatu yang aku sendiri pun tidak tahu penyebabnya.
“Semoga mama bisa jaga Lumio sampai bisa mandiri.” Aku berbisik, meski kutahu, Lumio tidak akan menjawab.
Hanya ada gerakan senyum dan tendangan ke udara yang intens.
Ketika ibu masuk kamarku, aku bergegas ke luar. Kubereskan perasaan tidak jelas ini dengan paksa. Tidak lama, Lumio terbangun dan aku segera menyusuinya lalu ibu menggendongnya.
“Makan dulu. Kondisi Lumio tergantung padamu.” Ibu mengingatkanku.
Alih-alih makan, aku justru bergegas masuk kamar. Cermin lemari yang kulintasi sejenak menghentikan langkah dan tatapanku. Aku seperti melihat sosok lain dari dalam cermin itu. Apakah aku sedang berhalusinasi? Kenapa ada sosok lain di dalam cermin? Sekomyong-konyong aku teringat film horor memantulkan sosok lain dari dalam cermin.
Kulihat sosok itu berambut masai. Perutnya buncit dengan lingkar dada agak lebar. Wajah itu kusam dan lingkar mata yang agak hitam. Aku mencoba tersenyum pada sosok itu. Dia pun ikut tersenyum. Ada lesung pipit yang timbul.
Kuayunkan tangan dan mencoba menyentuh cermin, ternyata dia juga melakukan hal yang sama. Seketika aku menyadari itu adalah diriku. Mata bulat dan alis tebal dengan bulu mata agak lentik, mirip Lumio.
Sejak kelahiran Lumio, aku nyaris tidak punya waktu istirahat. Aku juga jarang berkaca, apalagi menyisir rambut.
Segera kutinggalkan cermin dan duduk di tepi ranjang sambil memandang Lumio. Ternyata, apa yang kulihat di depan cermin tadi, memengaruhi pikiranku. “Bodiku harus kembali seperti dulu.” Aku membatin. Bagaimana jika sekarang teman-temanku lihat bentuk tubuhku?” aku kembali bertanya-tanya, meski kutahu tidak akan ada jawaban.
Baru kuingat, beberapa tetangga yang bertemu denganku di kompleks, sering mengira aku hamil lagi. Meski menjawab dengan senyum, tapi sebenarnya ada rasa tidak nyaman dengan semua itu.
“Iya, kalau bisa ikut KB dan hamilnya setelah Lumio sudah di atas dua tahun.” Kata seorang tetatangga.
Sejak kuliah hingga bekerja, aku rajin olahraga. Terutama renang. Makanku juga terjaga. Kadang saat mendapat bonus kerja, aku memanjakan diri di salon kecantikan. Aku menyukai aroma-aroma terapi apalagi pijatan di wajah dan badanku. Rasanya segala lelah yang menempel di tubuhku meluruh tak bersisa. Bahkan seringnya aku tertidur ketika sedang dalam perawatan di salon. Meski begitu, aku juga tetap mengatur pengeluaran dan pemasukanku. Selalu kuingatkan pada diriku “Cicilan rumah.”
Aku punya usaha sampingan dengan membuat roti lalu dititip di kios-kios. Kadang juga kutawarkan pada teman-teman dan agenda-agenda kampus lainnya.
Suara batuk ibu menyadarkanku. Aku melangkah ke samping lemari dan duduk. Kusandarkan kepala di kursi dan menatap plafon beberapa saat. Tarikan di tulang-tulang begitu terasa. Kuembuskan napas perlahan sambil menutup mata sejenak. Tiba pada ingatan tentang penampilanku di di cermin tadi, mataku langsung membuka. Jangan-jangan cermin itu yang cembung.
Kupalingkan wajah yang terasa lelah ke samping lemari. Tetiba kurasakan ada jalan yang membuka di kepalaku. Jalan yang bisa membawaku ke mana saja.
Segera, aku usap kasar wajahku lalu menggoyang pelan kepala. Ternyata itu hanyalah ilusi. Aku kembali menyandarkan kepala.
Tidak lama, aku sudah berjalan pelan dan hati-hati di sebuah lorong kecil yang panjang dan agak silau. Aku lalu melihat tubuh kanak-kanakku. Ada ayah juga di sana.
Ayahku seorang pekerja pekerja bangunan sekaligus pembuat kerajinan dari kayu. Ayah pernah berpesan padaku, harus jadi orang yang bertanggung jawab dan bisa mandiri. Pesan itu terdengar asing di telingaku. Untuk apa bekerja, kalau aku bisa terima uang dari ayah atau ibu?
“Uang itu ada kalau kita kerja.” Kata ayah ketika kutanya uangnya dari mana.
“Kan ada papa dan mama?”
“Yang namanya hidup kalau sudah dewasa, harus kerja.”
“Kalau begitu saya tidak mau dewasa. Biar bisa begini terus.”
Ayah tersenyum dan mengusap pelan kepalaku. Meski begitu, aku tetap menunggu jawaban ayah, tapi justru yang datang malah aku disuruh mandi.