Tangisan Lumio menarikku kembali pada kenyataan. Segera, kutinggalkan kursi di samping lemari itu dan bergegas mencari ibu dan Lumio. Barangkali aku sudah terlalu lama meninggalkan Lumio.
Tenyata, Lumio sudah bersama Irman. Padahal baru beberapa minggu kerja dia justru datang tanpa kabar.
“Kaget ya?” Irman menertawaiku yang terpaku di ruang tamu dengan rambut masai.
“Kenapa tidak bilang-bilang?”
“Namanya juga kejutan,” Irman tertawa “Saya sengaja tidak ganggu istirahatmu tadi. Nyenyak sekali soalnya.” Irman beralasan.
Aku tersenyum dan mengambil Lumio untuk disusui. Aku merasa ada yang luas dalam dada, ketika melihat Irman kembali.
Kata Irman, dia tidak jadi mengambil pekerjaan itu. “Kau kan baru habis melahirkan, saya tidak tenang kalau berjauhan terlalu lama. Nanti kalau Lumio sudah beberapa bulan, baru saya coba lagi ambil kerjaan yang sesuai upahnya meski agak jauh.” Irman menjelaskan, tanpa kuminta.
Ternyata Lumio hanya tertidur sejenak di tanganku. Begitu kaget, dia meronta-ronta dan menangis. Ibu datang dan mencoba menenangkan. Sayangnya tangisan Lumio semakin menjadi jadi.
Aku segera mengecek popok Lumio sesuai saran ibu. Ternyata dia tidak buang air besar. Pikiranku langsung tidak karuan. Jangan-jangan Lumio sakit atau apa? aku bertanya sendiri.
“Tidak ada tanda-tanda sakit.
Tidak lama, Lumio menggaruk-garuk kepala dan mengucak matanya.
“Oh, ngantuk.” ibu menyimpulkan dan memintaku menemukan posisi nyaman Lumio agar bisa tidur.
Aku membaringkan Lumio di ayunan kamar. Sayangnya, ketika dalam ayunan, Lumio masih saja menangis. Akhirnya aku ikut menangis “Lumio, tidur!” aku memarahinya dengan mata melotot. Rasa lapar yang melilit perutku rasanya bercampur aduk dengan tangisan Lumio.
Ternyata tangisnya semakin menjadi-jadi. Tangan Lumio berusaha menggapai-gapai wajahku.
Ibu dan Irman datang dan berusaha menenangkan Lumio. Tidak berhasil.
“Hati bayi itu sensitif. Kalau ibunya sedang tidak baik dia akan merasakannya.” Kata ibu sambil meraih Lumio dan menepuk-nepuk pelan pantat Lumio, “Tenangkan dulu dirimu kalau begitu.”
Irman mendekatiku dan mengusap pelan bahu lalu memelukku sejenak. Kutarik napas panjang dan mengembuskan perlahan. Beberapa kali kulakukan itu, barulah aku merasa agak tenang.
Di tangan ibu, Lumio sudah bisa tidur. Masih ada air mata yang menempel di pipinya. Kuambil Lumio dari tangan ibu. Di sisa-sisa kesadarannya, Lumio menggamit tangan ibu beberapa saat, lalu melepasnya.
Aku memeluk Lumio agak erat sambil berbisik “Maafkan mama.” Mata berkaca-kaca.
Apa yang baru saja kulakukan pada Lumio? Kenapa harus kumarahi? Kasihan dia tidak tau apa-apa. Dia hanya ingin perhatian dan mengungkapkan sesuatu yang belum ditahunya. Pikiranku semakin dipenuhi pernyataan yang nyaris tidak ada ujungnya. Aku lalu teringat sebuah utas tentang ibu dan bayi di media sosial. Katanya, ibu adalah dunianya bayi. Jika dunianya tidak menerimanya, lalu siapa lagi? Aku tertunduk dan menangis lagi.
Kubaringkan Lumio di tempat tidur dan menciumnya. Dia tampak bergerak dan menyeka wajah serta menggaruk badannya. Sungguh, melihat wajah dan membayangkan kemarahan sepintas tadi, membuatku semakin merasa gamang.
Sambil menatap langit-langit, kugerakkan badan ke kiri dan kanan. Terdengar bunyi tulangku. Ada perasaan bersalah pada Lumio.
“Makan dulu.” Irman masuk ke kamar dan berkata setengah berbisik.
Aku mengisyaratkan akan mengikuti kata-kata Irman sebentar lagi. Namun, sebelum ke luar kamar, ponsel yang sedari tadi di atas meja langsung kuambil. Kupotret lalu memvideokan Lumio yang pulas. Meski masih ada air mata, aku tersenyum melihat wajahnya yang teduh. Bagaimana mungkin aku memarahi mahluk tak berdosa ini?
Kali ini, Irman masuk ke kamar dengan membawa makanan. Tanpa kata-kata, dia menyodorkan ke depan dadaku.
Tidak butuh waktu lama untuk menghabiskan nasi satu piring beserta sop ayam itu. Meski aroma makanan menguar dalam kamar, tapi Irman tidak perduli dan segera mengeluarkan piring kotor.
Kuputuskan berbaring agak lama di samping Lumio. Tak berapa lama, kurasakan seolah ada lem di kelopak mataku. Hingga beberapa menit kemudian, aku terbangun. Kulihat Lumio masih pulas di samping, meski sudah membalikkan badannya.
Di luar kamar, kudengar Irman seperti sedang menerima panggilan telepon.
Aku mengingat-ingat, pekerjaan dapur apa yang belum kukerjakan. Ketika tiba pada ingatan nasi, aku bergegas bangun dan mengecek. Ternyata, ibu sudah memasak lengkap dengan lauk pauknya. Aku bergegas kembali ke kamar.
“Makan dulu sebelum Lumio bangun.” Ibu berkata setengah berbisik sebelum aku lenyap di balik pintu kamar.
Sepeninggalan ibu, alih-alih makan, aku justru membuka ponsel sambil melihat-lihat media sosial. Aku seolah menemukan duniaku di sana.
Berbagai postingan tentang ibu dan bayi muncul di berandaku.
“Ibu adalah dunianya bayi. Wajar jika ibunya tidak ada di sekitar anak maka dia akan menangis, karena merasa dunianya terasa hilang.”
“Mental ibu harus terjaga. Ibu yang sehat mental menghasilkan anak yang sehat dan bahagia.”
“Yuk bunda-bunda, kita kuat dan bisa menjaga buah hati kita.”
“Baby blues itu nyata. Obatnya adalah mental ibu yang baru melahirkan harus dijaga. Orang-orang terdekatnyalah terutama suami yang bisa membantu.”
Tiap kali membaca yang demikian, aku merasa tidak sendiri dan menemukan pegangan. Hanya saja, ada perasaan yang berbeda dari dalam diriku.
Tidak lama, sebuah utas melintas di berandaku dengan pertanyaan yang cukup mengaduk perasaan. “Apa yang paling ditakuti seorang ibu yang baru punya anak?”
“Mati ketika anaknya masih bayi.” sekonyong-konyong aku mengetik jawaban itu.
Jawaban itu sekaligus mengingatkan saat jelang persalinanku dulu. Sebelum punya anak, aku sama sekali tidak takut dengan kematian. Bahkan, ketika aku masih meliput berita di lapangan seperti bencana, bahkan pernah diteror akan dibunuh, aku tidak takut.
Begitu ada Lumio, aku sering berdoa, agar tidak mati sebelum dia dewasa.
Lumio terbangun. Aku bergegas menggendongnya dan ke ruang makan. Irman yang melihat itu hendak mengambil Lumio, sayangnya bayi itu tidak mau dan aku pun harus makan sambil menggendongnya.
Tangan kiriku kuletakkan kepala Lumio, dan pantatnya di tangan kananku. Irman yang menyuapiku. Hingga aku benar-benar merasa sudah kenyang, barulah Lumio menangis minta disusui. Sayangnya dalam waktu berasaan, kandung kemihku terasa penuh. Harusnya aku segera mengosongkannya di toilet, tapi keadaan tidak berpihak padaku. Sekuat tenaga, aku menahan diri ke toilet dan menyusui Lumio.
Begitu Lumio sudah tenang, barulah aku bisa menyelesaikan persoalanku yang tadi. Irman menggendong Lumio sambil menembangkan entah lagu apa.
Saat kembali dari toilet, kulihat Irman sudah bermain dengan Lumio. Sesekali keduanya tertawa.
Aku tersenyum sendiri, mengingat awal pertemuanku dengan Irman, Meski aku dulunya biasa-biasa saja merespons, tapi kini akulah yang senantiasa merindukannya. Bahkan ketika dia hanya ke luar rumah beberapa jam saja.