Jalan di Kepalaku

Rahmi Djafar
Chapter #5

Jejak-jejak Tak Berjarak

Irman membangunkanku disertai tangisan Lumio. Aroma segar sabun mandi berbaur lition bayi menyeruak dari badan mungil itu. Rupanya, Irman sudah memandikan dan memakaikan baju untuk Lumio. 

Ada rasa bersalah yang muncul, tapi Irman seperti dapat membacanya dan langsung senyum-senyum.

“Kau tidur terlalu lelap. Saya tidak enak mau bangunkan, tapi sebenarnya khawatir juga, jangan sampai ada apa-apa.”

Lumio sudah dalam pelukanku yang masih proses memperbaiki perasaan sisas-sisa tidur lama tadi. Bayiku mulai tenang. Irman ke dapur membuat kopi. Tinggalkan aku dan Lumio dalam kamar yang mulai remang-remang oleh matahari keemasan yang sebentar lagi akan lenyap. 

Aku mulai bermain dengan Lumio di atas ranjang. Beberapa saat kemudian, Irman datang bersama kopi. 

“Nanti kalau Lumio sama mama, kita perlu bicara.” Irman berkata masih dengan senyum.

Meski begitu, aku merasa ada yang tidak beres dengan gelagat itu.

“Soal apa?”

“Soal kita tentu saja. Masa mau cerita orang lain?” Irman tertawa.

Alih-alih tertawa, aku justru sibuk menebak-nebak sesuatu yang tidak pasti.

Demi bisa menemukan jawaban dan mengusir rasa penasaranku, aku langsung membawa Lumio pada ibu dan bergegas kembali ke Irman di kamar.

“Tadi saat kau tidur, saya dan Lumio sempat jalan-jalan di dekat perumahan tetangga.” Irman membuka percakapan sambil menyesap kopi hitam di sampingnya. 

“Terus?” aku tidak sabar menunggu inti pembicaraan.

“Saya sudah bicara dengan pengembangnya. Mereka siap menerima saya untuk kerja bangunan di sana juga,” Irman tersenyum sambil menatapku beberapa saat, “Ya memang upahnya tidak seberapa, tapi setidaknya cukup untuk kebutuhan sehari-hari sambil tunggu kerjaan yang lebih besar.” 

Aku tidak langsung menjawab. Ini sebenarnya terlalu tiba-tiba dan tanpa rencana apalagi diskusi sebelumnya. 

Kulihat ada binar senang di sorot mata Irman, hingga membuatku tidak tega untuk meredupkannya. Namun, bagaimana dengan Lumio jika saya sudah mulai masuk kerja lagi? 

Akhirnya keberatan di benakku kusampaikan.

“Kita bisa minta bantu mama dan Sumi. Ya tetap kita kasih gaji, meski belum bisa sebesar baby sitter profesional.”

Mendengar itu, pikiranku langsung terbuka. Rasa khawatir dalam diriku langsung sirna.

Beberapa hari setelah itu, apa yang kami rencanakan berjalan dengan baik. Aku juga mulai mengisi waktu cutiku yang tinggal beberapa hari lagi dengan membuat roti bersama ibu lalu menitipkan di beberapa kios-kios. 

Di malam hari, Irman sudah tidak bisa lagi membantuku menjaga Lumio yang terbangun Dia terlalu lelah hingga tidur pun mendengkur. 

Dengan sisa-sisa tenaga, aku tetap bangun jika Lumio terbangun. Aku mulai belajar bahwa Irman tidak selamanya bisa menangani pekerjaan rumah tangga dan mengurus anak. 

***

Hari itu, ketika Irman baru saja pergi kerja, Lumio tidur agak cepat sebelum Sumi datang. Aku bergegas mencuci pakaian sambil memasak, dan membersihkan rumah. Meski dibantu oleh ibu, aku tetap berusaha agar bisa menjalankan pekerjaan lebih banyak darinya.

Ketika Sumi datang, pekerjaan rumahku hampir selesai. Aku keluarkan ASI perah dari freezer dan memberinya ke Sumi.

Tidak lama, Lumio bangun lalu Sumi mengambilnya. Aku kembali ke kamar berharap bisa istirahat. Sayangnya, rasa kantukku seketika sirna ketika duduk di kursi samping lemari. Pikiranku kembali membuka jalan ke masa lalu. 

Sehari setelah aku wisuda, sebuah media nasional baru masuk di Kota M. Berbekal pengalaman di kampus, aku dan beberapa teman mendaftar. Hingga akhirnya kami diterima. 

Aku mulai berteman dengan Erna dan Hardi. Dari sekian banyak teman baru, kami bertiga langsung akrab hanya karena sama-sama suka minum kopi dan makan pisang goreng. Kami bahkan bisa menghabiskan waktu berjam-jam sambil mengetik. 

“Ternyata saya menganggur hanya sehari Untung juga tidak jadi DO.” Aku berkelakar.

Lihat selengkapnya