Book I: Aku Membenci Mama
Bab 1
Rahasia di Belakang Toko
Aku belajar tentang emas sebelum aku belajar tentang manusia.
Sejak kecil, aku sudah tahu bahwa emas bisa dilebur, dibentuk ulang, dan disimpan bertahun-tahun tanpa berubah sedikit pun. Namun keluarga tidak pernah seperti itu. Keluarga jauh lebih rapuh.
Orang-orang selalu mengatakan bahwa Golden Road adalah jalan keberuntungan. Namun ketika aku masih kecil, jalan itu hanyalah lorong sempit yang berbau kain basah, minyak lampu, dan debu dari peti-peti kayu yang dibongkar setiap pagi. Toko emas ayahku berdiri di tengah deretan ruko yang saling menempel rapat seperti gigi tua yang tidak pernah benar-benar terpisah.
Dari luar, tidak ada yang istimewa dari toko kami. Papan kayunya sudah kusam, sementara huruf-huruf emas di atasnya mulai memudar dimakan usia. Namun bagi kami, tempat itu adalah rumah. Dan seperti rumah lainnya, rumah kami juga menyimpan banyak rahasia.
Rahasia pertama keluarga kami lahir pada sebuah sore yang sunyi di belakang toko kain milik Lina. Saat itu aku belum memahami apa pun. Aku tidak tahu bahwa rahasia kecil itu suatu hari akan memecah meja makan keluarga kami seperti kaca yang dijatuhkan dari ketinggian.
---
Mei 1984
Musim panas datang lebih cepat tahun itu.
Panasnya menempel di dinding-dinding ruko bahkan setelah matahari tenggelam. Kipas angin gantung di dalam toko berputar lambat sambil mengeluarkan bunyi berdecit yang terdengar seperti keluhan tua yang tidak pernah selesai.
Golden Road selalu ramai menjelang malam. Radio dari toko obat memutar lagu Mandarin dengan suara pecah yang tenggelam di antara hiruk-pikuk jalanan. Di ujung gang, seorang penjual kacang memukul wajannya dengan sendok logam untuk menarik perhatian pembeli. Bau minyak bawang, asap rokok, dan kain lembap bercampur menjadi satu di udara.
Di dalam toko emas keluarga Liem, Tan Hwa duduk membungkuk di balik meja kayu tua. Lampu kecil di atas kepalanya menyala redup dan menerangi serpihan-serpihan emas di atas kain hitam yang terbentang rapi di meja kerjanya.
Mei Lan sangat suka memperhatikan papanya bekerja.
Matanya selalu mengikuti gerakan tangan lelaki itu yang tenang dan terampil. Tan Hwa memegang gelang emas yang putus dengan penjepit kecil, lalu memanaskannya di atas api biru sebesar ujung jari. Setelah beberapa saat, ia menempelkan potongan logam tipis pada bagian yang retak sebelum meniupnya perlahan.
Kadang-kadang ia mengikir pinggiran cincin dengan gerakan pendek dan cepat.
Srek… srek… srek…
Serbuk emas jatuh sedikit demi sedikit ke atas kain hitam.
Tidak ada yang dibuang.
Setelah selesai bekerja, Tan Hwa selalu melipat kain itu dengan hati-hati lalu mengetukkan ujungnya perlahan agar serpihan-serpihan kecil berkumpul di tengah. Menurut Ah Lian, bahkan debu emas tetaplah emas.
Di samping meja kerja, rantai-rantai yang sudah selesai diperbaiki digantung berjajar pada kait kecil. Setiap kali terkena hembusan kipas angin, rantai-rantai itu saling berbenturan pelan dan menghasilkan bunyi kecil yang akrab di telinga Mei Lan.
Ting… ting…
Menurutnya, toko emas mereka tidak pernah benar-benar sunyi.
Tak jauh dari sana, Tan Bun, adik Tan Hwa, sedang berjongkok di depan televisi hitam-putih kecil sambil memutar antenanya ke berbagai arah. Rokok yang menggantung di bibirnya tidak pernah benar-benar lepas, seolah mulutnya sudah terbiasa dipenuhi asap sejak lahir.
“Kalau terus diputar begitu, antenanya bisa patah,” gerutu Ah Lian dari arah dapur tanpa mengangkat kepala.
“Justru karena diputar makanya gambarnya bisa bagus,” sahut Tan Bun cepat.
Beberapa detik kemudian layar televisi dipenuhi bintik-bintik semut.
Ah Lian langsung mendelik tajam.
“Bagus apanya?”