Bab 2
Nafas yang Tidak Boleh Didengar
Gang belakang toko kain milik keluarga Jia Ning selalu lebih sepi dibanding bagian depan Golden Road.
Di sana tidak terdengar suara radio yang saling bersahutan, tidak ada pembeli yang menawar harga, dan tidak ada aroma minyak bawang dari penjual makanan di ujung jalan. Yang tersisa hanyalah suara kipas ventilasi tua, tetesan air dari pipa bocor, serta dengung malam yang menggantung pelan di udara musim panas.
Lampu kecil di atas pintu belakang toko menyala redup dan memantulkan cahaya kekuningan pada dinding semen yang mulai lembap dimakan usia.
Kian Seng berdiri kaku di depan Jia Ning.
Bocah lelaki berusia sepuluh tahun itu tampak jauh lebih tegang dibanding orang dewasa yang hendak menghadapi ujian hidupnya sendiri. Keringat kecil mulai muncul di dahinya meskipun malam tidak terlalu panas.
Sebaliknya, Jia Ning justru terlihat jauh lebih tenang.
Gadis kecil itu memejamkan matanya perlahan sambil menggenggam ujung bajunya sendiri. Dadanya juga berdegup kencang, tetapi ia berusaha tetap diam.
Semalam ia menonton film bersama mamanya. Dalam film itu, seorang pengantin pria mencium pengantin wanitanya dengan lembut, lalu semua orang tersenyum bahagia. Sejak tadi sore bayangan adegan itu terus teringat di kepalanya.
“Cepat,” bisik Jia Ning pelan tanpa membuka mata. “Mengapa lama sekali?”
Wajah Kian Seng langsung memerah.
“Aku sedang mencoba,” gumamnya gugup.
Jia Ning menahan senyum kecil.
Kian Seng menarik napas panjang sebelum akhirnya memberanikan diri mendekat. Gerakannya begitu kaku dan hati-hati seolah ia sedang mencoba memperbaiki barang mahal yang bisa pecah kapan saja.
Lalu perlahan, bibirnya menyentuh bibir Jia Ning.
Cup.
Hanya sebuah kecupan singkat, tetapi cukup membuat kepala Kian Seng terasa kosong seketika.
Jantungnya berdetak kacau, sementara wajahnya memanas sampai ke telinga. Ia bahkan belum sempat mundur dengan benar ketika...
Plak!
Sebuah pukulan mendarat keras di belakang kepalanya.
“Aduh!” seru Kian Seng sambil memegangi kepalanya kesakitan.
Ia buru-buru menoleh ke belakang dan mendapati Tan Bun berdiri sambil memoncongkan bibir dengan ekspresi penuh kemenangan.
“Kecil-kecil sudah pacaran!” serunya keras.
Namun seperti biasa, tidak ada keseriusan dalam nadanya. Tatapannya justru dipenuhi rasa geli melihat kepanikan Kian Seng.
“Acek!” protes Kian Seng sambil mengusap kepalanya.
Tan Bun mendengus kecil sebelum menyilangkan tangan di depan dada.
“Berani sekali kau, ya? Baru sebelas tahun sudah cium-ciuman di belakang toko orang.”
Wajah Kian Seng semakin merah.
“Dua belas.” bantah Kian Seng cepat.
“Masih belum genap.” tukas Tan Bun meralat.
“Sudah mendekati. Dan itu bukan cium-ciuman,” kilah Kian Seng tak kalah sengit.
“Oh?” Tan Bun mengangkat alis. “Lalu tadi apa? Berbagi napas?”
Kian Seng langsung membeku.
Sementara Jia Ning yang sedari tadi diam malah menutup mulutnya sambil menahan tawa.
Tan Bun semakin puas melihat reaksi mereka.
“Wah, kalau Xau Xau sampai tahu…” ujarnya sengaja menggantung kalimat.
“Acek, jangan bilang Mama!” potong Kian Seng panik.