Bab 3
Anting Anggrek untuk Mei Lan
Pagi itu suasana di dalam ruko keluarga Liem terasa lebih sunyi daripada biasanya. Baru beberapa saat rolling door dibuka, tangisan nyaring seorang anak kecil sudah terdengar sampai ke luar toko dan membuat beberapa orang yang melintas di Golden Road menoleh sekilas sebelum kembali melanjutkan langkah mereka.
Tangisan itu berasal dari Mei Lan.
Gadis kecil berusia enam tahun itu duduk tegang di atas kursi kayu dengan mata yang sudah dipenuhi air mata. Kedua tangannya menggenggam ujung rok kecilnya erat-erat, seolah kain tipis itu dapat memberinya keberanian menghadapi sesuatu yang menakutkan.
Di hadapannya duduk seorang perempuan tua dengan punggung tegak dan wajah yang sulit ditebak.
Nyonya Chen.
Perempuan itu mengenakan cheongsam cokelat tua bermotif bunga samar dengan rambut hitam yang disanggul rapi tanpa satu helai pun tampak keluar dari tempatnya. Wajahnya tidak terlihat galak, tetapi ada ketegasan dingin dalam tatapannya yang membuat orang lain secara naluriah menurunkan suara ketika berbicara dengannya.
Di Golden Road, banyak orang mengenal Nyonya Chen sebagai perempuan yang keras dan angkuh. Ia jarang marah dan hampir tidak pernah meninggikan suara, tetapi keheningannya sendiri sering kali terasa lebih menekan daripada bentakan.
Pagi itu, di atas meja kecil di depannya, telah tersedia kapas, botol alkohol kecil, dan sebuah kotak beludru merah tempat sepasang anting mungil disimpan dengan hati-hati.
Ah Lian berdiri di samping putrinya sambil membelai rambut Mei Lan perlahan.
“Jangan takut,” ujarnya lembut. “Sebentar saja.”
Namun Mei Lan tetap menggeleng cepat. Wajahnya sudah memerah sejak tadi.
“Biar Mei Lan terlihat tambah cantik..” bujuk Ah Lian lagi.
Tan Bun yang berdiri dekat lemari kaca langsung menahan senyum.
“Kalau begitu nanti acek saja yang memakai anting supaya cantik.”
Mei Lan menoleh dengan mata berkaca-kaca.
“Acek bohong.”
“Mengapa?”
“Karena acek jelek.”
Tan Bun terkekeh pelan sambil mengusap dagunya sendiri.
“Wah, mulutmu masih sempat menghina orang.”