Jalan Emas

Akana.T
Chapter #4

Anak Kebanggaan


Bab 4

Anak Kebanggaan


Juni 1984


Di Golden Road, anak pintar selalu menjadi kebanggaan seluruh keluarga.


Nilai yang baik dianggap sebagai tiket menuju masa depan yang lebih baik, sedangkan masa depan yang baik adalah sesuatu yang dipertahankan mati-matian oleh keluarga-keluarga kecil di jalan itu. Banyak dari mereka bekerja tujuh hari seminggu di balik etalase sempit dan kipas tua yang berputar tanpa henti demi memastikan anak-anak mereka memiliki kesempatan hidup yang lebih baik daripada yang pernah mereka miliki.


Karena itulah hari kelulusan selalu terasa penting.


Terutama bagi keluarga Liem.


Sejak pagi, rumah toko mereka sudah dipenuhi aroma bawang putih dan kecap asin yang mengepul dari dapur belakang. Ah Lian sibuk merebus ayam kecap dalam panci besar sebagai hidangan istimewa untuk malam nanti.


“Jangan dihabiskan sebelum makan malam!” bentaknya ketika melihat Tan Bun diam-diam menjulurkan sumpit ke arah panci.


“Aku hanya memastikan rasanya,” jawab pria itu santai.


“Kalau tanganmu masuk lagi, sumpitnya kupukul.”


“Xau, semakin tua kau semakin pelit saja.”


Tan Bun mundur sambil terkekeh, tetapi Ah Lian tidak kehilangan kesempatan untuk menyerang balik.


“Aku juga akan memasak menu besar di pesta pernikahanmu nanti.”


Seperti biasa, begitu pembicaraan menyinggung soal jodoh, Tan Bun langsung kehilangan semangat berdebat.


Semua orang di rumah itu mengetahui alasannya.


Cinta pertamanya tidak pernah menjadi miliknya.


“Mau menunggu sampai kapan?” lanjut Ah Lian sambil terus mengaduk panci. “Orangnya sudah menikah.”


“Anaknya mungkin sudah dua sekarang,” tambahnya.


“Kau masih saja hidup di masa lalu.”


Tan Bun mengangkat kedua tangan tanda menyerah.


“Baiklah, baiklah. Aku kalah.”


Ah Lian mendecakkan lidah sebelum kembali fokus pada masakannya.


Ia memang seperti itu. Ia pandai memasak, menjahit, mengatur keuangan rumah, bahkan membuat uang belanja yang pas-pasan terasa cukup untuk menghidupi seluruh keluarga. Namun jika sudah mulai mengomel, satu topik bisa dibahas berulang kali selama berjam-jam.


Pandangan Tan Bun kemudian beralih ke meja makan.


Di sana, Mei Lan duduk sambil menggoyang-goyangkan kaki pendeknya. Seragam sekolahnya masih sedikit kebesaran, sementara rambutnya diikat seadanya oleh Ah Lian pagi tadi sehingga beberapa helai tetap mencuat ke segala arah.


Seperti biasa, ia sedang menggambar.


Di atas selembar kertas bekas pembungkus emas, tampak gambar robot berkepala bulat yang diwarnainya dengan berbagai warna mencolok.


Tan Bun menghela napas.


Mei Lan selalu menggambar hal yang sama. Seolah-olah dunia di luar robot dan logam tidak pernah cukup menarik perhatiannya.


“Kau tidak ikut ke sekolah?” tanyanya.


Mei Lan menggeleng tanpa mengangkat kepala.


Gadis kecil itu memang mulai banyak berubah sejak kejadian beberapa bulan lalu.


Ia menjadi jauh lebih pendiam. Jika ditanya sesuatu, jawabannya biasanya hanya satu atau dua kata. Tidak lebih.


Tak seorang pun benar-benar memahami penyebabnya.


Ah Lian bahkan sempat membawanya ke dokter karena khawatir benturan di kepala yang pernah dialaminya meninggalkan dampak tertentu. Berbagai pemeriksaan dilakukan, tetapi hasilnya selalu sama.


Mei Lan baik-baik saja.


Setidaknya secara fisik.


Lihat selengkapnya