Jalan Emas

Akana.T
Chapter #5

Tamu Tak Diundang

Bab 5

Tamu Tak Diundang



November 1985


Ada jenis emas yang berubah warna secara perlahan.


Bukan karena sejak awal ia palsu, melainkan karena terlalu sering bercampur dengan logam lain sedikit demi sedikit hingga pada suatu saat orang tidak lagi mampu membedakan mana yang murni dan mana yang telah berubah.


Ketika masih kecil, aku belum memahami hal itu. Aku hanya tahu bahwa emas yang jujur selalu terasa berbeda di tangan.


Bertahun-tahun kemudian, aku baru mengerti bahwa keluarga juga bisa seperti emas.


Pada awalnya keluarga terasa hangat, utuh, dan dipenuhi kepercayaan. Namun hidup perlahan mencampurkan banyak hal ke dalamnya: uang, rahasia, rasa takut, serta kebutuhan untuk bertahan hidup. Sedikit demi sedikit semuanya mengubah warna yang sebelumnya tidak pernah dipertanyakan.


Malam ketika Paman Tan Bun membawa seorang wanita ke rumah kami adalah malam pertama aku melihat perubahan itu dimulai.


---


Hujan gerimis turun di Golden Road. Tetesan air mengalir dari ujung kanopi pertokoan tua dan memantulkan cahaya lampu jalan yang kekuningan. Satu per satu toko mulai menurunkan rolling door mereka, menyisakan suara gesekan besi yang panjang dan bergema di sepanjang gang sempit.


Di dalam rumah toko keluarga Liem, makan malam baru saja selesai.


Tan Hwa masih duduk di meja makan sambil memeriksa buku catatan toko. Ah Lian membereskan piring dan mangkuk ke dapur belakang dengan langkah cepat seperti biasanya. Di dekat etalase, Kian Seng sibuk mengerjakan soal matematika, sedangkan Mei Lan duduk di lantai sambil memainkan beberapa gelang rusak yang tidak lagi dijual.


Gelang-gelang itu saling berbenturan dan menghasilkan bunyi logam yang berulang-ulang.


Tan Hwa mengangkat kepala dari buku catatannya.


“Tan Bun belum pulang?”


“Iya, aneh sekali. Biasanya dia tidak pernah melewatkan jam makan,” jawab Ah Lian. “Aku bahkan sudah menyisakan nasi dan lauk untuknya. Takut dia belum sempat makan di luar.”


Bunyi gelang yang saling beradu terus terdengar di tengah percakapan mereka hingga akhirnya Ah Lian menghentikan kegiatannya dan menoleh ke arah putrinya.


“Astaga, jangan dimainkan seperti itu. Nanti hilang.”


Mei Lan segera menghentikan gerakan tangannya.


“Yang rusak pun tetap dihitung uang,” lanjut Ah Lian.


Gadis kecil itu menundukkan kepala, lalu mulai membereskan gelang-gelang tersebut.


“Kembalikan ke meja Papa.”


Mei Lan bangkit dan berjalan menuju meja kerja Tan Hwa. Pandangan Ah Lian mengikutinya beberapa saat sebelum ia berkata dengan nada heran,


“Mama sudah lama tidak melihat kamu menggambar robot lagi.”


Dulu Ah Lian mengira putrinya berhenti menggambar karena mulai tertarik pada pelajaran sekolah seperti Kian Seng. Namun kenyataannya tidak demikian.


Belakangan ini Mei Lan justru lebih tertarik pada perhiasan yang rusak. Ia sering duduk di dekat Tan Hwa ketika ayahnya menguji emas dengan batu uji, mengamati warna garis yang tertinggal di permukaannya, memperhatikan cairan asam yang diteteskan sedikit demi sedikit, dan melihat nyala api kecil dari alat solder yang menari di ujung logam.


Lihat selengkapnya