Jalan Emas

Akana.T
Chapter #6

Tempat di Rumah Ini

Bab 6

Tempat di Rumah Ini



Desember 1985


Ada emas yang tampak terlalu mengilap saat pertama kali dilihat. Orang-orang biasanya menyukainya karena kilau selalu lebih mudah dipercaya daripada ketulusan yang datang perlahan.


Namun ada pula jenis emas yang berbeda.


Warnanya tidak terlalu mencolok dan tidak langsung menarik perhatian. Akan tetapi, semakin lama disentuh, semakin terasa hangat.


Lin Yue seperti itu.


Pada awalnya, tidak seorang pun benar-benar tahu harus menempatkan dirinya sebagai apa di rumah kami. Ia bukan tamu, tetapi juga belum sepenuhnya keluarga. Kehadirannya membawa banyak pertanyaan yang tidak pernah diucapkan secara langsung. Namun hanya dalam beberapa minggu, perempuan itu perlahan masuk ke sela-sela kehidupan kami seperti seseorang yang memang telah lama tinggal di sana.


Tanpa kami sadari, rumah kecil keluarga Liem mulai berubah mengikuti keberadaannya.


---


Pagi di Golden Road selalu dimulai sebelum matahari benar-benar terbit.


Suara rolling door yang dibuka bersahutan dari satu toko ke toko lain. Aroma minyak panas dari penjual cakwe bercampur dengan wangi teh melati dan udara lembap yang masih menyisakan jejak hujan malam sebelumnya.


Hari itu Ah Lian bangun lebih pagi dari biasanya.


Namun ketika ia berjalan menuju dapur belakang, lampu dapur sudah lebih dahulu menyala.


Ia berhenti sejenak.


Di depan kompor, Lin Yue sedang mengaduk bubur panas sambil meniup uap yang mengepul dari panci. Rambutnya diikat sederhana, sementara lengan bajunya digulung hingga siku.


“Kau kenapa bangun sepagi ini?” tanya Ah Lian heran.


Lin Yue segera menoleh.


“Aku takut merepotkan kalau bangun kesiangan. Dulu di rumah aku juga biasa membantu Ibu sejak pagi.”


Ah Lian mendecakkan lidah.


“Kau sedang hamil besar. Seharusnya lebih banyak duduk. Kalau terus bekerja seperti ini, orang bisa mengira aku menyiksamu.”


Lin Yue tersenyum kecil.


“Kalau duduk terus malah pegal.”


Ah Lian tidak menjawab lagi.


Meski begitu, pagi itu untuk pertama kalinya sejak Lin Yue datang, ia tidak memasak sendirian.


Tak lama kemudian terdengar langkah kaki menuruni tangga kayu.


Kian Seng muncul dengan seragam putih biru yang masih belum rapi. Rambutnya tampak setengah kering setelah mandi terburu-buru.


“Ma,” katanya sambil mendekat, “ada kertas kalkir?”


Ah Lian langsung mengernyit.


“Kertas apa lagi itu?”


“Kertas gambar yang tipis.”


“Kenapa baru bilang sekarang?”


“Aku lupa...”

Kalimatnya menggantung sendiri. Semua orang tahu kenapa ia lupa. Ah Lian menghela napas panjang.


“Pagi-pagi begini toko mana yang sudah buka?”


“Hari ini harus dibawa. Kalau tidak, nilaiku bisa dikurangi.”


Nada panik mulai terdengar dalam suara Kian Seng. Namun sebelum Ah Lian sempat memikirkan solusi, Lin Yue menoleh dari depan kompor.


“Kertas kalkir?”


Kian Seng langsung mengangguk.


“Iya.”


“Aku punya beberapa lembar.”


Ah Lian menatapnya terkejut.


“Kau punya?”


Lin Yue tersenyum malu.


“Dulu aku sering membantu tetangga membuat pola jahitan. Kadang-kadang kami memakai kertas kalkir.”


Ia berjalan perlahan menuju tas kainnya dan mengeluarkan sebuah map plastik yang sedikit kusut. Dari dalamnya muncul beberapa lembar kertas kalkir dan sebuah spidol hitam yang masih dalam kondisi baik.


Lihat selengkapnya