Jalan Emas

Akana.T
Chapter #7

Kotak Merah Berbentuk Hati

Bab 7

Kotak Merah Berbentuk Hati



Januari 1986


Ada emas yang disimpan bukan karena nilainya.


Kadang sebuah cincin diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya bukan karena kadar emasnya tinggi, melainkan karena seseorang pernah memakainya sambil tertawa. Kadang sebuah liontin tua tetap disimpan meskipun warnanya mulai kusam karena benda itu menjadi satu-satunya kenangan yang tersisa dari seseorang yang telah pergi.


Ketika masih kecil, aku belum memahami hal-hal seperti itu.


Bagiku, emas hanyalah emas. Ia bisa dibedakan menjadi murni atau tidak murni, asli atau tidak asli. Aku belum mengerti bahwa bagi orang dewasa, menjaga perasaan seseorang sering kali dianggap lebih penting daripada menyampaikan kebenaran.


---


Malam itu hujan turun perlahan di Golden Road.


Air menetes dari ujung atap seng dan memantulkan cahaya lampu toko yang satu per satu mulai dipadamkan. Di rumah keluarga Liem, meja makan dipenuhi lembaran catatan dan suara perhitungan yang tidak kunjung selesai.


Biaya dokter.


Biaya persalinan.


Biaya pakaian bayi.


Biaya obat-obatan.


Tan Bun duduk sambil menggaruk kepala berkali-kali.


“Kenapa manusia lahir mahal sekali?” keluhnya. “Anak sapi lahir tinggal minum susu. Ini belum lahir saja sudah membuat bapaknya hampir miskin.”


Ah Lian langsung mendecakkan lidah.


“Kalau murah, nanti kau bikin anak tiap tahun.”


Semua orang tersenyum kecil, termasuk Tan Bun. Namun senyum itu tidak bertahan lama karena mereka sama-sama mengetahui keadaan toko sedang tidak terlalu baik. Dalam beberapa bulan terakhir jumlah pelanggan berkurang, harga emas naik turun tanpa arah yang jelas, dan biaya hidup terasa semakin berat.


Lin Yue yang sejak tadi hanya mendengarkan akhirnya berdiri perlahan.


“Sebenarnya...” katanya pelan, “aku masih punya sesuatu.”


Semua mata langsung tertuju kepadanya.


Lin Yue berjalan menuju lemari kecil di dekat tangga dan mengeluarkan sebuah kotak merah berbentuk hati. Kotak itu terlihat tua. Sudut-sudutnya mulai memudar, tetapi tetap tampak terawat dengan baik seolah telah dijaga selama bertahun-tahun.


Ia membawanya ke meja makan lalu membuka tutupnya perlahan.


Di dalamnya tersimpan sebuah gelang emas tipis, sepasang cincin kecil, dan sebuah liontin berbentuk bunga dengan ukiran sederhana.


Kilau perhiasan itu memantulkan cahaya lampu ruang makan.


Tan Bun mengangkat kepala.


“Itu...”


Lin Yue mengusap pinggir kotak tersebut dengan ujung jarinya.


“Peninggalan Mama.”


Suaranya terdengar lebih pelan dari biasanya.


“Dulu Mama bilang perempuan harus selalu punya simpanan sendiri. Karena itu beliau menabung sedikit demi sedikit untuk membeli semua ini. Katanya, suatu hari nanti benda-benda ini bisa dipakai saat aku menikah.”


Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan.


“Tapi ternyata saat hari itu datang, Mama sudah tidak ada.”


Matanya mulai berkaca-kaca.


Tan Bun segera menepuk pundaknya dengan lembut.


Lin Yue berusaha tersenyum, meskipun kesedihan di wajahnya masih terlihat jelas.


Ah Lian terdiam. Selama beberapa minggu terakhir, ia beberapa kali memergoki Lin Yue mengusap air mata diam-diam. Ia tidak pernah bertanya karena merasa setiap orang berhak menyimpan dukanya sendiri. Namun malam itu ia mulai memahami bahwa perempuan muda itu ternyata sangat merindukan ibunya.


“Kau keluarga Liem sekarang,” kata Ah Lian lembut. “Aku yakin ibumu melihat semuanya dari surga dan ikut bahagia.”


Lin Yue mengangguk pelan.


Perhatian Ah Lian kembali tertuju pada isi kotak merah tersebut. Ia memang tidak terlalu memahami emas seperti Tan Hwa, tetapi bagi mata orang biasa, perhiasan itu tampak cukup meyakinkan. Warnanya mengilap, bentuknya rapi, dan tidak menunjukkan sesuatu yang mencurigakan.


Lihat selengkapnya