Jalan Emas

Akana.T
Chapter #8

Warna yang Berbeda

Bab 8

Warna yang Berbeda



Akhir Januari 1986


Waktu kecil, aku pernah berpikir keluarga mirip seperti emas.


Dari luar, semuanya bisa terlihat menyatu.


Tinggal di rumah yang sama. Makan di meja yang sama. Memanggil satu sama lain dengan nama yang sama.


Namun semakin lama aku tumbuh… aku mulai menyadari bahwa kedekatan tidak selalu berarti kemurnian yang sama.


Karena emas yang ditempatkan berdampingan belum tentu berasal dari campuran yang sama.


Sebagian terasa hangat saat disatukan.


Sebagian lain tetap terasa asing meski diletakkan berdampingan bertahun-tahun.


Saat itu aku belum memahami arti semua perasaan itu.


Aku hanya tahu bahwa beberapa benda terasa seperti “satu keluarga.”


Dan beberapa lainnya… tidak pernah benar-benar menyatu meski kilaunya terlihat sama.

---


Minggu pagi itu Golden Road masih setengah mengantuk.

Kabut tipis sisa hujan malam menggantung di antara deretan ruko tua. Beberapa pedagang baru mulai membuka rolling door sambil menguap dan menyapu lantai depan toko mereka.

Di toko keluarga Liem, Tan Hwa sudah duduk di meja kasir sejak pagi.

Hari itu mungkin akan menjadi salah satu dari hari tersibuk sepanjang hidupnya. Hari ini toko emasnya hanya buka setengah hari... karena acara perjamuan nikah Tan Bun akan dilaksanakan sore hari nanti.

Namun bertepatan dengannya... hari itu juga barang baru datang dari supplier. Buku stok terbuka di depannya. Beberapa kotak kecil berisi gelang, cincin, dan kalung masih berserakan di atas meja kaca etalase yang belum dibuka untuk pelanggan.

Suara radio kecil dari toko sebelah memutar lagu Mandarin pelan. Suara Teressa Teng dengan lagu andalannya Thien Mi Mi membahana memenuhi ruangan toko.

Sementara Ah Lian dan Lin Yue masih sibuk di dapur belakang menyiapkan sarapan.

Tan Bun belum bangun.

“Acek-mu kalau tidur seperti orang dibayar,” gumam Ah Lian dari belakang tadi.

Tan Hwa hanya tersenyum kecil mendengarnya.

Di lantai dekat etalase, Mei Lan duduk bersila sambil membantu mengeluarkan perhiasan dari kotak beludru kecil.

Di sebelahnya, Kian Seng duduk sambil mengerjakan PR matematika dengan wajah setengah mengantuk.

Sesekali ia melirik tumpukan perhiasan di depan adiknya lalu menggeser bukunya menjauh sedikit. Berbeda dengan Mei Lan... ia bersikap hati-hati tak ingin merusak dagangan papanya.

“Awas.. hati-hati jangan sampai hilang.” ujarnya sesekali.

Namun tangan Mei Lan yang tak henti-hentinya memainkan perhiasan itu memecah konsentrasinya untuk mengerjakan tugasnya.

“Jangan kasar-kasar... nanti rantainya putus..”

Dan tak lama kemudian... ketika rasa cemas itu mula mencapai puncaknya,

“Kau tak belajar? Bukannya besok kau ada ujian?”

Adiknya hanya diam tak menjawab. Selalu begitu... Mei Lan sangat jarang berbicara.. hingga terkadang Kian Seng hampir lupa bagaimana suara adiknya itu.

Tangannya tetap bergerak pelan.

Tenang.

Satu gelang diletakkan di kanan.

Satu cincin di kiri.

Beberapa rantai dipisahkan sendiri.

Kian Seng sempat memperhatikan sebentar lalu mengernyit.

“Kau menyusunnya aneh.”

“Harusnya berdasarkan model.”

Mei Lan tetap diam.

Tan Hwa awalnya tidak terlalu memperhatikan.

Anak kecil memang sering suka bermain dengan benda mengkilap.

Namun beberapa menit kemudian…

keningnya mulai sedikit berkerut.

Karena susunan Mei Lan terasa aneh.

Bukan berdasarkan:

bentuk,

ukuran,

atau model.

Kalung borsalino bercampur gelang kecil wanita.

Rantai figaro bercampur cincin polos.

Tak ada pola yang masuk akal bagi mata biasa.

Namun setelah beberapa saat memperhatikan…

Tan Hwa mulai menyadari sesuatu.

Kelompok sebelah kanan— semuanya kadar sembilan satu.

Kelompok kiri— kadar tujuh lima.

Sementara beberapa barang supplier baru dengan kadar lebih rendah… dipisahkan Mei Lan sendiri dekat kakinya.

Lihat selengkapnya