Bab 9
Retakan yang Pertama
Waktu kecil, aku pernah berpikir bahwa emas selalu rusak karena api.
Panas memang mampu melelehkan bentuknya. Api dapat mengubah cincin menjadi cairan, menghapus ukiran yang dibuat dengan susah payah, dan menghilangkan jejak yang pernah ada.
Namun setelah tumbuh dewasa, aku mulai memahami bahwa sebagian emas justru retak jauh sebelum masuk ke dalam tungku.
Bukan karena terbakar.
Melainkan karena tekanan kecil yang dibiarkan tinggal terlalu lama di dalamnya.
Retakan itu pada awalnya hampir tidak terlihat. Kadang hanya berupa jeda sesaat sebelum seseorang menjawab namamu, tatapan yang berubah sepersekian detik terlalu lama, atau senyum yang masih tampak sama, tetapi tidak lagi terasa hangat.
Sama seperti emas yang perlahan patah dari bagian paling halusnya, keluarga pun sering kali tidak hancur karena satu peristiwa besar. Kehancuran itu biasanya dimulai oleh retakan-retakan kecil yang tumbuh diam-diam dari dalam.
Sampai sekarang, aku masih sering bertanya-tanya apakah sejak hari itu Mama mulai membenciku.
Mungkin akulah orang pertama yang membuat retakan itu terlihat.
Akulah yang menunjuk noda kecil yang seharusnya tetap tersembunyi di balik kilau rumah kami.
Dan seperti banyak orang yang bekerja dengan emas, sebagian orang lebih memilih menyalahkan cermin daripada menerima kenyataan bahwa logam di tangannya memang tidak semurni yang selama ini mereka percaya.
---
Menjelang siang, rumah keluarga Liem jauh lebih ramai daripada biasanya.
Suara percakapan memenuhi lorong sempit ruko. Bunyi piring porselen beradu terdengar dari dapur belakang. Aroma minyak wijen, ayam rebus, dan bawang putih tumis bercampur dengan wangi dupa yang sejak pagi dinyalakan Ah Lian di altar leluhur kecil dekat tangga.
Hari itu adalah hari pernikahan Tan Bun.
Pesta yang digelar memang tidak semewah pesta keluarga-keluarga kaya di pusat kota, tetapi bagi keluarga yang tinggal di Golden Road, acara tersebut sudah termasuk sangat meriah.
Sejak pagi, kerabat mulai berdatangan sambil membawa kotak kue pengantin dan bingkisan merah. Sepasang lilin naga dan phoenix menyala terang di atas meja altar. Di depannya tersusun dua cangkir teh kecil, jeruk mandarin, manisan biji teratai, kacang merah, serta semangkuk tangyuan hangat sebagai simbol kehidupan yang manis dan keluarga yang utuh.
Di lantai atas, Tan Bun sedang dipakaikan jas sambil terus mengeluh karena rambutnya dipenuhi pomade.
“Kepalaku seperti digoreng minyak babi,” protesnya.
Ucapan itu langsung mengundang tawa para temannya.
Sementara itu, di lantai bawah, para bibi sibuk mengatur baki merah berisi angpau dan perhiasan seserahan. Kursi-kursi mulai dibungkus kain merah untuk dibawa ke restoran tempat perjamuan malam akan diselenggarakan.
Sekilas, semuanya tampak normal.
Semuanya tampak bahagia.
Namun Ah Lian merasa seolah-olah sedang berdiri di dalam ruangan yang dindingnya perlahan bergerak mendekat dan mempersempit ruang bernapasnya.
Sejak pagi tangannya tidak pernah berhenti bekerja. Ia menyusun cangkir, mengantar teh, menyambut tamu, dan tersenyum setiap kali seseorang memuji keharmonisan keluarganya.
Akan tetapi, pikirannya tidak pernah benar-benar berada di sana.
Setiap beberapa menit, ingatannya kembali pada suara kecil Mei Lan pagi tadi.
“Yang ini semua barang curian.”
Kalimat itu terus berputar di kepalanya seperti radio rusak.
Singkat.
Polos.
Tanpa keraguan sedikit pun.
Yang paling mengganggunya bukanlah perkataan Mei Lan, melainkan wajah Tan Hwa setelah mendengarnya.
Ia masih ingat bagaimana warna wajah suaminya perlahan memudar. Wajah seseorang yang mungkin baru saja menyadari sesuatu yang selama ini hanya berani ia curigai.
Tan Hwa terus memeriksa kait rantai itu berulang kali. Bekas kikisan kecil, harga pemasok yang terlalu murah, barang-barang yang datang terlalu cepat, semuanya tiba-tiba terasa mengerikan ketika disusun menjadi satu gambaran utuh.
Tanpa sadar, Ah Lian menggenggam nampan teh sedikit terlalu erat.
“Ah Lian?”
Ia tersentak dan menoleh.
Salah seorang bibinya sedang memandang heran.
“Wajahmu terlihat pucat. Kau tidak apa-apa?”
Ah Lian segera tersenyum.
“Aku baik-baik saja. Hanya sedikit lelah.”
Wanita itu tertawa kecil.
“Memang begitu kalau ada acara pernikahan. Nanti kalau sudah punya menantu sendiri, kau akan tahu repotnya.”
Ah Lian ikut tertawa pelan.
Namun setelah wanita itu pergi, senyumnya segera menghilang.
Tidak lama kemudian, suara mobil tua berhenti di depan ruko.
“Mama datang,” gumamnya refleks.
Beberapa kerabat segera memberi jalan ketika seorang wanita tua turun perlahan dari kursi belakang mobil.
Tubuhnya kurus dan tegak. Rambutnya disanggul rapi di belakang kepala. Cheongsam cokelat tua membungkus tubuhnya tanpa satu lipatan pun tampak salah.
Nyonya Chen.
Mama Ah Lian.
Ia bukan tipe nenek yang gemar tersenyum atau memeluk cucu-cucunya. Tatapannya tajam, nada bicaranya datar, dan rasa khawatirnya hampir selalu terdengar seperti sindiran.
Sejak muda, perempuan itu memegang satu keyakinan sederhana: keluarga hanya dapat bertahan apabila ada seseorang yang cukup dingin untuk tetap berpikir jernih.
“Ma.”
Ah Lian segera menghampirinya.
Nyonya Chen hanya mengangguk kecil sebelum menyapu seluruh ruangan dengan pandangannya.
Lilin.
Meja altar.
Kotak seserahan.
Kerabat yang lalu-lalang.