Jalan Emas

Akana.T
Chapter #10

Suara di Meja Bundar

Bab 10

Suara di Meja Bundar


Waktu kecil, aku pernah berpikir bahwa toko emas hanya menjual perhiasan.


Namun semakin besar, aku mulai mengerti bahwa yang sebenarnya diperdagangkan orang-orang di Golden Road adalah rasa percaya. Mereka percaya bahwa emas yang dibeli benar-benar asli, bahwa timbangan yang digunakan tidak dicurangi, dan bahwa orang yang duduk semeja dengan mereka tidak sedang menyembunyikan sesuatu.


Karena sekali saja kepercayaan itu retak, yang hancur biasanya bukan hanya sebuah bisnis. Kadang-kadang seluruh keluarga ikut tenggelam bersamanya.


Dan malam pernikahan Tan Bun adalah pertama kalinya aku melihat bagaimana ketakutan dapat masuk ke sebuah meja makan, lalu duduk diam di antara anggota keluargaku.


---


Restoran Golden Dragon malam itu jauh lebih terang daripada biasanya.


Lampion merah menggantung rapat di langit-langit. Meja-meja bundar ditutupi kain satin merah marun, sementara di tengah setiap meja berdiri vas kecil berisi bunga peoni plastik yang dikelilingi piring-piring berisi kacang semangka merah.


Para pelayan mondar-mandir membawa teko teh panas. Suara sumpit beradu dengan mangkuk porselen bercampur dengan gelas-gelas yang saling bersulang. Anak-anak berlari di sela-sela kursi sambil tertawa riang.


Di dekat panggung kecil, foto pernikahan Tan Bun dan Lin Yue dipasang dalam bingkai emas besar. Dalam foto itu, Tan Bun tersenyum terlalu lebar, sedangkan Lin Yue tampak cantik mengenakan qipao merah dengan senyum gugup yang lembut. Perutnya yang mulai membesar terlihat jelas di balik kain satin yang membungkus tubuhnya.


Malam itu Lin Yue duduk di kursi pengantin sambil menerima ucapan selamat dari kerabat yang datang bergantian. Pipinya mulai terasa lelah karena terlalu banyak tersenyum, tetapi ia tetap tampak bahagia, atau setidaknya berusaha terlihat bahagia.


Tan Bun jauh lebih santai dibanding istrinya. Bahkan sebelum hidangan kedua disajikan, ia sudah membuka dua kancing atas jasnya.


“Aku sudah bilang dari awal,” gerutunya sambil menuang teh ke dalam cangkir. “Pernikahan itu lebih capek daripada angkat lemari besi.”


Ucapan itu langsung mengundang tawa dari para sepupunya.


“Belum nanti kalau harus begadang jagain bayi,” sahut seseorang dari ujung meja.


Tawa kembali pecah.


Lin Yue menunduk malu sambil mengusap perutnya perlahan. Sebaliknya, Tan Bun justru tertawa paling keras.


“Kalau anaknya nangis terus, kubawa tidur di toko saja,” katanya bercanda. “Sekalian belajar hitung emas sejak kecil.”


Tawa kembali bergema di meja pengantin.


Namun di meja keluarga utama, suasananya sedikit berbeda.


Ah Lian duduk dengan punggung tegak sambil sibuk menuangkan teh untuk tamu yang datang memberi selamat. Ia tetap tersenyum, mengangguk, dan menjawab setiap sapaan dengan ramah. Akan tetapi, pikirannya sama sekali tidak berada di dalam ruangan itu.


Sejak tadi, pandangannya beberapa kali beralih kepada Tan Hwa.


Suaminya terlihat jauh lebih diam dibanding biasanya. Ia masih tersenyum ketika diajak berbicara dan tetap menjawab percakapan dengan sopan, tetapi terlalu sering melamun. Beberapa kali ia tampak memutar-mutar gelas teh kosong di tangannya, dan setiap kali ada orang menyebut kata "barang", matanya selalu terangkat secara refleks.


Ketika hidangan ketiga baru saja keluar dari dapur, dua pria di meja sebelah mulai berbicara dengan suara yang lebih pelan.


Mereka sama-sama pemilik toko emas di blok lain Golden Road.


“Katanya pagi tadi toko Wong kena razia.”


Sumpit di tangan Ah Lian berhenti sesaat.


Pria yang lain mendengus pelan.


“Sudah kudengar.”


“Katanya bukan soal pajak.”


“Kalau begitu narkoba?”


“Bukan.”


Pria pertama menurunkan suaranya sedikit lagi.


“Barang panas.”


Suasana restoran tidak langsung berubah. Orang-orang masih tertawa di meja lain. Para pelayan tetap berlalu-lalang membawa makanan. Musik pernikahan masih terdengar lembut dari pengeras suara.


Namun entah mengapa Ah Lian merasa udara di sekelilingnya mendadak menjadi lebih berat.


Tan Hwa tidak mengatakan apa-apa, tetapi tangannya berhenti bergerak.


“Katanya polisi sekarang sedang memburu jalur penadah,” lanjut pria itu. “Beberapa supplier lama juga mulai diperiksa.”


“Memang sudah waktunya,” sahut rekannya. “Sekarang terlalu banyak toko yang ingin untung cepat.”


Seseorang mendecakkan lidah.


“Emas curian sekarang makin sulit dibedakan.”


Kalimat itu membuat Ah Lian langsung teringat pada ucapan Mei Lan pagi tadi.


‘Yang ini semua barang curian.’


Dadanya mendadak terasa sesak.

Lihat selengkapnya