Jalan Emas

Akana.T
Chapter #11

Nama yang Dibawa Pulang

Bab 11

Nama yang Dibawa Pulang


Ada emas yang diberi cap nama keluarga.


Bukan agar terlihat lebih indah, melainkan agar semua orang tahu ke mana emas itu akan kembali. Cap itu menunjukkan siapa yang berhak menyimpan, siapa yang berhak mewarisi, dan siapa yang suatu hari boleh menyentuh seluruh isi lemari besi keluarga.


Waktu kecil, aku mengira nama hanyalah sebuah panggilan.


Namun di keluarga kami, nama kadang jauh lebih berat daripada emas itu sendiri.


---


Pagi itu rumah Tan Hwa dipenuhi aroma jahe dan minyak wijen.


Di dapur, Ah Lian sibuk memotong ayam untuk sup pemulihan Lin Yue. Panci besar yang telah dipanaskan sejak subuh mendidih perlahan di atas kompor.


Di dekat meja makan, Nyonya Chen duduk sambil memilah telur merah ke dalam keranjang bambu. Ia melakukannya satu per satu dengan teliti, sesekali memeriksa apakah warna merah pada kulit telur sudah rata.


“Jangan terlalu lama merebusnya,” katanya tanpa mengangkat kepala. “Nanti kuningnya jadi kering.”


Ah Lian mengangguk sambil melanjutkan pekerjaannya.


Di ruang tengah, beberapa kerabat sudah datang lebih dahulu membawa hadiah. Ada kalung bayi kecil, gelang kaki emas, pakaian merah berukuran mungil, serta amplop merah yang mulai menumpuk di atas meja.


Semua orang berbicara lebih pelan daripada biasanya, seolah rumah itu sedang menyesuaikan diri dengan kehadiran manusia kecil baru yang kini menjadi bagian dari keluarga mereka.


Di tengah ruangan, Tan Bun berjalan mondar-mandir sambil menggendong anaknya dengan sikap yang terlalu hati-hati. Wajahnya terlihat jauh lebih tegang dibanding saat hari pernikahan.


“Pegangnya jangan sekaku itu,” kata Ah Lian ketika melewatinya sambil membawa mangkuk. “Nanti dia malah tidak nyaman.”


Tan Bun langsung mengangguk gugup.


Ia tampak lelah, tetapi ada kebanggaan yang sulit disembunyikan dari wajahnya.


Lin Yue yang duduk di sofa hanya menggeleng pelan sambil tersenyum. Wajahnya masih pucat setelah melahirkan, tetapi sorot matanya terlihat jauh lebih tenang.


Ah Lian mendekat dan mencoba mengintip wajah bayi itu.


“Dia mirip siapa?”


“Mirip orang kaya,” jawab Tan Bun cepat.


“Baru lahir sudah sombong,” gumam Ah Lian.


Tawa kecil langsung terdengar di beberapa sudut ruangan.


Bahkan Tan Hwa yang baru naik dari toko di lantai bawah tampak sedikit lebih ringan pagi itu. Ia berdiri di dekat sofa dan memperhatikan bayi kecil yang tertidur pulas dalam kain bedong merah.


Tangannya tampak sangat kecil.


Tan Hwa memandangnya cukup lama sebelum akhirnya berkata pelan,


“Hidungnya mirip Lin Yue.”


Tan Bun langsung memprotes.


“Apanya yang mirip Lin Yue? Jelas mirip aku.”


“Kasihan anaknya,” sahut Ah Lian spontan.


Tawa kembali memenuhi ruangan.


Nyonya Chen yang sejak tadi lebih banyak diam akhirnya angkat bicara.


“Sudah memilih nama?”


Pertanyaan itu membuat suasana berubah sedikit.


Tan Bun menoleh kepada Lin Yue, dan Lin Yue mengusap kepala bayinya perlahan sebelum menjawab.


“Sudah.”


Semua mata langsung tertuju kepadanya.


“Apa namanya?” tanya salah satu bibi.


Lin Yue mengangkat wajah.


“Liem Jin Hao.”


Ruangan mendadak menjadi lebih sunyi.


“Jin yang mana?” tanya seorang kerabat.


“Jin untuk emas,” jawab Lin Yue lembut. “Dan Hao yang berarti besar serta terpandang.”


Tangannya kembali mengusap kain bedong anaknya.


“Aku ingin dia selalu mengingat keluarga tempat dia dilahirkan.”


Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi semua orang di ruangan memahami berat maknanya.

Lihat selengkapnya