Jalan Emas

Akana.T
Chapter #12

Tamu yang Datang Membawa Senyum

Bab 12

Tamu yang Datang Membawa Senyum


Ada emas yang terlihat bersih di permukaan.


Mengilap, halus, dan nyaris sempurna.


Namun pedagang lama tahu bahwa kadang logam paling berbahaya justru yang tidak meninggalkan bekas sama sekali.


Waktu kecil, aku berpikir musuh selalu datang dengan wajah yang mudah dikenali.


Aku baru mengerti kemudian bahwa di dunia toko emas, orang yang paling berbahaya sering datang sambil tersenyum dan membawa hadiah.


---


Pagi mulai mendekati siang ketika sebuah sedan hitam berhenti di depan ruko keluarga Tan.


Suara klakson terdengar nyaring di tengah pagi yang tenang. Tidak banyak orang di kawasan itu yang memiliki mobil sebagus itu, sehingga beberapa tetangga langsung melongok dari balik jendela.


Ah Lian yang sedang membawa baki teh ikut menoleh.


Tan Hwa baru saja hendak turun kembali ke toko di bawah ketika suara klakson pendek terdengar sekali lagi.


Tan Bun berdiri paling dekat dengan pintu. Ia membuka daun pintu sambil masih mempertahankan senyum yang sejak pagi menempel di wajahnya.


Namun senyum itu sedikit berubah saat melihat siapa yang datang.


Seorang pria berusia sekitar empat puluhan berdiri di depan rumah dengan kemeja krem yang rapi dan jam tangan emas tipis di pergelangan tangan kirinya.


Wajahnya ramah.


Di belakangnya, seorang sopir membawa beberapa kotak hadiah dan satu keranjang buah besar.


“Koh Kok Wei,” gumam Tan Bun terkejut.


Pria itu tertawa kecil lalu menepuk bahu Tan Bun dengan akrab.


“Dengar-dengar sudah jadi bapak sekarang. Masa aku tidak datang?”


Ah Lian yang berdiri tidak jauh dari sana langsung merasakan sesuatu mengeras di dalam dadanya.


Di meja makan, tangan Nyonya Chen berhenti tepat di atas keranjang telur merah.


Hanya sesaat.


Namun dari cara jemari tuanya tertahan sebentar, Ah Lian langsung tahu bahwa ibunya mengenali nama itu.


Lim Kok Wei.


Pemilik Toko Emas Surya Indah.


Saingan terbesar toko mereka selama beberapa tahun terakhir.


“Masuk dulu, Koh,” kata Tan Bun cepat. “Tidak usah repot-repot membawa sebanyak ini.”


Kok Wei tersenyum lebar.


“Anak laki-laki pertama Koh Tan Bun jelas bukan hal kecil.”


Ia melangkah masuk sambil mengamati ruangan.


Matanya bergerak cepat menyapu sofa, lemari, pigura keluarga, dan tangga menuju lantai atas sebelum berhenti sedikit lebih lama pada pintu toko bawah yang masih terbuka.


Di sana Tan Hwa berdiri.


Tatapan kedua pria itu bertemu sesaat.


Kok Wei tersenyum lebih dahulu.


“Sudah lama tidak ngobrol santai begini.”


Tan Hwa membalas dengan senyum tipis.


“Kalau terlalu santai nanti orang kira kita sedang tidak punya kerjaan.”


Kok Wei tertawa ringan.


Terlalu ringan.


Seolah kalimat itu memang tidak layak dianggap serius.


Ia mengangguk kecil sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.


Namun entah mengapa, pemandangan itu justru membuat Ah Lian semakin tidak nyaman.


Lin Yue yang mendengar suara tamu akhirnya keluar perlahan dari kamar sambil menggendong bayinya.


Begitu melihat bayi kecil dalam pelukannya, wajah Kok Wei langsung berubah hangat.


“Wah… siapa namanya?”


Lihat selengkapnya