Bab 13
Anak yang Ikut Menyimpan Rahasia
Waktu kecil, aku berpikir keluarga dibangun dari darah dan nama belakang.
Aku baru mengerti kemudian bahwa kadang sebuah keluarga justru terikat oleh rahasia yang mereka kubur bersama.
Dan semakin lama sebuah rahasia disimpan, semakin sulit membedakan siapa yang sebenarnya sedang melindungi keluarga…
dan siapa yang perlahan menghancurkannya dari dalam.
---
Menjelang malam, rumah mulai dipenuhi aroma masakan.
Suara wajan dari dapur bercampur dengan percakapan para kerabat yang masih mengobrol di ruang depan.
Mei Lan berjalan pelan menuju lemari es sambil mengusap hidungnya yang masih sedikit tersumbat. Ia membuka pintu kulkas lalu berdiri cukup lama di depannya, menikmati udara dingin yang keluar.
Tangannya baru hendak mengambil botol air ketika suara Lin Yue terdengar lembut dari belakang.
“Masih haus?”
Mei Lan menoleh lalu mengangguk.
Lin Yue tersenyum kecil sambil mendekat dengan Jin Hao dalam gendongannya.
“Coba sini.”
Tangannya terulur dan menyentuh dahi Mei Lan.
Masih hangat.
Namun tidak separah pagi tadi.
“Sudah lebih enakan?”
“Sedikit.”
Lin Yue mengusap rambut anak itu perlahan.
“Tadi Mama bilang Mei Lan sakit. Kenapa bisa tiba-tiba sakit?”
Mei Lan menjawab tanpa berpikir panjang.
“Karena Mei Lan bantu Papa semalam.”
Dahi Lin Yue langsung berkerut.
“Membantu Papa?”
Mei Lan mengangguk kecil.
“Iya.”
“Membantu apa?”
“Mei Lan—”
Suara Ah Lian tiba-tiba memotong dari arah lorong.
Terlalu cepat.
Terlalu tegas untuk pertanyaan biasa.
Mei Lan langsung menoleh.
Ah Lian berdiri sambil membawa beberapa piring makan.
Senyumnya muncul cepat.
Namun matanya tidak.
“Mama cari-cari kamu dari tadi.”
Ia berjalan mendekat lalu membetulkan kerah baju Mei Lan perlahan.
“Tugas matematika kamu sudah selesai belum?”
Mei Lan tampak bingung dengan perubahan topik yang mendadak.
“Belum…”
“Nanti habis makan Mama lihat.”
Ah Lian lalu menoleh kepada Lin Yue dan tersenyum tipis.
“Apa Jin Hao sudah tidur? Kalau sudah, sempatkan makan dulu. Biar air susunya banyak.”
Lin Yue mengangguk.
“Sebentar lagi.”
Ah Lian membalas anggukan itu lalu menggiring Mei Lan menjauh dari dapur.
Tangannya tetap berada di pundak kecil anak itu.
Hangat.
Namun terlalu erat.
Dan entah mengapa, Lin Yue merasa Ah Lian baru saja menghentikan sesuatu sebelum sempat keluar terlalu jauh.
---
Begitu pintu kamar Mei Lan tertutup, tangan Ah Lian masih memegang erat pegangan pintu itu. Ia berdiri membelakangi kedua anaknya tanpa bergerak. Di telinganya sendiri, ia masih bisa mendengar degup jantung yang berdetak terlalu cepat, seolah tubuhnya baru menyadari bahwa sesuatu yang seharusnya tidak terjadi tadi nyaris terucap begitu saja.
Ia menarik napas panjang dan mencoba menenangkan diri. Udara yang masuk terasa tidak cukup. Ia menelan ludah, memaksa wajahnya tetap tenang, berusaha kembali menjadi ibu yang biasa dilihat anak-anaknya.
Namun saat jemarinya perlahan terlepas dari pegangan pintu, lututnya mendadak kehilangan tenaga.
Tubuhnya jatuh terduduk di lantai sebelum sempat mencapai ranjang.
Kian Seng yang sejak tadi menulis di meja belajar langsung menghentikan tangannya. Ia menoleh dan memandang mamanya dengan bingung. Namun kebingungan itu perlahan berubah menjadi takut ketika melihat Ah Lian menoleh ke arah Mei Lan.
Matanya membesar.
Napasnya tidak teratur.
Wajahnya tampak pucat.
Ah Lian memandang anak perempuannya cukup lama sebelum akhirnya mendekat. Lalu ia berjongkok dan memegang kedua pipi Mei Lan dengan tangan yang sedikit gemetar.
Suaranya gemetar.
“Mei Lan… dengarkan Mama.”
Anak kecil itu diam.
“Jangan pernah bilang kepada siapa pun kalau semalam kamu membantu Papa.”
Mei Lan berkedip pelan.
Ia tidak mengerti.